Empat Derajat Wara’

Empat Derajat Wara’

Ada seorang wanita shalihah berkonsultasi kepada Imam Ahmad Bin Hanbal. Dia menceritakan sekelompok kafilah singgah di dekat rumahnya. Mereka mendirikan tenda dan membuat api unggun untuk melawan dingin. Pada malam itu, kebetulan ia sedangmenjahit pakaian pesanan. Sebenarnya kejadian itu sudah berlalu. Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal hatinya. Ia merasa memanfaatkan fasilitas yang bukan miliknya. Apa itu? Ternyata cahaya dari api unggun yang dibuat kafilah.

Secara tidak langsung sinar api unggun membuat pekerjaanya lebih mudah. Karena itu ia menanyakan, “Apakah saya boleh menggunakan upah saya menjahit pakaian di malam tersebut?”. Pertanyaan yang sangat unik dan jarang dikemukakan. Imam ahmad pun balik bertanya untuk mengetahui identitas wanita `afifah tersebut. “Siapakah kamu?” tanya Imam Ahmad. “Saya adalah fulanan binti fulanah dari keluarga si fulan.” wanita itu menyebutkan bahwa nasabnya dari keluarga orang shalih. “Kalau begitu, khusus untuk kamu, jangan!” jawab Imam Ahmad.

Sebenarnya Imam Ahmad bisa memberi fatwa ‘boleh’. Bahkan tidak perlu mencari kafilah yang sudah pergi guna membayar ‘ongkos’ nyala api yang masuk ke ruangannya. Tapi, setelah tahu bahwa wanita tersebut berasal dari keluarga yang shalih dan menjaga sifat wara’ jawabannya berubah. Tidak aneh jika Imam Ahmad berfatwa demikian karena beliau terkenal menjaga wara’.

Wara’ bisa digambarkan sebagai usaha menahan diri dari yang diharamkan Allah SWT. Sehingga hati merasa risih jika menemui sesuatu yang terlarang atau ‘meragukan’. Wara’tumbuh karena menyakini bahwa semua hal yang kita gunakan dan manfaatkan harus bersih dan halal. Karena itu, setiap makanan-minuman yang dikonsumsi, harta benda dan pakaian yang dikenakan selalu diperhatikan asal usulnya. Apakah dari jalan yang halal atau haram?

Dari Abu Hurairah RDL yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah SWT maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sungguh, perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman sama dengan perintah-Nya kepada para nabi. Dia berfiman ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (al-Mu’minun: 51)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Kemudian menyebutkan ada seseorang yang berjalan jauh, rambutnya kusut berdebu, dia mengangkat tangan ke langit (berdoa). ‘Ya rabbi… ya rabbi…’. Padahal, makanannya haram, minumanannya haram dan pakaian yang dikenakannya haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim)

Wara’ juga berarti cara memelihara kesucian diri. Karenanya, perintah ini berlaku untuk semua orang tanpa kecuali. Tidak benar jika wara’itudikatakan sebagai derajat tinggi yang hanya dimiliki oleh orang-orang shalih atau maqam khususpara wali. Bukankah perintah Allah SWT kepada para nabi dan ummatnya adalah sama? Hadits diatas menegaskan demikian.

Baik merasa atau tidak, ada sikap wara’ dalam diri semua orang. Hanya saja, tingkat dan kadarnya berbeda-beda. Orang yang memiliki tingkat pemahaman ulumuddin yang dalam dan iman yang kuat tentu lebih mampu menjaga sikap wara’ daripada orang jahil.Karena itu, Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qasidin mengelompokkan orang ke dalam beberapa tingkatan wara’.

Pertama, Menjauhi yang haram dan mengambil yang halal.

Ada  kaitan erat antara makan-minum yang halal dengan kualitas keimanan. Jika seseorang merasa bahwa doanya tak kunjung dikabulkan atau keinginan yang tak kunjung terwujud. Bisa jadi hal itu adalah pengaruh makanan haram yang masuk ke lambungnya.

Saad bin Abi Waqqas dikenal sebagai sahabat Nabi SAWyang paling manjur doanya? Hal itu adalah buah dari wara’. Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah menyuapkan makanan ke mulutku. Kecuali aku tahu dari mana makanan itu datang?”

Sungguh benar ucapan para istri salafus shalih sesaat sebelum suaminya pergi bekerja. “Setiap kali menyusui anak kita, aku dalam keadaan suci dengan berwudhu. Karena itu janganlah menyuapi kami dengan makanan haram. Sungguh, kami bisa sabar menahan lapar daripada menahan panasnya api neraka.”

Kedua, Menjauhi syubhat.

Syubhat adalah hukum antara halal dan haram atau kondisi dimana halal bercampur dengan yang haram sehingga menimbulkan keraguan. Karena itu, Imam Ahmad mengatakan, “orang yang meninggalkannya berarti telah menyelamatkan agamanya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga,meninggalkan hal mubah yang dapat berubah menjadi haram.

Sifatini merupakan tanda kesempurnaan takwa.Perlu diperhatikan, bahwa perkara mubah jika dilakukan berlebihan dapat melalaikan dari ibadah wajib. Karena itu, cara ini sering digunakan setan dalam menjauhkan manusia dari hidayah. Ketika manusia tidak mempan saat dibisikkan kekafiran. Juga tidak bisa digoda dengan bidah, dosa besar lalu dosa kecil. Setan menggodanya dengan hal mubah. Banyak yang tak merasa jatuh dalam perangkapnya karena menganggap bahwa yang dilakukannya bukan dosa.

Kadang patokan melakukan sesuatu bukan hanya dosa atau bukan dosa. Unsur manfaat juga perlu diperhatikan. Sehingga, sebelum melakukan sesuatu bertanyalah di hati, “Apa manfaatnya bagi agama saya?”

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Bersabda Rasulullah SAW,  “Di antara baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” (HR. at-Tirmidzi)

Keempat, Menghindari semua yang bukan karena Allah SWT.

Menurut Yahya bin Muadz, wara’ adalah kombinasi amalan dhalir dan batin. Adapun dhahir yaitu tidak menggerakkan anggota tubuh kecuali untk Allah SWT. Sedangkan batin, yaitu menjaga hati dari keinginan selain Allah SWT.

Misalnya para sahabat Nabi SAW. Allah SWT memberi mereka harta dunia yang melimpah. Tapi, materi tersebut hanya ada di tangan, tak sampai masuk ke hatinya. Bahkan penampilan merekapun tak menandakan kemasyhuran orang kaya. Dalam suatu kisah disebutkan  bahwa ada orang yang mengira Abdurrahman Bin Auf sebagai budak. Sebab, saat beliau berada diantara budaknya, penampilan mereka tak bisa dibedakan.

Inilah gambaran sempurnasifat wara’. Sungguh, beruntung orang  yang dapat menjaganya, karena sifat ini merupakan ciri para nabi dan orang shalih. Karena itu, semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.

%d bloggers like this: