Perlombaan Hakiki dan Hadiah tak Tertandingi

Perlombaan Hakiki dan Hadiah tak Tertandingi

Edisi lalu, telah kita membahas konsekuensi meraih derajat tinggi, berupa sedikitnya teman perjalanan. Kali ini, penulis mengajak pembaca untuk lebih mendalami tabiat perlombaan, dan mengisi jiwa dengan karakter dan mental sang juara. Ya, juara layaknya dalam perlombaan. Karena kita memang sedang berlomba satu sama lain. Alangkah kasihan orang yang tak memahami tabiat perlombaan. Berada di tengah gelanggang, namun hanya menjadi penonton keberhasilan peserta lain  mendahului mereka.

Perlombaan Hakiki dan Hadiah tak Tertandingi

Dalil kauniyah maupun qur’aniyah menegaskan, bahwa masing-masing kita sedang berlomba. Kita saksikan, usaha manusia berbeda satu sama lain, baik dari jenis maupun tingkat semangatnya. Sesuai dengan firman-Nya,

Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4)

Kelak, hadiah yang didapat juga berbeda-beda, tergantung seberapa cepat dan keseriusannya dalam perlombaan. Karenanya, jannah yang disediakan tidak hanya satu tingkatan saja. Sebagaimana tersirat dalam hadits Nabi SAW,

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ

”Jika kamu memohon kepada Allah, maka mohonlah Firdaus, karena ia adalah jannah yang paling tengah dan paling tinggi.” (HR. Bukhari)

Mereka juga tidak masuk jannah secara bersama-sama. Ada yang lebih awal, ada pula yang masuk belakangan. Itu semua bukan berdasarkan urutan masa hidup mereka di dunia, tapi sesuai urutan kecepatan dan kegigihan mereka saat berlomba dalam kebaikan di dunia. Ada yang meraih derajat Saabiqun bil-khairaat (yang berlomba dalam kebaikan), muqtashidun (pertengahan), dan zhaalimun linafsih (yang menzhalimi diri sendiri), sebagaimana tersebut dalam Surat Fathir: 32. Ada yang masuk jannah tanpa hisab, ada yang dihisab dengan cara yang mudah, dan ada pula yang harus melalui hisab yang pelik.

Masih ada Peluang Di Tempat Tertinggi

Orang yang bermental juara, bersemangat baja, tak kan menyerah begitu saja. Dia tidak mengharapkan kecuali derajat yang paling tinggi. Derajat Saabiqun bil khairaat, atau setara dengan mereka yang masuk jannah tanpa hisab. Dan peluang ini masih terbuka untuk kita.  Sebagian yang tidak memahami hal ini, ditambah dengan mental yang down, pasrah dan merasa lemah untuk meraih derajat itu. Apalagi tersebut dalam hadits, bahwa jumlah mereka hanya 70.000 orang. Sebagaimana yang dikabarkan Nabi SAW saat beliau diperlihatkan dalam peristiwa Isra’

“Inilah umatmu dan bersama mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk jannah tanpa hisab dan tanpa adzab.” (HR Bukhari)

Sebagian mengira bahwa jumlah itu telah tertutup kuotanya oleh para sahabat Nabi, sehingga tak ada lagi peluang bagi generasi setelahnya untuk masuk ke dalam rombongan pertama tersebut.

Tapi, marilah kita kaji dengan teliti, kita saksikan juga bagaimana antusias generasi sesudah mereka yang tetap optimis untuk mengejar derajat itu.

Ketika kabar tentang kaum yang masuk jannah tersebut disampaikan, seketika direspon oleh Ukasyah bin Mihshan RA. Seakan beliau takut kedahuluan yang lain, beliau berkata, ”Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk di antara mereka.” Maka beliaupun berdoa, “Ya Allah jadikanlah dia (Ukasyah) termasuk di antara mereka.” (HR. Bukhari)

Saat itu orang-orangpun serentak meminta didoakan oleh Nabi, tapi beliau bersabda, “Ukasyah telah mendahului kamu.”Marilah kita simak dengan teliti.  Seandainya beliau tidak bersabda seperti itu, niscaya setiap orang yang hadir dan mendengar hal itu pasti ingin mendapatkan apa yang telah diperoleh Ukasyah, dan bilangan yang terbatas itu akan segera terpenuhi sejak zaman dahulu. Akan tetapi Rasulullah SAW membiarkan kesempatan itu terbuka bagi siapa saja, agar para pemilik cita-cita dan tekad segera menyingsingkan lengan baju untuk bersungguh-sungguh dan berlomba-lomba meraih kesempatan itu. Agar generasi setelah mereka berjuang menyusul rombongan Ukasyah tanpa rasa lemah, lelah ataupun putus asa.

Lihatlah semangat tabi’in senior, Abdullah bin Tsaub, yang dikenal dengan nama Abu Muslim Al-Khaulani, dia berkata, “Apakah para sahabat Muhammad menyangka bahwa mereka memonopoli kesempatan itu tanpa menyisakannya untuk kita? Tidak, demi Allah, kami benar-benar akan bersaing dengan mereka untuk memperolehnya, hingga mereka mengetahui bahwa mereka masih meninggalkan tokoh-tokoh di belakang mereka.”

Begitulah sikap ‘ghibthah’, iri dengan konotasi yang baik, bukan didasari rasa benci atau hasad. Beliau paham, ditampilkannya para sosok sahabat yang demikian memukau semangatnya dalam ketaatan, bukan sekedar tontonan atau bacaan yang dijadikan hiburan, tapi agar kita menyusul mereka, atau bahkan bersaing dengan mereka mendapatkan derajat paling utama.

Dan perlu kita ingat. Jumlah 70.000 orang yang masuk jannah tanpa hisab tersebut bisa dibilang masih ‘koma’, belum ‘titik’. Masih ada kelanjutannya. Nabi SAW bersabda,

وَعَدَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعِينَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعُونَ أَلْفًا وَثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنْ حَثَيَاتِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ

“Rabbku berjanji kepadaku, untuk memasukkan  tujuhpuluh ribu orang di antara ummatku ke dalam Jannah tanpa hisab dan adzab, setiap seribu membawa tujuhpuluh ribu orang dan tiga cakupan tangan dari cakupan tangan Rabbku.” (HR. Ahmad)

Jika demikian, mengapa masih pesimis? Mari kita lanjutkan perlombaan ini dengan semangat yang baru. Wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: