Riya’ yang Menghancurkan

Riya’ yang Menghancurkan

Hidup di zaman modern yang disesaki berbagai piranti canggih, betapa susahnya mengontrol diri untuk tidak riya’. Bukan berarti hidup di zaman dahulu, di mana berbagai piranti itu belum ada, keinginan untuk berbuat riya’  mudah dikontrol. Tidak. Riya’  adalah sebentuk keinginan negatif yang diletikkan oleh setan semenjak dahulu hingga sekarang ke dalam hati manusia untuk menggelincirkan mereka dari jalan Allah ta’ala. Keinginan itu sejatinya telah ada semenjak dahulu. Hanya saja keinginan itu kini tampaknya datang lebih kuat dan intens.

Karena itu, betapa gampangnya sekarang didapatkan seseorang berbuat suatu amal kebajikan -sebut saja sebagai misal: bakti sosial membantu sesama yang tengah ditimpa bencana- yang beritanya cepat tersebar ke mana-mana. Tidak hanya tersebar di lokasi di mana kejadian itu berlangsung saja, namun juga tersebar ke berbagai sudut dunia yang jauh. la bisa tersebar dengan demikian cepat melalui radio, televisi, internet, koran, dan media lain yang masih banyak lagi. Piranti-piranti canggih itu memungkinkan seolah tidak ada sejengkal pun tempat di dunia ini yang bisa luput dari jangkauan berita yang disebarkannya secara massive dan bertubi.

Modernitas memang acap menimbulkan dilema. Acap pula menjadi pisau bermata dua. Sisi positif dan negatifnya -dalam konteks ini keinginan antara berbuat riya’  atau tidak- bertarung untuk saling mendominasi di dalam hati. Yang lantas menjadi

Pertanyaan sekarang adalah: bagaimana memenangkan dominasi keinginan untuk tidak berbuat riya’  itu? Langkah apa saja yang bisa ditempuh?

Mencari Kedudukan

Riya’ , merujuk pada keterangan DR. Ahmad Farid dalam Al-Bahrur Raiq fiz Zuhdi war Raqaiq berasal dari kata ru’yah (melihat). Riya’ ’ diartikan dengan, mencari kedudukan di hari orang lain dengan memperlihatkan amalan dan perilaku yang baik. Kedudukan itu bisa berbentuk pujian, sanjungan, penghormatan dan citra baik bagi si pelaku amal.

Biasanya, motif yang melatarbelakangi perbuatan riya’  itu ada tiga. Pertama, motif untuk mengukuhkan kemaksiatan. Seperti orang yang menampak-nampakkan ibadah, taqwa dan wara’ nya agar ia dikenal sebagai seorang yang baik dan amanah. Itu ia lakukan supaya orang-orang mau mempercayakan pengurusan masalah harta kepadanya. Setelah, ia pun lalu melakukan tindak kejahatan terhadap harta benda tersebut. Di sini, ia melakukan riya’nya itu dengan maksud untuk memuluskan kemaksiatan yang lain, semisal korupsi atau mencuri.

Kedua, ingin memperoleh keuntungan duniawi. Seperti misalnya orang yang menampak-nampakkan ilmu dan ibadahnya agar ada orang yang mau memberikan imbalan materi kepadanya. Riya’ itu ia lakukan tidak lain agar la mendapatkan keuntungan materi. Riya’ nya adalah tunggangan baginya untuk mengelabui orang lain demi untuk mendapatkan sesuatu dari mereka. Jenis riya’  ini sangat berbahaya lantaran adalanya motif tidak benar dari si pelaku untuk memperoleh sesuatu dengan menampak-nampakkan ketaatannya kepada Allah ta’ala.

Dan motif ketiga, riya’  karena tidak ingin direndahkan orang lain. Seperti seseorang yang menampak-nampakkan ketekunannya beribadah kepada orang lain agar mereka tidak memandangnya secara rendah sebagai orang awam kebanyakan yang tidak mempunyai prestasi apa-apa. Tapi agar ia bisa dipandang sebagai seorang ahli ibadah yang banyak bertaqarrub kepada Allah ta’ala.

Berbuat riya’, apapun jenis motif yang ada di belakangnya, akan merusak agama seseorang. ltu karena riya’  dapat  menghancurkan pahala pahala amal ibadah. Seseorang yang beribadah, yang motif dalam melakukannya adalah riya’, kelak tidak akan mendapatkan nilai guna apapun dari ibadahnya tersebut. Allah memberitahukan,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir “ (QS. Al Baqarah: 264).

Di dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim disebutkan, bahwa kelak di hari kiamat Allah akan mula-mula mengadili tiga kelompok orang yang dijanjikan akan memperoleh pahala besar. Mereka itu adalah orang-orang yang ingin mati syahid, para ahli al-Qur’an dan ahli sedekah. Terhadap orang yang mati syahid, Allah mengingatkan perihal nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu?” Ia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu hingga mati syahid.”

Allah menyanggahnya, “Engkau berdusta! Sebaliknya engkau berperang agar orang-orang menyebutmu pemberani! Dan itu sudah dikatakan oleh mereka!” Allah lalu memerintahkan agar orang tersebut diseret di atas mukanya kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Di kelanjutan hadits disebutkan bahwa kejadian yang serupa juga menimpa kelompok manusia yang kedua dan ketiga. Naudzubillah!

Bahkan dalam sebuah hadits lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga memberitahukan sangsi memalukan yang akan didapatkan oleh orang yang berbuat riya’ . Beliau bersabda,

“Orang yang berbuat sumah (ingin didengan orang lain), maka Allah akan memperdengarkannya. dan siapa yang berbut riya, Allah akan memperlihatkannya.”               (HR. Bukhari dan Muslim)

Memupuk Keikhlasan

Benar bahwa riya’  adalah gangguan hati yang sangat kuat dan berbahaya. Tapi sesungguhnya gangguannya itu bisa dipunahkan, seperti disebutkan oleh Faishal Ali al-Ba’dani dalam Qaidatul lnthilaq wa Qaribura Najat, tidak lain adalah keikhlasan. Bila riya’  telah mendominasi hati seseorang ketika melakukan suatu amal kebajikan, maka untuk memunahkannya adalah memeranginya dengan cara mengikhlaskan amal kebajikan tersebut hanya untuk Allah ta’ala semata.

lkhlas maknanya adalah keinginanan seseorang dalam melakukan suatu amal ibadah semata untuk menjadikannya sebagai media bertaqarrub kepada Allah. Bukan untuk tujuan lain di luar itu, semisal mencari pujian atau dipuji orang lain. Ikhlas adalah keinginan yang tulus lillahi ta’ala. Dan hati yang seluruh keinginannya bisa dikondisikan seperti ini manakala pemiliknya melakukan amal ibadah adalah hati yang bisa terselamatkan dari belitan jaring-jaring setan.

Allah berfirman yang artinya, “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Al-Hijr: 39-40)

Karena riya tak henti-hentinya diletikkan setan ke dalam hati manusia. Mulai dari keinginan ibadah tersebut muncul dan pada saat beramal. Bahkan, saat amal tersebut sudah terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya ada beberapa cara untuk menjaga keikhlasan tersebut:

Pertama, Menguatkan ubudiyah kepada Allah, dzat yang maha pemurah yang akan membalas kebaikan kita melebihi daya yang kita kerahkan untuk merealisasikan ibadah tersebut. Kedua, memahami hakikat keikhlasan secara mendalam. Pemahaman yang mendalam tentang hakikat keikhlasan akan menggiring seseorang untuk lebih mudah bersikap ikhlas. Ketiga, mengingat-ingat ganjaran antara ikhlas dan riya’  dalam beramal. Dengan senantiasa mengingat-ingat dan membanding-bandingkan keduanya, dimungkinkan keinginan untuk selalu berlaku ikhlas menjadi terus bergelora.

Keempat, bermuraqabah dan bermujahadah. Maksudnya, menghadirkan perasaan bahwa Allah lah yang menyaksikan amal kita dan membalasnya. Kemudian melakukan amalan tesebut semaksimal dan sebaik mungkin. Kelima, memohon petolongan kepada Alah agar selalu konsisten dalam ikhlas. Ini penting, karena lurusnya keinginan manusia adalah karena maunah Allah.  Adapun orang yang mampu ihlas tanpa adanya pertolongan dari Allah adalah omong kosong.

Ketujuh, meninggalkan ujub dan meremehkan orang lain. Kebiasaan seseorang menganggap besar amal kebajikan yang telah dilakukannya dan menganggap kecil amal yang dilakukan orang lain haruslah ditinggalkan. Kebiasaan ini justru hanya akan menyuburkan riya’  di dalam hatinya. Kedelapan, berkawan dengan orang-orang baik. Itu karena sangat mungkin orang-orang balk itu bisa membantu untuk tidak berbuat riya’.

Kesembilan, meneladani orang-orang ikhlas. Keteladanan dari orang-orang ikhlas itu bisa difungsikan sebagai contoh bagaimana seseorang berlaku ikhlas secara semestinya. Dan yang terakhir, menjadikan ikhlas sebagai tujuan. Maksudnya, mencanangkan semacam tekad final bahwa tujuan dalam beribadah memang semata lillahi ta’ala, bukan untuk tujuan lain di luar itu.

Langkah-langkah di atas adalah usaha untuk menghilangkan sang perusak pahala. Di samping juga untuk mempersubur keikhlasan. Sebenarnya, orang harus merasa cemas, karena batas antara dosa dan pahala sangat tipis. Yaitu, niat yang ada dalam hati. Sungguh sayang apabila pahala berbagai amal kebajikan yang telah tabung di dunia, dengan mengorbankan waktu, pikiran, harta benda, bahkan nyawanya, tiba-tiba lenyap begitu saja. Bak butiran debu yang diterbangkan angin riya’. Naudzu billah.

%d bloggers like this: