Cerdas dengan Indera Pendengaran

Cerdas dengan Indera Pendengaran

Mata adalah jendela hati dan pikiran, apapun yang memasukinya berpengaruh terhadap keduanya. Tak terkecuali ilmu. Membaca yang merupakan aktivitas mata seringkali diidentikkan dengan ilmu. Ini tidaklah salah. Namun harus diakui, mata hanya salah satu pintu yang memungkinkan ilmu. Juga hanya satu indera yang darinya keburukan juga bisa menerobos dan menodai keyakinan hati dan pikiran.

Masih ada indera lain yang tak kalah urgen, yakni indera pendengaran. Bahkan, tidak mudah untuk langsung disimpulkan bahwa indera mata lebih penting dari pendengaran. Pada beberapa sisi, pendengaran memiliki nilai lebih dibanding penglihatan. Mata hanya mampu melihat benda yang ada di hadapan saja, sedangkan telinga mampu mendeteksi suara dari segala arah.

Pendengaran juga lebih siaga setiap saat dibanding penglihatan. Mata tak mampu mendeteksi apa-apa saat manusia tertidur. Berbeda halnya dengan pendengaran, ia tetap berfungsi meski kesadaran manusia diambang titik nol lantaran lelap tertidur. Ketika itu, telinga tetap peka terhadap suara. Dengan sebab ini, kita akan mudah terbangun dari tidur begitu mendengar suara alarm atau yang lain.

Kita juga bisa membandingkan efek dari orang yang tidak sempurna pendengarannya dengan orang yang tuna netra. Meski tanpa disuguhkan data pembanding yang valid, pengalaman menunjukkan, bahwa orang yang hafal al-Qur’an dari kalangan tuna netra lebih banyak dibandingkan penghafal dari kalangan tuna rungu. Kita juga lebih sering mendengar adanya ulama senior yang tuna netra katimbang ulama yang tuna rungu.

Begitulah kelebihan pendengaran bila dibandingkan dengan indera penglihatan.

Al-Qur’an Menyebut Pendengaran Sebelum Penglihatan

Ketika ayat-ayat menyebutkan nikmat pendengaran dan penglihatan, hampir seluruh ayat mendahulukan pendengaran dibanding penglihatan. Hanya satu tempat saja di mana penglihatan lebih didahulukan dari pendengaran. Yakni dalam firman-Nya,

“Wahai Rabb Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin.” (QS. as-Sajdah: 12)

Selebihnya, banyak sekali ayat yang menyebutkan pendengaran sebelum penglihatan. Seperti dalam firman-Nya,

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl: 78)

Bisa jadi karena pendengaran lebih dahulu berfungsi daripada penglihatan. Dan bisa jadi pula pendengaran memiliki manfaat lebih dibanding penglihatan.

Dari urutan fungsi, pendengaran lebih dahulu berfungsi dibanding penglihatan. Karenanya, bayi yang baru lahir umumnya langsung peka terhadap suara, sedangkan penglihatan berfungsi setelah sekian hari lamanya. Bahkan banyak peneliti menyebutkan, bahwa janin di rahim ibu sudah peka terhadap suara, sedang mata belum berfungsi apa-apa.

Belajar dari sumber ilmu syar’i, al-Qur’an dan al-hadits juga ditransfer pertama melalui pendengaran sebelum ditulis dan menjadi tulisan yang bisa dibaca. Ketika wahyu pertama turun, Jibril mengejakan kepada Nabi, “iqra’!”, bacalah, yakni menirukan bacaan yang beliau dengar dari Jibril, bukan membaca sesuatu yang ditulis oleh Jibril AS.

Begitupun dengan hadits Nabi SAW. Para sahabat belajar kepada Nabi SAW dengan mengandalkan pendengaran dan hafalannya, bukan dengan catatan atau buku yang bisa dibaca.

Pun begitu, mereka adalah para penghafal terbaik, dan Nabi SAW memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menyampaikan hadits yang mereka dengar. Beliau SAW bersabda,

<h6>أَلاَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِب</h6>

“Ingatlah! Hendaknya di antara kalian yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir!” (HR. Bukhari)

Seperti Abdullah bin Abbas RA, yang masih berusia 10 tahun saat Nabi SAW wafat, beliau mampu menghafal dari apa yang beliau dengar dari Nabi SAW sebanyak 1660 hadits. Begitupun dengan sahabat-sahabat yang lain.

Optimalkan Pendengaran Untuk Belajar

Tradisi belajar dengan mengoptimalkan pendengaran ini terus dilestarikan oleh ulama-ulama ternama setelah generasi sahabat hingga kini. Meski banyak perkembangan dari sisi cara belajar maupun menghafal, pun tradisi ini masih tetap tidak bisa dihilangkan.

Banyak ulama yang lebih mengandalkan pendengaran dan hafalan saat berada di majlis ilmu. Seperti Imam at-Tirmidzi, beliau mendengarkan hadits di majlis ilmu, namun mencatatnya di luar majlis, atau bahkan saat beliau dalam perjalanan.

Abu al-Barakat, kakek dari Ibnu Taimiyah, atau sering dipanggil dengan Ibnu Taimiyah al-Jadd, betul-betul memanfaatkan pendengarannya untuk belajar. Tak jarang ketika beliau hendak masuk WC, beliau menyerahkan buku kepada anaknya dan berkata, “Baca di halaman ini dengan keras, agar aku bisa mendengarnya dari dalam.”

Subhanallah, begitulah cara beliau menghargai waktu dan mengoptimalkan indera pendengaran untuk belajar.

Hari ini, seiring dengan kemajuan teknologi, tentu ada cara yang lebih praktis untuk dilakukan, banyak pula sarana yang lebih canggih untuk dipergunakan. Ada rekaman, kaset, MP3, MP4, Tape recorder dan banyak lagi yang lain, tapi mengapa hafalan dan pengetahuan tidak sehebat mereka?

Memang faktornya bukan semata-mata sarana dan peralatan. Tapi lebih pada kemauan, penghargaan terhadap nilai ilmu dan waktu, juga tingkat kesyukuran atas segala nikmat yang Allah berikan.

Jika mau, kita bisa menggunakan semua alat tadi untuk mendengarkan tartil al-Qur’an berulang-ulang kapanpun kita menginginkan, sehingga hafalan lebih mudah didapatkan. Tidak pula membutuhkan pengorbanan yang begitu berarti untuk bisa mendengarkan rekaman ceramah dari para ustadz tentang kajian ilmu syar’i yang berfaedah. Bahkan kita bisa saja merekam sendiri suara kita, baik ayat-ayat yang mau kita hafalkan, maupun hadits dan kitab-kitab yang perlu untuk dihafal. Kita bisa meluangkan waktu secara khusus, bahkan banyak sekali aktivitas harian yang bisa kita iringi dengan suara tartil, ceramah maupun hafalan hadits.

Tapi sayang, seringkali sarana yang ada kerapkali justru menjadi alat menghamburkan waktu, bahkan sarana untuk bermaksiat kepada Allah. Padahal, kelak pendengaran kita akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. al-Isra’: 36)

Memanfaatkan pendengaran untuk menangkap sumber-sumber ilmu dan hal-hal yang berfaedah, juga menjauhkannya dari suara-suara yang sia-sia dan mengandung dosa adalah bukti syukur kita kepada Penciptanya. Sekaligus menjadi cara efektif meraih derajat tinggi dalam hal ilmu. Allahummaj’al fi sam’ina nuuran, ya Allah, jadikanlah cahaya pada pendengaran kami. Amien. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: