Bersiap Menjadi Dewasa

Bersiap Menjadi Dewasa

Ketika Allah memaklumkan capaian takwa sebagai keunggulan paling istimewa dalam kompetisi antar manusia, maka ia akan menjadi ukuran tetap dalam menilai sebuah prestasi hidup. Berbagai produk turunan bernama pilihan aktifitas, haruslah menjadi sarana untuk menuju atau membuahkan takwa itu sendiri, apapun namanya dan bagaimanapun keadaannya. Termasuk pilihan untuk menikah.
Ia bukanlah sekadar melepaskan status lajang yang sering menjadi momok sebab mengesankan keadaan ‘tidak dikehendaki’ atau ‘tidak laku’. Sehingga banyak di antara kita yang menikah tanpa konsep dan visi yang jelas, menjalani kehidupan berumah tangga yang berat dan menyiksa, jauh dari kenyamanan yang menjadi salah satu tujuan utama pernikahan, serta mempertahankan keutuhan keluarga secara membabi buta hanya untuk menghindari komentar negatif perceraian.
Tapi, pilihan untuk menikah mestinya disertai konsep tentang ketakwaan dan keyakinan pencapaian ketentraman yang dirindukan. Juga, ia harusnya menjadi ladang amal shalih yang membentang panjang dan lama, serta menjadi tempat pengglembengan pribadi-pribadi seluruh anggotanya ke arah kebaikan. Jauh lebih baik daripada memilih hidup membujang. Dan bukan malah sebaliknya.
Karena keluarga adalah sumber inspirasi untuk hidup lebih sehat, lebih takwa. Ia menjadi titik tolak dari ide-ide besar tentang hidup dan kehidupan, peletakan akidah dan sejumlah keyakinan, pelatihan berbagai kebiasaan, serta pembentukan kepribadian. Dengan demikian, ia berpeluang besar untuk memuaskan persyaratan dasar hidup bagi manusia. Yang memang diciptakan Allah berpasang-pasangan dan bertabiat sosial.
Nah, salah satu peluang kebaikan yang terbuka lebar pasca pernikahan adalah kesempatan menjadi lebih baik dari hari ke hari. Ini bisa terwujud, salah satunya, dengan berpadunya berbagai karakter dan kepribadian berbeda yang mengayakan dan meluaskan cakrawala pemikiran. Dengan waktu penyesuaian yang nyaris tak berkesudahan.
Karenanya, perselisihan, perbedaan pendapat, hingga aneka konflik yang menyertainya menjadi sebuah keniscayaan yang harusnya diterima dengan lapang dada. Ia bisa menjadi alat penyucian jiwa yang mendewasakan dan membuat kita semakin matang dan bijaksana. Untuk kemudian memiliki bekal yang cukup dalam bermuamalah dengan orang lain di sekitar kita. Terampil menyelesaikan berbagai masalah yang ada sebab sudah terbiasa menghadapi masalah di rumah.
Sejumlah kewajiban kita sebagai suami seperti mengayomi keluarga dan melayani pemenuhan kebutuhan mereka, mengarahkan dan membimbing mereka ke arah kebaikan, mencari rezeki yang halal dan barakah, menentukan macam pendidikan, juga mengkondisikan rumah yang ramah, nyaman, hangat, serta bernuansa ibadah bagi semua penghuninya, jelas, bukanlah perkara yang mudah. Tetapi, bukankah setiap kita adalah pemimpin yang, kelak, akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang kita pimpin?
Faktanya, hidup bersama anggota keluarga dengan akhlak, karakter, sikap, dan perbuatan yang berbeda-beda, jelas sangat menguras emosi. Ada nilai-nilai kepemimpinan dan kekuasaan yang terkandung di dalamnya, ada sejumlah kewajiban yang harus ditunaikan, ada pelatihan bagi jiwa, juga ada komitmen atas janji setia yang dipertaruhkan. Karenanya, sesiapa yang bisa bersabar menghadapi dinamika kehidupan berumah tangga, dia seperti berjihad fii sabilillah.
Kehidupan berumah tangga adalah kehidupan bernilai tinggi sebab ia mengandung nilai dan proses perbaikan diri secara kolektif. Bukan saja merancang perbaikan diri sendiri, kita juga bertanggung jawab atas perbaikan orang-orang yang menjadi tanggungan kita. Sehingga, bersabar atas berbagai persolan yang kompleks, terus menerus serta menguras energi yang luar biasa, jelas sangat bernilai tinggi dan berpahala besar, insyaallah. Ia merupakan kehidupan yang tidak sama dibandingkan dengan seorang bujangan yang sering kali hanya mencari kesenangan pribadi dan bertanggung jawab atas baik buruk diri sendiri.
Kuncinya adalah menghadapi berbagi konflik yang muncul secara bijak, dan bukan menyepelekannya atau malah menghindarinya. Fokus pada solusi terbaik yang bisa diambil daripada saling menyalahkan, terbiasa mengambil hikmah dari kejadian daripada melakukan penyangkalan, serta berdamai dengan diri sendiri, anggota keluarga, serta keadaan yang ada. Karena tidak pernah ada yang salah dengan apa yang dipilihkan Allah untuk kita. Kecuali kita tidak bisa menjadikannya sebagai sarana menggapai ridha-Nya.
Di sini, komitmen untuk berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari, jauh lebih penting daripada masalalu yang mengecewakan atau masalah yang tampak memberatkan. Komitmen untuk menghargai keputusan menikah, bertanggung jawab atas semua kejadian, dan mengasihi mereka seluruh anggota keluara, adalah sebuah keputusan penting yang harus mendapatkan perhatian penuh.
Alih-alih menjadi sumber konflik, anggota keluarga juga memiliki banyak sisi positif dalam penyelesaian berbagai masalah yang ada. Kebersamaan yang ada, dukungan yang selalu tersedia, hingga penghiburan yang murah dan ikhlas, menjadi nilai lebih dan kekuatan yang sangat bisa diandalkan asal kita pandai-pandai mengelolanya.
Kini, siapa yang siap menjadi dewasa dan bijaksana dengan pernikahannya?

%d bloggers like this: