Nutrisi Ruh

Nutrisi Ruh

Makanan ada dua jenis; untuk konsumsi jasad dan untuk konsumsi ruh. Allah menjamin pemenuhan keduanya sekaligus. Hanya saja, untuk mendapatkannya manusia diperintahkan untuk berusaha, mengusahakan sebab agar terpenuhi. Langit tidak menurunkan hujan emas. Agar menjadi kenyang, manusia mesti berusaha, agar menjadi hamba yang ber-taqwa harus mau menempuh jalannya. Untuk usahanya itu, manusia berhak untuk mendapatkan balasan-Nya ; pahala atau hukuman.
Mengabaikan pemenuhan kebutuhan fisik akan berakibat kehancuran jasmani, begitu pula tak mengacuhkan asupan makanan ruh mengakibatkan matinya ruh. Sayangnya mayoritas manusia begitu sibuk berusaha memenuhi kebutuhan makanan jasadinya dengan mengabaikan asupan makanan untuk ruh-nya. Hanya sedikit manusia yang peduli terhadap pemenuhan kebutuhan keduanya secara seimbang.
Asupan makanan bagi ruh manusia lebih tinggi dan lebih agung nilainya dibanding konsumsi jasadnya. Bukankah makanan jasadi manusia dalam batas tertentu beririsan dengan konsumsi hewan, baik yang herbivora maupun carnivora? Sementara asupan ruh manusia adalah ma’rifah (persepsi yang benar terhadap pencipta-Nya, dirinya, alam semesta) dan ilmu yaqin hewan tidak dikaruniai kemuliaan itu. Karena itu Allah mencela orang-orang kafir yang tidak mengenal Rabb-nya, tidak mengenal untuk apa dia diciptakan dan hendak kemana mereka akan kembali. Ruh mereka mati, hati mereka keras membatu. Mereka habiskan umurnya untuk mengejar kebutuhan jasad dan memanjakannya, bahkan tidak jarang pemanjaan tadi merusak jasad itu sendiri. Allah mensifati mereka dengan firman-Nya :
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Al-Hijr : 3)
Manusia akan ter-hijab dari ma’rifah kepada Allah lantaran begitu sibuknya mereka mengejar pemenuhan hak jasad-nya. Sedang sebagian yang lain memandang seolah ketika dia memenuhi hajat maknawi untuk asupan ruh-nya, menganggap hal itu sebagai pemenuhan hak Allah yang tiada bagian bagi dirinya. Padahal sejatinya baik penunaian hak jasadi maupun ruh, jika pemenuhannya sesuai dengan aturan-Nya, padanya ada bagian bagi dirinya, kedua-duanya, ruh dan jasadnya sekaligus, di dunia dan di akherat.
Nutrisi Ruh
Benarlah bahwa hanya orang-orang mukmin yang memperhatikan quut ar-ruuh (asupan makanan bagi ruh). Asupan nutrisi ruh, segalanya berpangkal dari ma’rifah kepada Allah, pengakuan kepada hak-hak-Nya, pengakuan kepada posisi hamba sebagai hamba-Nya dan kewajiban yang timbul dari pengakuan terhadap hubungan tersebut. Sesungguhnya tak akan ada mahabbah (kecintaan) kepada Allah jika tidak ada ma’rifah kepada-Nya. ‘Alaqoh (hubungan) antara hamba dengan Allah tersambungkan dengan cinta ini. Cinta yang menumbuhkan kerinduan untuk bertemu, membangkitkan hasrat untuk mendekat dengan wasilah ibadah dan menumbuhkan kesediaan untuk berkorban demi membayar harga kecintaan tersebut.
Ketaatan kepada Allah, merealisir sunnah, berbisik- bisik menyendiri dengan Allah, asyik berdzikir, menikmati kelezatan ibadah dan meninggalkan hiruk-pikuk dengan makhluk merupakan pengokoh tali hubungan hamba dengan Rabb-nya, memperdalam kecintaan kepada-Nya dan mempersiapkan bekal menuju akherat. Seluruh perkara tersebut merupakan nutrisi ruh, peng-kilap kecemerlangan qalbu dan tunggangan untuk meraih keselamatan.
Dan semua…, manba’-nya(sumbernya) adalah mahabbah. Sedang mahabbah hanya tumbuh tatkala ada ma’rifah. Bukankah penunaian hak-hak Allah dalam bentuk kewajiban hamba melaksanakan syari’at-Nya, memenuhi perintah dan meninggalkan larangan-Nya adalah beban ketika tidak dilihat dari perspektif cinta?
Tatkala Ruh Terjamin Asupan Nutrisinya
Tanyakanlah kepada mereka yang dengan pertolongan-Nya berhasil menumbuhkan rasa cintanya, betapa perkara-perkara yang bagi orang lain dirasakan sebagai beban itu, dalam pandangannya berubah menjadi kebutuhan yang membangkitkan hasrat dan kerinduan. Apa yang bagi orang lain berat, baginya tak hanya terasa ringan, tetapi mengerjakannya karena panggilan rasa rindu. Mengapa rentangan hamba yang satu dengan lainnya begitu jauh? Yang seorang merasakan sebagai beban yang memberati, sedang yang lain menganggap sebagai kebutuhan yang dirindukan? Begitulah keadaan ruh dan qalbu manusia.
Ketika Gagal Menyemai Cinta
Pada tingkat tertentu, kesediaan hamba yang telah diliputi rasa cinta kepada Allah untuk berkorban karena agama-Nya, yang dalam pandangannya, itu harga murah yang mesti dia bayar demi cinta-Nya, sampai membuat orang-orang munafiq heran. Orang munafiq yang gagal menumbuhkan mahabbah kepada Allah ini sampai berkomentar :
(Ingatlah), ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Anfaal :49)
Sungguh merupakan pemandangan dua kutub yang berjauhan untuk bejana qalbu dan ruh yang sama dalam penciptaan. Ya, manusia sendiri yang gagal menumbuhkan rasa cinta kepada penciptanya. Allah ta’alaa telah secara adil membekali perangkat yang sama kepada manusia untuk mengenal-Nya. Sebab, kemungkinan tumbuhnya rasa cinta itu berbanding lurus dengan pengenalannya kepada Allah. Pendengaran, penglihatan dan hati yang dikaruniakan kepada hamba mukmin yang dianggap tertipu agamanya oleh orang-orang munafiq adalah pendengaran, penglihatan dan hati yang juga diberikan kepada si munafiq itu. Cara mensyukuri pemberian itu yang berlainan. Sungguh benar jika Allah berfirman
…demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.(Al-An’aam :146)
Manusia Setengah Manusia
Debu-debu matrialisme yang beterbangan menyusup ke seluruh sudut kehidupan hari ini, telah mengakibatkan efek negatif rusaknya keseimbangan manusia. Tak terkecuali yang mengaku insan beriman, kecuali yang di-rahmati Allah. Matrialisme mendorong dan menyemangati manusia untuk mengejar kebutuhan jasad dengan mengabaikan asupan ruh-nya. Jadilah manusia setengah manusia, sebab sejatinya hanya jasadnya yang hidup sedang ruh telah mati. Phisik manusia yang telah terjangkiti virus paham kebendaan bak rumah tak berpenghuni, kusam tak terawat, tak ada kecemerlangan hati, tak ada cahaya hikmah. Wa al-‘iyadzu bilLaah.
Bahkan virus kebendaan tersebut telah ber-mutasi menjadi lebih ganas. Manusia matrialis telah menjadi serigala bagi lainnya, homo homini lupus. Saatnya untuk menentukan pilihan. Wa Allohu A’lam

%d bloggers like this: