Menyesal Telah Berbuat Baik

Menyesal Telah Berbuat Baik

Seorang ustadz pernah bercerita, dulu sebelum peristiwa itu terjadi, beliau adalah ustadz yang dengan ijin Allah banyak disukai para murid dan mad’unya.  Mereka rajin datang, menyimak dan menyerap segala ilmu dan nasihat ustadz yang bermanfaat. Mereka menjadi rajin mencari ilmu baik dengan menghadiri pengajian maupun membaca buku, terutama karya sang ustadz. Tapi, setelah peristiwa itu terjadi, yakni ketika sang ustadz mengajarkan bahwa poligami itu halal dengan mengamalkannya, bukan kriminal dan merupakan bagian dari hukum Allah yang telah ditetapkan kebolehannya, keadaan menjadi berubah drastis. Sang ustadz bercerita tidak sedikit dari muridnya, terutama ibu-ibu rumah tangga yang mencaci maki, menyobek buku karyanya, dan mengirim SMS berisi hujatan pada sang ustadz, seakan-akan mereka menyesal telah belajar pada beliau, bersusah payah mengikuti kajian-kajiannya, membeli bukunya dan sebagainya.

Kisah diatas menjadi sebuah contoh, ternyata orang tidak hanya menyesali perbuatan jahat dan maksiat saja. Kadangkala, manusia juga bisa menyesal karena telah berbuat baik. Perasaan seperti ini muncul manakala seseorang menemukan bahwa ternyata kebaikannya membuahkan sesuatu yang tidak seusai dengan harapan atau tidak sebagaimana semestinya. Dalam contoh diatas barangkali ada diantara para murid sang ustadz yang berpikir, “Nyesel saya ngaji kesana kemari ngikutin sang ustadz. Ternyata dia juga nggak beda sama lelaki kebanyakan yang tidak setia dan suka mendua.”

Contoh lain, penyesalan atas kebajikan dapat terjadi jika ternyata orang yang pernah kita beri budi malah berbalik menyakiti. Misalnya ketika seorang anak yatim yang sejak kecil kita urusi dan  kita tanggung hidupnya, setelah besar justru jadi begundal yang tak tahu balas budi. Atau ketika orang yang pernah dibantu, dipinjami uang, atau diberi bantuan finansial, ternyata suka menggunjing kita dimana-mana.

Bahkan setan juga bisa membuat isteri seorang mujahid menyesal karena harus menjadi janda diwaktu muda, sebab sang suami telah syahid, berpulang ke alam baka. Kini ia harus menanggung hidupnya sendiri dan anak-anaknya. Setan membersitkan penyesalan, andaikata dulu suaminya orang-biasa-biasa saja, tentu nasibnya kini tidak akan seperti ini.

Perangkap Setan

Jika kita merasakan bisik-bisik setan itu menyelinap di hati, kita harus segera bersiap ambil posisi. Harus disadari bahwa penyesalan semacam ini jelas sangat berbahaya. Ia bisa membuat kebajikan menjadi sia-sia dan pahala pun amblas tanpa sisa. Bagaimana mungkin akan dicatat sebagai kebaikan, jika kita yang melakukan malah menyesal dan berandai-andai kalau saja itu tak pernah kita lakukan? Bagaiman mungkin akan mendapat ridha dari Allah, kalau kita sendiri yang melakukannya tidak lagi ridha?

Untuk contoh pertama, semestinya tidak perlu terlalu berlebihan dalam menyikapi poligami. Toh Islam membolehkan meski dengan beberapa ketentuan. Menyesali  thalabul ilmi yang selama ini dilakukan jelas merupakan tindakan aneh. Bukankah manfaatnya sudah bisa dirasakan? Dan apa kerugian yang mereka tanggung dari poligami sang ustadz? Lebih dari itu, mengapa kita membenci orang yang melakukan sesuatu yang halal?

Soal sedekah, harus kita sadari bahwa pahala sedekah sama sekali tidak akan berpengaruh meski orang yang kita beri sedekah akhirnya murtad sekalipun. asalkan sudah ikhlas, insyaallah pahalanya sudah ditetapkan. Menyesalinya sama juga menyesali pahala yang sudah didapatkan.

Dan bagi yang ditinggal mati suaminya dimedan perang, sangat tidak pantas untuk menyesali keistimewaan yang diberikan Allah tersebut. Memang kehidupan setelahnya menjadi berat, tapi akan terasa ringan dijalani dengan keikhlasan dan kesabaran. Sedang menyesali yang telah lampau hanya akan menghilangkan pahala dan semakin menambah beban kehidupan.

Sebuah renungan

Untuk menenangkan diri, marilah kita renungi ayat Allah berikut ini:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiya:47).

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az Zalzalah:7-8)

Jebakan setan ini memang hanya muncul manakala ada stimulus atau faktor tertentu. Tapi tetap saja kita harus selalu waspada. Setan akan berusaha menghilangkan pahala kita dari depan, tengah dan belakang. Dari sebelum kita beramal, saat sedang beramal dan setelah beramal, meski telah berlalu sekian  waktu. Jika ingin menyesali perbuatan baik, selayaknya kita menyesal mengapa ketika menjalankannya dulu hanya sekadarnya saja, mengapa tidak yang lebih besar dan mengapa tidak lebih baik, lebih ikhlas dan lebih segalanya. Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk dan bimbingan.  Wallahua’lam. (T. anwar)

%d bloggers like this: