Komitmen Seumur Hidup

Komitmen Seumur Hidup

Keputusan memilih Islam sebagai ‘way of  life’, meski banyak di antara kita terlahir sebagai orang Islam, sebab nenek buyut kita juga adalah orang-orang Islam, tentu bukanlah sikap main-main. Ia harus berasal dari kesadaran sepenuh keyakinan karena pilihan ini akan membawa perubahan besar dalam hidup kita. Kualitasnya di dunia, serta hasil akhirnya di akhirat. Pilihan yang mengejawantah dalam bentuk ubudiyah dalam puncak kecintaan dan ketundukan kepada Allah yang Mahaagung dan Maha Pencipta segala yang wujud di mayapada.

Pilihan ber-islam, adalah pilihan cerdas yang tidak pantas untuk dipermainkan, apalagi disia-siakan. Tidak sepatutnya kita bersantai-santai, bermalas-malas, hingga melakukan diskriminasi atas  tuntutan pengamalannya. Karena, ia bukanlah pilihan bingung yang tidak membawa kepada keyakinan dan kesiapan berkorban untuk mengambil risiko karena telah memilihnya. Ia adalah pertaruhan hidup mati, selamat tersesat, serta bahagia celakanya kita.

Kita tidak bisa berkomitmen kepadanya hanya saat lapang, memiliki waktu luang, kondisi jiwa tenang, serta saat memberikan keuntungan dan kemenangan. Atau hanya ketika kita sakit, terhimpit, serta hidup terasa sulit. Tergopoh-gopoh kita memasrahkan diri kepada Allah pada saat merasa butuh, sedang pada banyak kesempatan yang lain kita bersikap acuh. Tidak! Keislaman kita terlalu agung dan mulia dibanding perlakuan seperti itu.

Karena Islam bukanlah ibarat sebuah klub dimana kita bisa datang dan pergi semaunya bila telah membayar iurannya. Atau semisal panti sosial yang kita kunjungi saat membutuhkannya. Atau seperti rumah sakit yang kita hampiri saat sakit. Yang setelah semuanya normal dan baik-baik saja, kita bergelimang kenikrnatan, kelezatan, dan naungan yang nyaman, boleh meninggalkan dan mengabaikannya.

Seringkali, penyebab lemahnya kita berkomitmen bukanlah karena kurangnya ilmu dan kesadaran akan datangnya kematian. Namun, ia muncul sebagai buah lemahnya iman dan cinta akan dunia yang berlebihan. Sebuah kerusakan di dalam kalbu, bukan di akal belaka! Maka terapinya adalah memperhatikan kebersihan kalbu dari berbagai kotoran dan mengobati berbagai penyakitnya itu.

Kita tidak ingin mendahulukan kelezatan sesaat dan kesenangan semusim di dunia, serta mencari kegembiraan sementara, dengan membayar kesedihan sepanjang masa di akhirat sana. Menceburkan diri ke dalam sumur maksiat dan keinginan rendah lagi hina, dengan berpaling dari ketaatan dan cita-cita mulia. Kita tidak ingin berada di bawah tawanan setan, di lembah kebingungan, dan terbelenggu di dalam penjara hawa nafsu.

Maka, memilih menjadi seorang muslim adalah ujian di atas ujian. Ia butuh mujahadah yang serius dan keteguhan yang utuh untuk menghadapi semua konsekwensinya. Ialah sebenar-benar sarana kita mengabdi kepada Allah, yang kita tidak akan pernah melepaskan pegangannya kecuali bersamaan dengan nafas terakhir yang keluar dari diri kita. Ya, hingga kematian datang menjemput kita!

Sebuah komitmen seumur hidup!

%d bloggers like this: