Ramadhan dan Kesulitan Hidup di Gaza

Ramadhan dan Kesulitan Hidup di Gaza

Tidak seperti umat Islam Indonesia yang biasanya sangat boros di bulan Ramadhan, penduduk Gaza menikmati Ramadhan di tengah kesulitan hidup.

Shadi Al-Helo duduk di luar toko ayam bekunya di pasar Al-Zawya, pusat kota Gaza. Ia menghitung berapa banyak pelanggan yang sudah datang selama beberapa hari terakhir, ketika orang-orang biasanya bersiap-siap memasuki bulan Ramadhan.

“Saya hanya kedatangan 6 orang pembeli hari Jum’at pagi, padahal tahun lalu saya kedatangan lusinan pelanggan hanya dalam waktu beberapa jam,” kata Al-Helo. “Sepertinya persiapan Ramadhan kali ini nihil. Orang-orang bokek,” katanya seraya menambahkan bahwa krisis ekonomi melanda negeri itu.

Seperti Al-Helo, banyak pedagang yang berdiri di pintu masuk toko mereka. Barang dagangan langka, seperti halnya pembeli. Harga-harga juga meroket sehingga orang tidak lagi mampu menjangkaunya.

Israel memberlakukan blokade atas wilayah Gaza sejak Hamas menculik prajurit Israel, Gilad Shalit, pada Juni 2006. Blokade semakin diperketat ketika Hamas berhasil menjadi pemegang pemerintahan di Gaza pada Juni 2007.

Negara Yahudi Israel tidak mau membuka blokade, kecuali Shalit dibebaskan dan para pejuang di Gaza setuju untuk melakukan gencatan senjata untuk waktu yang lama.

Ayam beku Al-Helo sekarang ini dijual seharga 25 Shekel (sekitar USD 10) per kilonya. Harga itu tiga kali lipat dari 2 tahun sebelumnya.

“Kami tidak dapat bekerja dengan layak. Dan hidup semakin sulit,” katanya mengeluh, sambil mengambil ayam bekunya untuk dipajang di dekat pintu masuk agar menarik perhatian pembeli.

“Saya harus berjuang untuk menjual barang-barang dagangan ke orang-orang,” kata Al-Helo. “Mereka semua semakin tak berdaya akibat blokade, kemiskinan dan pengangguran.”

Kelompok pemerhati HAM di Gaza mengatakan, tingkat kemiskinan dan pengangguran telah memuncak sejak Israel menutup seluruh tempat penyeberangan niaga di sepanjang perbatasan dengan Jalur Gaza mulai Juni 2007.

Sebagian besar negara Arab memasuki bulan Ramadhan pada Sabtu (21/8). Selama Ramadhan umat Islam menjauhkan diri dari makanan, minuman dan juga rokok mulai fajar hingga  matahari terbenam.

Setelah matahari menghilang, orang-orang dapat menikmati makanan di rumah-rumah mereka yang dihiasi lentera. Orang-orang yang lebih mampu memberi makan orang miskin untuk berbuka puasa. Jadi Ramadhan juga merupakan keceriaan bagi umat Islam.

Namun di Gaza, sulit bagi orang-orang untuk menjalankannya seperti tradisi selama ini, dan merasakan suasana penuh kedermawanan seperti itu. Bahkan sangat sulit untuk sekedar mempertahankan hidup secara layak.

Hakem Owaida, pejabat senior di Kementerian Keuangan pemerintahan Hamas mengatakan, “Jalur Gaza sangat kekurangan pasokan barang dagangan, terutama barang-barang yang dibutuhkan saat Ramadhan.”

“Juga tidak tersedia cukup banyak alat-alat tulis, yang mana menjadi masalah ketika sekolah akan memulai tahun ajaran baru pada bulan September,” katanya menambahkan.

Ketua Kamar Dagang Gaza, Mahmoud Al-Yazji mengatakan, “Harga-harga menyentuh tingkat yang paling tinggi bulan ini karena kurangnya pasokan barang yang dibutuhkan saat Ramadhan, yang biasanya menjadi waktu baik untuk menggairahkan perekonomian.”

Ia mengatakan, departemennya telah mengirimkan surat ke berbagai organisasi internasional, “Mendesak mereka agar menekan Israel untuk memperlonggar blokade dan memperbolehkan masuk barang-barang yang dibutuhkan penduduk Gaza selama bulan Ramadhan.”

“Para pedagang dan pengusaha menderita kerugian besar tahun ini akibat ketatnya blokade,” kata Al-Yazji.

Di sebuah toko mainan anak di Gaza, Abu Sami, penduduk Gaza berusia 44 tahun, bersama dengan istrinya berusaha membujuk penjaga toko untuk menurunkan harga lampu Ramadhan ukuran sedang seharga 30 Shekel. Dua tahun lalu, lentera semacam itu harganya hanya separuhnya.

Lampu-lampu itu dibuat di Mesir, kemudan dimasukkan ke Jalur Gaza lewat terowongan di bawah perbatasan.

Ribuan terowongan digali di bawah perbatasan antara Jalur Gaza dengan Mesir, yang digunakan orang-orang Gaza memasukkan berbagai macam barang dari Mesir.

“Tak bisa saya bayangkan anak-anak akan merayakan Ramadhan tanpa lentera di malam hari,” kata Ummu Sami sang istri. “Kehidupan di Gaza saat ini sangat berat dan kami tidak tahu harus pergi kemana dan apa yang harus dilakukan.”

Untuk membantu mengatasi kesulitan hidup yang dihadapi penduduk Gaza, UNRWA (United Nations for Relief and Work Agency) memutuskan untuk meluncurkan program pemberian makanan selama Ramadhan yang menggunakan dana USD 181 juta.

“UNRWA akan menerima pasokan makanan dari Uni Emirat Arab, Kuwait dan Arab Saudi,” kata Adnan Abu Hasna, jurubicara UNRWA di Jalur Gaza. “Makanan itu akan disalurkan kepada seluruh pengungsi Palestina,” tambahnya.

Namun, masih ada sedikit orang di Gaza yag sanggup membeli banyak makanan dan memberikan sedekah selama Ramadhan.

Hamdi Sheikh Ali, pria 45 tahun seorang pegawai yang bekerja untuk sebuah LSM internasional dengan gaji lebih dari USD 2.000 sebulan mengatakan, ia berencana membeli seekor domba dan membagikannya kepada orang-orang miskin.

“Saya akan memanggil tukang jagal untuk menyembelihnya di gerbang rumah hari Sabtu. Dan kemudian akan membagikan dagingnya dalam kantung-kantung satu kiloan untuk tetangga-tetangga yang miskin,” kata Ali.

Menurut Ali, seekor domba dengan berat 50kg  yang biasanya diselundupkan dari Mesir, dijual dengan harga USD 150 di Gaza. Tapi ia cukup senang karena masih mampu membelinya dan memberikan istri serta ketiga anaknya kesempatan untuk menyaksikan ibadah penyembelihan hewan.

“Saya melakukannya agar mendapat ridha dari Allah untuk keluarga saya,” kata Ali. “Tapi saya tidak akan membeli barang-barang mewah lain untuk menunjukkan kekayaan saya selama Ramadhan.”

sumber: Hidayatullah.com

%d bloggers like this: