Kunci Kebangkitan Umat Islam

Kunci Kebangkitan Umat Islam

Sekilas Dari Tarikh
Umat Islam, dalam perjalanan panjang sejarahnya, pernah mengalami kekalahan total menghadapi serbuan Tatar. Baghdad, ibu kota kekhalifahan Islam luluh lantak, lebih satu juta muslim dibantai, perpustakaan dibakar habis. Khalifah dan seluruh perangkat pemerintahan dibunuh kecuali satu orang, perdana menteri Al-Qami, penganut  syiah rafidhah yang membukakan jalan bagi serangan dahsyat tersebut.

Meskipun demikian, tak berapa lama pasukan Tatar yang menakutkan itu dapat dikalahkan oleh pasukan Islam Mamalik dari Mesir dibawah pimpinan Saifuddin Quthuz, tepatnya di pertempuran’Ain Jalut. Penghancur kekhalifahan itu dihentikan kejahatannya oleh beliau dan pasukannya yang didukung oleh para ulama’.

Kelurusan Tashawwur
Ibnu Qayyim di dalam I’lamulMuwaqqi’in mengatakan bahwa benarnya pemahaman dan lurusnya iradah (tujuan) merupakan dua nikmat atau karunia Allah paling besar, satu tingkat dibawah nikmat hidayah memeluk Islam.

Kedua nikmat tersebut harus dipelihara, dijaga dan dilindungi dari segala sesuatu yang akan merusaknya. Maka dalam kitab Zaad al-Ma’ad  beliau menjelaskan bahwa tingkatjihad yang kedua yaitu terbentuknya pribadi muslim dan irodahnya rasyidah, kedua nikmat tersebut harus dijaga jangan sampai dirusak oleh syaithan. Sebab syaithan mempunyai dua senjata andalan untuk merusak dan menghancurkannya dengan syubhatdan syahwat. (Zaad al-Ma’aad, jilid III, hal 10).

Syubhat adalah kelirumemahami manhaj Islam yang lurus ini dengan masuknya cara pandang terhadap Islam yang asing, yang tidak ada sumbernya dalam khazanah Islam. Sedangkan syahawat adalah masuknya motivasi, dorongan dan kehendak yang keluar dari mencari keridlaan Allah. Itulah dua senjata pamungkas Iblis dan kabilahnya untuk merusak dan mengeluarkan kembali manusia muslim dari Islam.

Syarat Kebangkitan Kembali
Mengapa pasukan Tatar yang ganas dan telah berhasil memporak-porandakan ibu kota khilafah Islam itu dapat dihancurkan dan dihalau dari tanah umat Islam kembali ke Mongolia hanya dalam hitungan beberapa tahun? Begitu cepatnya mereka hancur. Begitu cepatnya umat Islam bangkit kembali menemukan jati dirinya.

Umat Islam, sekalipun mengalami kekalahan telak di Baghdad, bahkan khilafah jatuh, tetapi tidak kehilangan segalanya. Karena, pemahaman terhadap Islam dengan meyakini kemuliaannya tetap tergambar jelas dalam hati dan pikiran umat. Selain itu, Masih banyak ulama’ yang tetap memandu, menjadi suluh, membentengi dan mengarahkan tashawwur umat  agar tidak berubah, dan agar iradahnya tetap lurus. Syaikh Izzuddin bin AbdusSalam adalah salah satunya, dan yang paling berpengaruh di zaman itu.

Sekalipun umat pada saat itu sangat menderita, dirampas hartanya dankehormatannya.Nyawa mereka menjadi mainan pasukan Tatar yang tidak mempunyai hati (menurut Dr. Raghib as-Sirjani dalam Qishshotut-Tatar minal-bidaayah ilaa ‘Ain Jaaluut).Umat Islam dilanda phobia luar biasa.Meskipun begitu, tidak pernah terlintas dalam hati dan pikiran umat Islam bahwa musuh mereka yang menang itu lebih mulia. Tidak terdetik di dalam benak mereka bahwa cara hidup musuhnya lebih baik. Hakekat iman dan ketinggiannya tidak terhapus. Apalagi tentara penghancur itu yang selalu mengancam bagian dunia Islam lain yang tersisa itu ahlaknya lebih dekat kepada binatang daripada manusia.

Masih Ada Qudwah Shalihah
Tetap teguhnya jati diri sebagai umat pilihan, kebanggaan terhadap ketinggian agama, merupakan kekuatan potensial dahsyat untuk bangkit dan merebut kembali kemuliaan jika kesempatan terbuka dan ditemukan pemimpin yang mampu menggali potensi kekuatan tersebut menjadi kekuatan riil.

Paduan sosok figur ulama dan umarayang jujur, bersungguh-sungguh, kuat memegang prinsip, lemah lembut kepada umat dan mampu menjadi teladan merupakan kunci membangkitkan potensi kekuatan menjadi kekuatan riil yang menakutkan musuh. Dalam episode sejarah penghancuran pasukan Tatar di ‘Ain Jalut, sosok pribadi itu ada pada paduan antara Saifuddin Quthuz sebagai sultan dan Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdus-Salam sebagai ulama yang teguh memegang prinsip.

Umat Islam Terjerat Sekularisme
Sekularisme liberal mengharuskan manusia menganggap semua agama sama. Mereka mengkampanyekan taswiyah al-adyan (penyamaan semua agama). Keyakinan ini memandang bahwa semua agama itu sama, semua menuju kepada tuhan, semua mengajarkan kebaikan, hanya jalannya yang berbeda-beda. Anehnya, keyakinan rusak seperti ini diterima oleh sebagian ummat Islam. Tentu saja hal ini lantaran sudah begitu kronisnya kebodohan umat Islam terhadap agamanya, dan sudah pasti hal itu disebabkan oleh sangat sedikitnya ulama rabbaniyyun yang melaksanakan perannya memberi suluh kepada umat.

Permisalan ulama rabbaniyyun itu seperti obor yang menerangi umat di tengah gulita malam yang pekat. Ketiadaannya berarti umat berjalan dalam kegelapan tanpa penerang dan tanpa pembimbing. Akibatnya hidup mereka tak terarah; meninggalkan perintah Allah, menerjang larangan-Nya, memakan barang haram dan tidak berhati-hati terhadap perkara yang syubhat.

Kampanye kaum sekuler liberal dengan menggunakan ‘cendekiawan muslim’ yang telah rusak tashawwur-nya seperti dalam kasus taswiyah-al-adyan, ibarat di tengah gelapnya malam ada seorang pembawa obor menuntun manusia, tetapi manusia itu dibimbingnya terjun ke dalam jurang. Keilmuan saja tidak cukup, perlu kejujuran dan khasyah (takut) kepada Allah. Khasyahmemang ilmu yang pertama kali dicabut oleh Allah menurut sahabat Hudzaifah bin Yaman.

Bagaimana mungkin seorang ‘muslim sekuler’ yang menganggap semua agama sama diharap untuk menegakkan syari’at Allah? Sedangkan syari’at tidak hanya menghalalkan darah orang muslim yang murtad, bahkan syari’at memerintahkan hadd bunuh baginya. Mungkin masih ada toleransi tidak melaksanakan hadd tersebut karena lemah dalam istitho’ah, tetapi meyakini bolehnya seorang muslim berpindah kepada agama lain tanpa konsekuensi hukum dalam syari’at, merupakan kekufuran.

Merupakan suatu hal yang mustahil untuk bangkit kembali bagi suatu umat yang sudah tidak lagi meyakini bahwa prinsip hidupnya memiliki keunggulan. Tak ada harapan bagi seorang muslim untuk menjadi elemen kebangkitan umat Islam, ketika dia sudah tidak lagi meyakini bahwa Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alayh. Dari keyakinan atas prinsip kebenaran dan ketinggian Islam ini ruh kebangkitan umat itu mengambil manba’(sumber). Siapa yang meminum air kehinaan tak dapat diharap kebangkitannya. Wal-‘iyaadzu bilLaah.

%d bloggers like this: