Ketika yang Tabu Dianggap Lucu

Ketika yang Tabu Dianggap Lucu

Dalam stategi pemasaran, packaging atau pengemasan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap laris tidaknya suatu produk. Kemasan yang baik dapat membentuk citra positif sebuah produk dan meningkatkan minat beli konsumen.Dengannya pula, produk yang biasa-biasa bisa menjadi sangat diminati. Lebih dari itu, kemasan dapat pula menipu, sebenarnya produk kualitas jelek, tapi tetap laku karena kemasan yang bagus.

Dalam memasarkan kemaksiatan dan produk-produk perusak iman, tipuan packaging juga menjadi strategi andalan Iblis wadyabalanya.Tazyinul ma’ashi adalah teknik mengemas maksiat agar terlihat baik atau minimal wajar hingga bisa diterima pasar.

“Iblis berkata:”Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya…” (QS. Al Isra’:39)

Maksiat yang dikemas dengan unik dan cerdas akan tetap dibeli manusia, bahkan bisa laris.Tentunya, tipuan kemasan ini ditujukan untuk segmen manusia yang masih memiliki filter ruhani. Adapun pecandu maksiat, tak perlu dikemas dengan indah pun mereka akan mengais-ais dan mencarinya sendiri.Tapi bagi yang masih memiliki saringan fitrah dan iman, kemasan diperlukan untuk membiaskan persepsi dan menutupi bau busuk dosa yang sebenarnya sangat menusuk. Dengan begitu, mereka akan tertipu dan menerimanya.

Ambil contoh, pornografi dan pornoaksi. Jika dijual dalam bentuk apa adanya, pasar tidak akan menerima secara luas,bahkan rawan menimbulkan kontra. Namun, hal itu tidak akan terjadi jika dibungkus dengan kemasan unik nan lucu bernama “komedi”. Komedi dapat mengaburkan kesan mesum dan menurunkan levelnya menjadi sesuatu yang akan dianggap orang sebagai “sekedar lucu-lucuan”, tidak terkesan dewasadanmengundang syahwat sertatak perlu dirating 18+.

Sebuah film misalnya. Jika diformat komedi dengan judul jenaka dan akting konyol, penampilan seronok dan adegan menjurus akan dianggap biasa dan tidak porno oleh penonton. Seakan-akan komedi mampu menumpulkan sensitivitas terhadap kepornografian. Orangtua pun anteng-anteng saja jika anak-anak menontonnya. Lain halnya jika diformat mendewasa, dengan judul yang lebih “greng” dan cover yang ‘panas’. Meskipun bisa jadi kandungan pornografi di dalamnya lebih sedikit, tapi tanggapan orang akan berbeda. Ada kemungkinan muncul protes dan kritikan, atau minimal mereka akan meng-kotak-kan film tersebut dalam daftar film yang perlu diwaspadai untuk anak-anak. Padahal dari segi isi dan substansi, keduanya sama.Namun ternyata dengan kemasan berbeda tanggapan yang diperoleh juga berbeda.

Untuk lucu-lucuan, pornoaksi bahkan mungkin pelecehan seksual secara verbal maupun tindakan,malah bisa menjadi bumbu yang membuat sajian komedi lebih gurih. Guyonan seronok ala talkshow maupun tingkah polah presenternya yang mesum justru menjadi aksi yang digemari. Alih-alih menuai kecaman, justru hadiah tepuk tangan dan sorak sorailah yang didapatkan.

Fenomena Banci

Contoh kedua adalah fenomena banci. Popularitas artis dengan karakter banci sepertinya kian naik daun. Dalam banyak acara mereka selalu ada dan jika jadi presenter laris manggung dimana-mana. Anehnya, ternyata banci bukan sekadar peran saat akting saja, tapi tidak sedikit artis yang tetap menjadi banci meksi tidak sedang akting. Ada beberapa kemungkinan, pertama image banci memang sengaja tetap dipasang  dalam kehidupan nyata demi pencitraan diri agar para produser tahu, ia mahir karena melakukannya saban hari. Kedua, dia mengalami disorientasi seksual dan menganggap dirinya adalah wanita, atau biasa disebut gay.Ketiga, kemayu adalah bawaannya dari lahir, artinya karakter itu muncul sejak kecil tanpa dibuat-buat.

Kemungkinan ketiga ini jarang terjadi. Kelainan ini dalam Islam disebutmukhannats, yaitu perilaku anak lelaki yang mirip seperti wanita atau kemayu yang muncul sejak kecil. Secara hukum fikih, orang yang mengalami semacam ini tidak terkena delik hukum apapun. Hanya saja ia harus berusaha sekuat tenaga menghilangkan hal tersebut dan mengganti tingkah lakunya agar lebih normal sebagaimana lelaki pada umumnya.

Tapi untuk pertama dan kedua, semuanya adalah perilaku terlaknat. Rasulullah bersabda,

لَعَنَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَالْمُتَشَبِّهِِيْنَمِنَالرِّجَالِبِالنِّسَاءِوَالْمُتَشَبِّهَاتِمِنَالنِّسَاءِبِالرِّجَالِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki” (HR Al Bukhari 55460).

Peran banci adalah peran yang dilaknat, lebih-lebih jika dijadikan gaya hidup sehari-hari. Menjadi gay alias homo lebih terlaknat lagi. Kerasnya ancaman Allah bagi mereka berulangkali dikisahkan dalam ayat-ayat kehancuran kaum Nabi Luth.

Tapi lagi-lagi, dalam kemasan komedi, kedurhakaan semacam itu seperti tak tampak. Penonton pun sepertinya maklum-maklum saja dan menikmati. Mereka sudah terbiasa nonton TV dan sudah terbiasa berpersepsi bahwa karakter dalam TV termasuk banci itu cuma peran, bukan sungguhan. “Mereka Cuma berniat menghibur dan menghibur kan dapat pahala”, katanya. Lagi-lagi dengan komedi perbuatan terlaknat justru diminati dan bahkan dipandang layak mendapat pahala. Ironis.

Layak dicurigai bahwa pesatnya perkembangan komunitas gay (kaum homo) di negeri ini juga akibat dari diterimanya karakter banci oleh masyarakat. Jika mereka sudah terbiasa dengan peran banci, maka selanjutnya masyarakat juga tidak akan terlalu shock saat melihat keabnormalan itu wujud dalam dunia nyata. Kepekaan iman bahwa yang semacam itu adalah sebuahkemaksiatan pun lenyap. Akibatnya, kaum homo pun seperti mendapat jalan dan rekomendasi. Yang tadinya malu-malu (karena memang hal semacam itu memalukan) kini seperti dibukakan pintu.

Kuatkan Bashirah

Sebenarnya trik pengemasan alias tazyinul ma’ashi ini tergolong kuno. Dari awal, setan sudah biasa menerapkan trik ini dan al Qur`an sudah memperingatkan berkali-kali. Tapi tampaknya, trik ini selalu saja berhasil karena sifatnya yang fleksibel, kontekstual dan selalu mengikuti perkembangan. Oleh karenanya, ketajaman bashirah harus senantiasa kita asah agar tak mudah tertipu dengan trik-trik semacam ini. Dengan bashirah kita akan melihat melalui lensa syar’i, nurani dan rasio yang murni hingga mampu melihat objek secara substansi, bukan dari tampilan luar atau kemasan yang sering mengelabui. Wallahua’lam. (Abu Razin)

%d bloggers like this: