Buntut Artikel Yang Gegerkan Israel, Wartawan Swedia Diancam Dibunuh

Buntut Artikel Yang Gegerkan Israel, Wartawan Swedia Diancam Dibunuh

Wartawan lepas surat kabar Swedia yang menulis tentang tentara Israel yang menculik warga Palestina untuk diambil organ tubuhnya menerima ancaman akan dibunuh terkait artikel yang ditulisnya itu.

Donald Bostrom yang menulis untuk surat kabar Aftonbladet pada CNN Stockholm mengungkapkan bahwa ia menerima sebuah email yang berisi ancaman “Kaum Nazi harus mati dan Anda akan jadi korban selanjutnya, kami akan mengintai Anda di luar, Anda-lah yang akan jadi berita selanjutnya. Sampai bertemu di luar.”

Menurut Bostrom, ia menulis artikel itu sebagai reaksi atas terbongkarnya sindikat kejahatan penyelundupan organ tubuh manusia di New Jersey. Ia ingin kasus-kasus klaim penculikan organ tubuh yang sudah merebak sejak tahun 1990-an dan masih berlangsung hingga sekarang, diselidiki.

Artikel Bostrom membuat geger Israel. Para pejabat Israel berang dan mendesak pemerintah Swedia mengecam artikel tersebut. Dubes Israel di Tel Aviv, Fredrik Reinfeldt menilai artikel yang ditulis Bostrom adalah artikel yang mengagetkan bagi publik Swedia dan Israel. Tapi ia menolak untuk mengecam tulisan Bostrom dengan alasan negaranya menghormati kebebasan pers.

Sementara itu, dalam wawancara dengan stasiun televisi Iran, Press TV, Bostrom mengungkapkan bahwa artikelnya yang berjudul “They Plunder the Organs of Our Sons” berdasarkan pada hasil riset yang dilakukannya dan pengakuan sejumlah keluarga Palestina yang kehilangan kerabatnya pada era tahun 1992, saat pecah perlawanan Intifada.

Bostrom membantah bahwa artikel itu menuduh tentara Israel yang melakukan pencurian organ tubuh manusia, karena ia hanya mengutip pernyataan dari keluarga-keluarga dan para ibu di Palestina yang menduga bahkan yakin bahwa ada pihak yang mengambil organ tubuh kerabatnya yang tewas di tangan Israel.

Dalam artikelnya, Bostrom mengangkat kasus Bilal Ahmed Ghanem, pemuda Palestina berusia 19 tahun yang tewas ditembak tentara Israel di desa Imatin, Tepi Barat pada tahun 1992. Bostrom yang menyaksikan sendiri insiden penembakan itu mengatakan, bahwa jasad Ghamen dibawa oleh tentara Israel dan dikembalikan ke keluarganya pada tengah malam beberapa hari kemudian. Ketika dikembalikan, di jasad Ghanem terlihat sebentuk luka bekas potongan dari perut sampai leher yang dijahit kembali.

Ibu Bilal, bernama Sadija pada Bostrom mengatakan, tentara-tentara Israel seharusnya bisa menangkap anaknya dan tidak menembaknya. Menurut Sadija, tentara Israel minta uang sekitar 1.300 dollar sebagai tebusan jasad anaknya. Dan ketika sang ibu menanyakan mengapa terdapat sayatan dari perut hingga leher pada jasad anaknya, tentara-tentara Israel hanya mengatakan bahwa mereka melakukan autopsi terhadap jenazah Bilal. Tapi Sadija yakin bahwa tentara-tentara Israel sudah mengambil organ tubuh anaknya.

Bostrom berargumen bahwa alasan autopsi tentara Israel tidak masuk akal karena autopsi hanya dilakukan jika penyebab kematian tidak jelas. Dalam kasus Bilal, kata Bostrom, penyebabnya jelas bahwa Bilal meninggal karena ditembak tentara Israel.

Setelah kasus Bilal, sedikitnya 20 keluarga Palestina mengungkapkan pada Bostrom bahwa mereka mencurigai militer Israel telah mengambil organ tubuh kerabat mereka yang tewas oleh tentara-tentara Zionis. Dalam wawancara dengan Press TV, Bostrom juga mengatakan bahwa ia sudah pernah mengangkat kasus ini dalam bukunya yang terbit tahun 2001 berjudul “The conflict between Israel and Palestine” dan tidak ada reaksi dari pemerintah Israel.

sumber: http://eramuslim.com

%d bloggers like this: