Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

Idealnya kita harus percaya diri bahwa Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih, tinggi dan tidak ada yang melampauinya. Islam memiliki segala nilai yang sempurna serta seluruh ‘software’ terbaik untuk menjalani kehidupan dalam kemuliaan sehingga kita tak perlu melirik pada yang lain, karena yang lain pasti tidak lebih baik. Lebih-lebih pada umat yang  kufur terhadap risalah ini.

Tapi nyatanya, idealisme semacam tidak mudah kita wujudkan kala terbentur kenyataan bahwa hari ini, umat ini memang mengalami banyak kemunduran dalam berbagai bidang, terlebih soal teknologi dan sains dan kesejahteraan finansial. Padahal hari ini, penentu figuritas atau siapa yang layak diteladani bukanlah spiritualitas bahkan moralitas pun bukan. Yang dituhankan di  abad ini adalah materi. Karenanya, predikat masyarakat atau negara maju dan karena maju mereka banyak ditiru, tidak disematkan kepada masyarakat yang memiliki aktivitas religius yang kental atau sebuah masyarakat yang masih menjaga keluhuran moral.Justru masyarakat dengan tipikal di atas akan dijadikan masyarakat tersuaka, aset wisata bagi yang ingin melihat seperti apa kehidupan masyarakat pedalaman. Gelar itu milik negara yang punya teknologi maju dengan instrumen hidup yang serba canggih, sistem negara yang rapi dan memiliki kesejahteraan finansial yang tinggi.Malangnya kini yang memiliki semua itu adalah orang-orang kafir. Merekalah kini yang berjalan di karpet merah, dikagumi dan diteladani umat manusia, termasuk umat Islam. Kiblat manusiapun mengarah pada mereka dan semua yang berasal dari mereka seakan terlabeli dengan “modern”, apapun wujudnya tak terkecuali budaya dan gaya hidup mereka.

Ada yang membela diri, ““Apa salahnya meniru orang barat -meskipun kafir- dalam hal teknologi dan ilmu pengetahuan, bukan dalam hal agama.” Memang tidak salah meniru teknologi mereka, yang salah adalah realitanya yang banyak ditiru dan diadopsi bukan kemajuan sainsnya tapi gaya hidup dan budaya mereka. Meskipun sains dan teknologi adalah inti dari kemajuan mereka, tapi ini tidak mudah ditiru. Ada banyak aspek yang dibutuhkan untuk menirunya mulai dari karakter individu semacam kedisiplinan dan keseriusan, hingga dana dan juga proses yang lama. Padahal syahwat untuk bisa mirip dengan orang-orang di negara maju nan modern sudah tak terbendung. Dan meniru budaya tak serumit meniru teknologi. Cukup dengan meniru gaya berpakaian, makan, berperilaku dan bahkan berpikir, orang sudah bisa terlihat mirip orang dari negara modern.

Dan begitulah, banyak diantara kita yang sering latah dan meniru begitu saja kehidupan orang-orang yang kita anggap maju itu. Jika orang barat karena kesibukannya suka mengonsumi makanan instan, tak sedikit diantar kita yang bergaya hidup instan meski kesibukan belum seberapa. Jika mereka –karena tidak mengenal Islam- biasa berpakaian minim, para wanita kita pun meniru begitu saja. Kebiasaan mereka mengkonsumsi minuman keras pun menjadi trend di tengah kita. Wine atau minuman beralkohol sejenis anggur kini menjadi gaya hidup yang digemari dan dianggap berkelas. Saat di barat muncul kelompok punk, lihatlah tak berapa lama disekitar kita, di perempatan jalan dan lampu merah bermunculan gerombolan anak-anak belia dengan pakaian aneh dan kumal yang menamakan diri punk. Pemandangan yang menyedihkan jika mengingat masa kecil mereka di saat orangtua mereka sering bertanya, “Besok besar mau jadi apa, nak?”

Yang lebih parah dari semua itu ketika umat Islam sudah mulai mengekor dan selalu mengaca kepada orang barat dalam cara pandang, logika berpikir dan memahami agama. Bagi orang kafir, rasio adalah penentu mana benar mana salah. Di tangan mereka, agama pun diatur oleh rasio hingga selalu berubah-ubah dan hilang otentitasnya. Tapi kita lihat, tidak sedikit orang-orang yang dianggap sebagai cendikiawan Islam terlihat begitu gandrung dengan cara pandang dan metode orang-orang kafir dalam memahami agama dan kitab suci mereka. Kesan ilmiyah hanya bisa didapat jika mampu menukil teori-teori dari manusia yang tak pernah menganggap Allah sebagai Ilahnya dan Muhammad sebagai Nabinya itu.

Keterkaguman yang memprihatinkan dan kecintaan yang menyedihkan. Mengapa menyedihkan? Karena cinta kita kepada orang-orang dari negara maju itu, kekaguman kita pada mereka dan latah kita untuk meniru apapun yang mereka lakukan adalah cinta yang tidak hanya bertepuk sebelah tangan tapi berbalas kebencian. Karena sedikitpun mereka tidak pernah mencintai kita bahkan sekedar ingin meniru kita pun tidak. Yang ada pada mereka terhadap kita, umat Islam, adalah kebencian dan hasrat ingin menihilkan Islam dari muka bumi. Ini bukan provokasi, tapi sebuah hakikat yang harus kita sadari karena penuh dengan berjuta berkas bukti. Nestapa tiada akhir yang menimpa muslim palestina, porak-porandanya kehidupan muslimin Irak dan afghanistan, pelecahan kartun Nabi yang terjadi berulang-ulang, stigma teroris, penyebaran racun-racun liberalisme yang merusak akidah, dan ekspose budaya-budaya yang merusak moral yang kemudian kita tiru dan masih banyak yang lain, adalah file-file bernoda darah akibat kebencian mereka.

Kalau masih menganggap ini adalah provokasi, mari kita renungi bersama firman Allah berikut ini:

هَاأَنتُمْ أُوْلاء تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya…” (QS. Ali Imran;119).

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.”(QS Al-Baqarah:217)

Imam Mujahid menjelaskan, “Bagaimana bisa kalian mencintai mereka, padahal mereka tidak mencintai kalian, kalian beriman kepada kitab-kitab; injil, taurat dan al Quran sedang mereka kafir terhadap semua kitab itu.” (Bahrul Ulum, as Samarkandi;I/305).

Selain itu, dibalik kemegahan materi yang mereka pamerkan, ada sisi gelap berupa rusaknya moral dan spiritual karena jauhnya mereka dari cahaya kebenaran.Dua hal yang pada akhirnya akan membuat kemajuan teknologi menjadi tak berarti. Soal anjloknya moral mereka tak bisa menutupi dan memang mereka tak pernah berusaha menutupi agar kita mengikuti.

Nah, setelah ini adakah kita masih silau dan tetap terpukau? Padahal di dada kita telah ada permata yang tak ternilai harganya? Kalau permata Islam kita terlihat redup dan kusam, mungkin karena kitalah yang membiarkannya tertutup debu dan sawang-sawang kekaguman pada yang lain. Jika demikian, berarti sekarang waktunya bersih-bersih. Wallahua’lam. (T. Anwar)

%d bloggers like this: