Kekuatan Ilmiyah dan Kekuatan Amaliyah

Kekuatan Ilmiyah dan Kekuatan Amaliyah

Prestasi hamba di sisi Allah, bergantung kepada dua hal; tingkat pengetahuannya dalam mengenali kebenaran dan kebathilan, juga tingkat aplikasinya dalam mengutamakan kebenaran dibanding kebathilan. Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyebutnya dengan quwwatul ilmiyyah dan quwwatul ‘amaliyyah, kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Dengan dua parameter ini, manusia terpetakan menjadi empat kriteria, meski masing-masing juga masih mungkin posisinya naik turun, tergantung fluktuatisi ilmu dan amalnya.

Empat Tingkatan Manusia

Yang paling rendah derajatnya adalah orang yang buta terhadap kebenaran, tidak pula memiliki andil amal dalam kebenaran. Wawasan mereka hanya sebatas dunia yang fana, langkahnya hanya mengikuti kemauan nafsu belaka. Tak ada tanda-tanda kehidupan dalam hatinya, tak ada bekas-bekas kebaikan dalam perialkunya. Tak ada faedah bergaul dengan mereka, selain bertambah pekak kedua telinga, dan buta mata hatinya dari kebenaran.

Lapisan berikutnya, ada yang memiliki semangat untuk beramal dan tekad untuk berbuat, tapi lemah pengetahuannya tentang kebenaran.  Kondisi mereka bertingkat-tingkat, dari yang paling ringan, hingga paling parah. Ada yang tingkat pengetahuannya terlalu global. Ada juga yang tak mampu membedakan dua hal yang berbeda, atau bahkan berkebalikan. Setiap yang hitam disangkanya batu, segala yang berwarna putih disangkanya susu. Pengetahuan mereka juga rabun untuk membedakan antara wali Allah dengan wali setan, antara sunnah dengan bid’ah antara kebaikan dengan keburukan. Hingga karena tipisnya pemahaman, ada yang berbuat dosa dengan niat lillahi Ta’ala.

Peringkat selanjutnya adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang kebenaran, tapi lemah dalam merealisasikannya, begitupun untuk mendakwahkannya. Tidak ada sinergi antara ilmu dan amalnya. Tingkat ibadah dan keshalihannya tidak sepadan dengan ilmu yang disandangnya. Mereka dipetakan sebagai orang alim selagi dalam batasan teori, dan belum ada tuntutan amal. Tapi, posisinya akan segera berubah menjadi orang awam atau bahkan menjadi bodoh begitu datang tuntutan untuk mengamalkannya. Karena saat itu, hawa nafsu memisahkan diri dari ilmu. Nas’alullahal ’aafiyah.

Tingkatan Paling Mulia

Yang paling tinggi derajatnya di antara manusia adalah; yang memiliki kekuatan ilmiyah, juga kekuatan untuk mengamalkannya. Para Nabi dan Rasul adalah representasi paling utama dalam tingkatan ini. Selanjutnya disusul dengan orang-orang yang setia mengikuti jejak mereka. Allah memuji Para Rasul-Nya dalam firman-Nya,

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami; Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (QS Shad 45)

Ilmu yang dimaksud adalah al-basha-ir fid dien, mereka memiliki pemahaman yang sempurna dalam urusan agama, dan mereka juga sempurna dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Di kalangan pengikut Nabi, tak ada yang mampu meraih derajat imamah fid dien, melainkan orang yang memiliki dua kekuatan ini, baik ilmiyyah maupun amaliyyah. Allah berfirman,

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS as-Sajdah 24)

Keyakinan yang benar hanya terwujud dengan ilmu yang benar, kesabaran yang tinggi baru teruji setelah banyak berbuat dan berkorban di atas jalan kebenaran.

Puncak inilah semestinya yang menjadi harapan para pemburu cita-cita, pemilik jiwa-jiwa nan mulia. Posisi di mana ilmu dan amal mencapai titik di atas rata-rata manusia, atau di titik yang mendekati sempurna.

Di titik ini pula, seseorang akan mampu eksis dan istiqamah. Tidak goyah oleh godaan dan bujukan, tetap tegar menghadapi gangguan dan rintangan. Sebagaimana disinyalir dalam hadits Nabi saw,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِى ، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّه

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman pada orang itu dalam masalah agama, Sesungguhnya aku hanya bisa membagi, sedangkan Allah lah yang memberi. Dan umat ini akan terus istiqamah dalam menegakkan perintah Allah, orang-orang yang menyelisihi mereka  tidak akan membahayakannya, hingga datangnya keputusan Allah”. (HR.Bukhari)

Dari Mana Percepatan Dimulai?

Untuk mencapai titik yang kita harapkan, perlu dipetakan terlebih dahulu, di mana posisi kita di antara empat kriteria yang ada. Jika ternyata amal masih lebih rendah dari ilmu, amal harus lebih dipacu. Jika amal telah sinergi dengan ilmu, maka biidznillah ilmu akan bertambah. Seperti yang dikatakan para ulama, “barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang dimilikinya, maka Allah akan membukakan pintu (tambahan) ilmu yang belum dia ketahui.” Ini juga sesuai dengan kaedah bahwa syukur nikmat akan mengundang datangnya tambahan nikmat, sedangkan bentuk syukur terhadap ilmu adalah dengan mengamalkannya. Maka barangsiapa yang mengamalkan ilmunya, niscaya Allah akan menambah ilmu kepadanya.

Ketika amal dipacu mengiringi ilmu, maka ilmu akan berkembang. Jika amal mengejar lagi, maka ilmu akan meningkat lagi. Begitulah seterusnya hingga kita posisi mendekati puncak dalam hal ilmu dan amal. Allahumma arina al-haq haqqan, war zuqnit tiba’ahu, wa arina al-baathil baathilan, war zuqnaj tinaabahu. Ya Allah, tunjukkanlah yang benar tampak benar, dan berilah kami kekuatan untuk menjalankannya. Dan tunjukkanlah kepada kami, yang bathil tampak bathil, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya. Amien. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: