Anugerah Terindah

Anugerah Terindah

Bukan untuk memberatkan kita, jika praktik ibadah terkadang sulit. Bukan pula untuk membebani kita jika ia terkadang rumit. Sebab ia adalah petunjuk kebenaran, penerang jalan, penawar kesakitan, pengingat kealpaan, pembawa keberkahan, penghembus ruh ketaatan, serta berbagai manfaat lain yang tidak akan pernah mampu kita jangkau hakikatnya.Apalagi jika rumit dan sulit sendiri sangat relatif, dari mana kita melihat, dan bagaimana kita menghadapinya!

Tapi proses menuju sebuah prestasi selalu memiliki ceritanya sendiri. Ia tidak sendirian saat kemenangan menjelang, tidak muncul begitu saja tanpa upaya pengadaan. Bersama  pencapaiannya, sejumlah kemungkinan konsekuensi berisiko dan pengorbanan tak terduga mengiringi.Bukankah berharap kemenangan tanpa perjuangan adalah sebuah kemustahilan? Bahkan, seringkali, ia tidak ringan dan mudah, juga tak murah!

Kita tak sekedar butuh makanan dan minuman, sebab kita bukanlah onggokan daging tanpa jiwa. Sedang akal kita juga butuh kepuasannya akan jawaban dari setiap pilihan tindakan. Bahwa paduan badan, akal, dan jiwa inilah yang harusnya menjadi bingkai pencapaian sebuah kejayaan. Bukan kepalsuan sebab mengorbankan keutuhan dan hanya mencukupkan dengan sebagiannya. Retakan pencapaian dengan kemungkinan memecahkannya berkeping-keping. Sehingga apa yang tampak sebagai sebuah prestasi menjadi tidak ada artinya lagi.

Menutrisi jasad, menentramkan hati, serta memuaskan akal adalah harga mati. Ia menjadi kebutuhan di atas kebutuhan tanpa banding yang sering diabaikan sebab dianggap tidak penting. Lalu apa artinya tubuh utuh tanpa cela jika batinnya merana, dan akal tak pernah mau diajak bicara tentang ajal yang pasti datang, sedang persiapannya hampir tiada. Apa arti puja-puji melangit tinggi, jika ia berubah menjadi caci maki. Segunung pencapaian yang berubah menjadi beban.

Syariat datang untuk menjelaskan akar masalah beserta solusinya. Menentramkan hati, menyejukkan jiwa, membabat habis ragu dan rancu yang sering mengecoh manusia. Ialah kelezatan ruh paling afdhal, kenikmatan terbaik yang bisa digapai, anugerah terindah yang karenanya kita pantas bersyukur dan bergembira. Ia, hakikatnya, lebih baik dari apa saja yang bisa dikumpulkan manusia.

Percayalah, jika hasilnya adalah kepastian langkah menuju jaya dunia dan akhirat, apapun menjadi mudah dan ringan, sebab menjadi tidak sebanding dengan perolehannya. Lalu atas nama apa kita berpaling, jika menjadi orang yang ingkar pun tidak kalah sulitnya? Tidakkah kita melihat jejak-jejaknya yang jelas tampak dalam jumlah yang sangat banyak?

Maka marilah bergembira menyambut anugerah terindah ini, syariat islam!

%d bloggers like this: