Misteri Juru Kunci Merapi

Misteri Juru Kunci Merapi

Masih hangat dalam ingatan, masih terasa kedahsyatannya, bulan lalu Merapi memuntahkan lahar dan awan panas. Banyak korban nyawa berjatuhan, banyak infrastruktur berantakan dan lebih banyak lagi korban mitos yang merusak keyakinan. Banyak rumor klenik beredar, ramalan dukun berkeliaran. Dari seabrek mitos yang berkembang, ’the top myths of Merapi’ adalah misteri Juru Kunci Merapi.

Diawali dari kabar tewasnya sang juru kunci Mbah Maridjan oleh awan panas dalam posisi bersujud. Sisi kehidupannya diekspos dengan detil, tentang tawadhu’nya di mata publik, ’amanah’nya terhadap tugas, serta seluk beluk aktivitasnya sebagai Juru Kunci Merapi. Publik makin penasaran, apa arti dan tugas juru kunci Merapi itu? Seperti apa kunci yang dipegangnya?

Banyak yang yakin, bahwa juru kunci Merapi memiliki hubungan khusus dengan ’Sing Mbahurekso’, makhluk halus yang dianggap menguasai tempat itu. Juru kunci itu seperti mediator antara dunia nyata dengan dunia lelembut. Atau sebagai delegasi untuk menyampaikan permohonan manusia kepada ‘penguasa’ Merapi. Maka jelas sekali ditayangkan di TV, tradisi labuhan (sesaji) yang dipersembahkan untuk Merapi, lengkap dengan ungkapan-ungkapan permohonannya. Dalam tinjauan akidah, ini termasuk kategori syirik, karena doa dipanjatkan kepada selain Allah. Dan sama sekali usaha itu tak akan membuahkan hasil, selain bertambahnya dosa. Allah berfirman,

”Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. al-Jin 6)

Terbukti sudah, sesaji yang disuguhkan rutin itu tidak mampu mencegah letusan Merapi yang mengganas dengan lahar, awan panas dan abu vulkaniknya.

Namun, publik bingung, jika yang dilakukan itu satu kesyirikan, mengapa dia ditemukan dalam posisi bersujud? Penulis sendiri tidak berani menjustifikasi apa-apa. Namun setidaknya ada beberapa spekulasi jawaban. Apakah dia sudah bertaubat dari kesyirikan di akhir hayatnya? Atau sujud itu juga bukan jaminan husnul khatimah? Apalagi diketahui bahwa sujudnya menghadap ke selatan, bukan ke Ka’bah. Yang pasti, kesalahan fatal jika menganggap husnul khatimah bisa didapatkan dengan cara menggabungkan antara ibadah kepada Allah dengan memuja jin penunggu.

Sepeninggal Mbah Maridjan, kita dihebohkan dengan munculnya Mbah Ponimin, yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Juru Kunci. Awal kemunculannya sudah membawakan kisah keajaiban diri dan keluarganya yang selamat karena selembar mukena. Seperti yang disebutkan di beberapa media, dia juga mendapat wangsit dari Eyang penunggu Merapi. Dia pun mengaku selamat karena menjalankan ‘titah’nya untuk membuat membuat bubur merah dan putih dengan campuran air yang diambil dari 7 mata air yang berbeda.

Si Mbah, yang diyakini sebagai penunggu Merapi digambarkan sebagai sosok penguasa yang mampu membuat ‘obah polah’ (gerak-gerik)nya Merapi. Bisa mengatur ritme alam, kapan akan meletus, memilih siapa korbannya dan kapan akan berhenti. Jelas ini lebih musyrik dari orang dahulu yang masih meyakini bahwa hanya Allah yang berkuasa mengatur alam semesta, tatkala ditanya,

”Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab, ’Allah’.” (QS. Yunus 31)

Wallahul musta’an. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: