Kajian

Pilihan Terbaik

Allah ta’ala tidak memerintahkan ma-nusia melakukan sesuatu, jika tidak ada maslahatnya. Begitupula, tidak melarang sesuatu kecuali ada mudharat di baliknya. Sebenarnya, ketaatan manusia kepada aturan Allah ta’ala untuk kebaikannya sendiri. Agar hidupnya semakin tenteram dan sejahtera. Sehingga, sering dikatakan bahwa jalan kunci kebahagiaan adalah melakukan sesuatu demi mencapai ridha Allah ta’ala.

Abu Sa’id al-Hudry menceritakan pengalaman unik dalam hidupnya. Beliau bukan berasal dari keluarga kaya. Derita dan kesulitan hidup menjadi teman pendamping keluarga beliau. Jangankan barang mewah, bahan makanan pun belum tentu tersedia setiap hari di rumahnya.Bahkan, pernah mengalami problem keuangan yang parah.

Saat itu keluarga Abu Said tidak memiliki apapun untuk ditukar dengan makanan. Rasa lapar yang tak tertahankan membuatbeliau mengikatkan batu di perutnyasekadarmeringankanrasa sakit yang melilit perut. Abu Saidtak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Kemudian,  istri Abu Said memintanya menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam guna meminta bantuan.

“Si fulan menemui Nabi dan beliau memberinya sedekah. Sifulan yang lain juga datang kepada nabi, dan beliau  juga memberinya sedekah.” Kata istri Abu Said meyakinkan suaminya. Beliau sebenarnya malu meminta-minta kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun, untuk menenangkan istrinya beliau katakan, “Saya akan keluar rumah. Semoga bisa mendapatkan sesuatu.”

Beliau meninggalkan rumah dan tak kunjung mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Tidak ada solusi lain selain meminta sedekah kepada Rasulullah yang dermawan. Saat menemui Rasulullah, kebetulan beliau sedang berkhutbah,

“Barangsiapa menjaga diri (tidak meminta-minta) maka Allah akan menjaganya, barangsiapa merasa kaya maka Allah akan mengayakanya, dan barangsiapa meminta kepada kami, baik kami beri atau pun tidak, Abu Hamzah merasa ragu, dan barangsiapa menjaga diri dari kami, atau ia merasa kaya (cukup), maka itu lebih Aku sukai dari orang yang meminta-minta kepada kami.”(HR. Ahmad)

Abu Said pun urung meminta-minta. Bukan karena Rasulullah akan menolaknya. Sebab, Rasulullah bukan tipe orang yang suka mengecewakan para peminta. setiap ada orang meminta Rasulullah selalu mengabulkan. Abu Said yakin jika ia tinggalkan sifat meminta-minta, Allah lah yang mencukupi kebutuhannya. Allahpun memenuhi janji-Nya. Setelah itu rizki Allah turun bagai air bah. Beliau gambarkan bahwa rumahnya adalah rumah yang paling banyak menyimpan kekayaandi kota Madinah.

Kisah nyata yang dialami Abu Said adalah satu dari sekian banyak bukti Janji Allah kepada Manusia. Bahwa jika Seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah, dia menggantinya dengan yang lebih baik. Abu said merupakan salah satu orang yang beruntung tersebut karena ganti yang Allah berikan ada di dunia dan akherat.

Contoh lainnya, bagi orang yang menjaga penglihatan dan meninggalkan kebiasaan ‘cuci mata’, memperoleh ganti yang lebih baik. Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah,ada manfaat besar dari ghadul bashar, yaitu:

Pertama, merasakan betapa bahagia dan nikmatnya iman kepada Allah. Naluri manusia pasti menyukai pemandangan indah yang sebenarnya patulan dari obyek tertentu. Mata melihat gambaran tersebut. Tapi, hati lah yang menyatakan bahwa gambar tersebut indah. lalu, merasakan sensasi suka dan senang. Menurut ibnu qayyim kenikmatan iman melebihi sensati hati melihat keindahan duniawi. Kenikmatan tersebut hanya dapat dirasakan jika manusia menjaga pandangannya, sebagai imbalan yang setimpal.

Kedua, ketajaman firasat atau perasaan. Hal ini sering kali disebut dengan bashirah atau mata hati. Menurut beliau, hati ibarat cermin, jika bersih dari noda pantulannya terlihat jelas. berbeda dengan cermin kusam yang pernuh dengan noda. tak dapat digunakan untuk bercermin.

Ganti yang lebih baik merupakan balasan atau jaza’ dari Allah atas usaha manusia mendahulukan ridha Allah di atas segalanya. Sehingga faktor utama seorang muslim mengambil keputusan dalam hidupnya sebetulnya sederhana. Ridha siapakah yang dia cari? Apakah ridha dan balasan Allah ataukah demi kenikmatan sesaat? Benarkan Allah akan memberi ganti?

Sekilas, rumus di atas terkesan absurd atau sekedar kalimat penghibur saat musibah terjadi. Karena memang manusia baru dapat memetik hikmah di akhir cerita bukan di awal. Saat seseorang dihadapkan pada pilihan untuk meninggalkan sesuatu karena Allah. Tidak ada orang yang dapat memastikan bahwa gantinya akan langsung tiba atau turun dari langit. Anda baru bisa mengatakan bahwa Allah memberi ganti setelah hal tersebut benar-benar terjadi. Dan kadang ganti yang Allah berikan, tak sama dengan yang kita bayangkan.

Jika yang kita harapkan tidak terjadi. Bukan berarti pilihan tersebut sia-sia. Apalagi menyesal karena telah berbuat baik. Sebab, itu merupakan salah satu bisikan setan untuk memperdaya manusia. Sungguh, Allah tak pernah menyia-nyiakan kebaikan manusia sekecil apapun.

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS.Yusuf: 90)

Selain itu, seorang hamba yang berhasil meninggalkan sesuatu hanya karena Allah,  membuktikan dirinya tengah menggapai kesempurnaan takwa dan wara’. Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Dari Athiyyah As-Sa’di zmenuturkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersaba, “Manuasia tidak termasuk golongan orang yang bertakwa, hingga meningglkan sesuatu yang tidak apa-apa karena takut menimbulkan persoalan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Wallahu A’lam bis Shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *