Bersaing dengan Para Lelaki

Bersaing dengan Para Lelaki

Seperti yang dipaparkan Syaikh Khalid Abu Syadi dalam salah satu karya terbaiknya Sibaq Nahwal Jinan (berlomba Menuju Surga) bahwa sebenarnya kita, orang-orang yang beriman tengah berada dalam sebuah perlombaan. Ya, perlombaan menuju jannah, surga.  Hanya saja, tidak semua orang sadar bahwa mereka tengah berada di sirkuit perlombaan. Malah ada yang duduk-duduk di pinggir jalan dibawah pohon, padahal yang lain tengah sibuk berlari memerah keringat menuju garis finis. Ibnul Qayim mengibaratkan orang-orang seperti itu seperti orang yang memilih duduk dibawah pohon sampai pohon itu kering dan mati, dan akhirnya ia kepanasan. Padahal kawan-kawannya yang start bersamanya telah sampai di tujuan, lalu beristirahat.

Memang benar, hidup ini sebenarnya adalah perlombaan dan kita barangkali tidak sadar jika Allah mengingatkan berkali-kali akan hal ini. Allah berfirman, “Berlomba-lombalah kalian untuk mendapatkan ampunan dari rabb kalian dan jannahnya…” (QS. Al Hadid 21), “dan untuk yang demikian itu hendaknya manusia berlomba-lomba.” (QS. Al Muthaffifin;26)

Rasulullah SAW juga selalu menyadarkan para shahabat agar senantiasa berlomba, meskipun pemenangnya hampir selalu bisa ditebak, Abu Bakar ash Shidddiq. Tapi mereka semuanya berlomba berebut poin pahala terbanyak.

Nah, yang paling asyik dari perlombaan ini adalah, untuk mengikutinya tidak ada dibedakan antara laki-laki dan wanita dari segi peluang untuk menang. Artinya, wanita memiliki peluang yang sama dengan laki-laki untuk memenangi lomba. Benarkah?

Kalau ini perlombaan menuju surga dengan berbagai amal kebaikan, bukankah wanita tidak seperti lelaki yang bisa melakukan hampir semua amal-amal besar seperti Jihad, mengiring jenazah, memimpin kaum muslimin, shalat jumah dan sebagainya?

Memang benar, secara poin-poin amal, ada amalan tertentu yang memang wanita tidak mendapat porsi sebesar lelaki. Tapi sebenarnya peluang untuk menang selalunya sama karena meskipun pada satu poin amal tertentu wanita tidak bisa melakukannya, tapi pada poin yang lain justu kebalikannya, laki-lakilah yang tidak mungkin berpeluang mendapatkannya. Coba kita simak riwayat berikut;

Dari Asma binti Zaid berkata, ’“Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang ada di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutusmu bagi laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepada anda dan bersumpah setia kepada anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat Jumat, mengantarkan jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yamg mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapatkan pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menoleh kepada para sahabat dan bersabda :

“Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”

Para sahabat menjawab,”Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, meminta keridhaan suaminya, dorongan dan persetujuannya itu dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki.”

Maka kembalilah Asma’ sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa disabdakan Rasulullah SAW.

Seharusnya ‘persamaan gender’ seperti inilah yang dimunculkan. Yaitu semangat untuk menyamai lelaki dalam hal mencari ridha ilahi. Bukan protes emansipasi yang emosional terhadap segala sesuatu yang berorientasi materi dan kadang tidak rasional. Tuntutan agar bisa sama-sama boleh bekerja di luar rumah, derajat yang sama dengan suami dalam keluarga, jatah yang sama dari warisan atau malah hak untuk sama-sama memiliki empat suami sebagaimana lelaki yang dibolehkan memiliki empat istri. Persamaan derajat semu yang sebenarnya adalah racun musuh-musuh Islam untuk merusak para muslimah.

Selain amal yang disebutkan dalam hadits tersebut masih ada lagi point emas yang bisa diraih oleh para muslimah dalam amal-amal shalih seperti menjaga janin, menyusui anak, mendidik mereka, juga berbagai ibadah yang diwajibkan atau disunahkan kepada manusia secara umum.

Kabar gembiranya, meskipun Asma mengatakan bahwa wanita tidak banyak diberi kesempatan berjihad, namun dalam kondisi tertentu, mereka dapat pula ikut berjihad dan mengambil poin dari amal paling mulia ini. Pada perang Yarmuk, para wanita muslimah banyak yang ikut andil dalam jihad sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafidh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, beliau membicarakan tentang perjuangan mujahidan mukminin. Beliau berkata,” Mereka berperang dengan perang besar-besaran hingga para wanita turut berperang di belakang mereka dengan gagah berani.” Dalam bagian lain beliau berkata, ”Para wanita menghadang mujahidin yang  lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu.”

Sekali lagi peluang untuk menang bagi muslimah sama dengan pria. Tinggal seberapa kuat semangat dan motivasi kita untuk menang ada dalam jiwa.

Nah, para muslimah, hendaknya kita segera kembali ke sirkuit dan bersiap untuk melesat. Wallahua’lam.

%d bloggers like this: