Mendoakan Teman Meski Berjauhan

Mendoakan Teman Meski Berjauhan

Sering saya mendapatkan kiriman sms dari orang yang tidak saya kenal, isinya kalau tidak iklan produk ya iming-iming hadiah yang ujung-ujungnya hanya penipuan. Tapi kali ini berbeda, dalam selang waktu yang berjauhan dua sms masuk ke inbox saya. Isinya hampir sama dan sungguh menyejukkan hati, untaian doa kebaikan untuk diri saya dan keluarga. Saya yakin itu bukan sms acak yang dikirim ke nomor sembarang, karena dengan jelas ia sebut nama saya dalam doanya sambil merinci kebaikan yang diharapkan; semoga saya dan keluarga dikaruniai kesehatan, rizki yang halal dan dimudahkan urusan serta dijauhkan dari kemaksiatan. Tapi pengirimnya tidak saya kenal. Ketika saya mencoba menanyakan identitasnya, tidak ada jawaban. Akhirnya saya hanya bisa menjawab, “Amin. wa laka mitsluhu wa barakallah fiikum. (Amin, semoga engkau mendapatkan yang semisal dan semoga barakah Allah menyertaimu)

Saat itu saya hanya bisa husnudhan, mungkin ia ingin mengamalkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Apabila seseorang mendoakan sau-daranya tanpa sepengetahuannya, maka Malaikat akan berkata; amin, dan semoga engkau mendapatkan hal yang sama.”               (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Agar doa mustajab

Beragam cara kita tempuh untuk terkabulnya doa kita, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Berusaha berdoa pada waktu dan tempat yang tepat, ini mungkin yang sering kita lakukan. Seperti saat sepertiga malam terakhir, setelah shalat fardhu, diantara adzan dan iqamah dan di hari Jumat. Namun banyak diantara kita yang belum tahu bahwa ternyata ada satu cara agar doa kita mustajab, yaitu dengan mendoakan saudara kita tanpa sepengetahuannya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah mustajab. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Ahmad)

Imam An-Nawawi t. menjelaskan hadits di atas bahwa makna “bi dhahril ghaib” adalah tanpa kehadiran orang yang didoakan di hadapannya dan tanpa sepengetahuannya. Amalan yang seperti ini benar-benar menunjukkan dalamnya keikhlasan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga juga menjanjikan pahala bagi mereka yang suka mendoakan saudaranya:

“Barangsiapa memohonkan ampunan kepada kaum mukminin dan mukminat maka Allah akan menulis baginya satu kebaikan setiap mendoakan seorang mukmin atau mukminah.” (HR. Thabrani dan dihasankan oleh Albani)

Kebiasaan orang-orang shaleh

Mendoakan sesama muslim tanpa sepengetahuan orangnya termasuk kebiasaan baik yang telah diamalkan oleh para Nabi u dan juga orang-orang shaleh yang mengikuti mereka. Mereka senang kalau kaum muslimin mendapatkan kebaikan, sehingga merekapun mendoakan saudaranya di dalam doa mereka tatkala mereka mendoakan diri mereka sendiri.

Seperti doa Nabi Ibrahim alaihissalam:

“Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan segenap orang-orang yang beriman pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

Juga doa yang dilantunkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallamuh q:

“Wahai Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh: 28)

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam juga mendapatkan perintah dari Allah dengan firman-Nya:

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”   (QS. Muhammad: 19)

Allah juga menyebutkan tentang doa yang dilantunkan oleh orang-orang shaleh sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Potongan beberapa ayat di atas dengan jelas menunjukkan tentang disyareatkannya mendoakan kebaikan bagi saudara kita tanpa sepengetahuan dan kehadiran mereka di hadapan kita.

Ibnul Jauzy dalam kitabnya Shifatus Shafwah menuturkan biografi singkat Ath-Thayyib bin Ismail atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hamdun. Abu Hamdun adalah salah seorang qurra (pembaca Al-Quran). Ia mempunyai selembar kertas yang di dalamnya tertulis 300 nama teman-temannya dan ia selalu mendoakan mereka setiap malam. Di suatu malam, lelaki tersebut tertidur. Kebetulan ia belum membacakan doa kepada teman-temannya sebagaimana yang lazim ia lakukan setiap hari. Diceritakan, dalam tidurnya ia bertemu dengan salah seorang. Seseorang itu menyerunya, “Wahai Abu Hamdun, mengapa engkau belum menyalakan lampu malam ini?” Ia pun segera terbangun. Menyalakan lampu. Lalu mengambil selembar kertas itu dan mendoakan mereka satu per satu sampai selesai.

Abu Hamdun adalah manusia biasa seperti kita. Di malam hari, dia merasakan kantuk sebagaimana kita. Dia makan, minum, perlu istirahat, mencarikan nafkah untuk menghidupi diri dan keluarganya. Dia juga orang yang sangat sibuk dengan aktivitasnya. Akan tetapi satu yang tidak dilupakan olehnya, sebelum memejamkan matanya, ia selalu berdoa pada Allah untuk mengampuni dosa teman-temannya.

Selanjutnya mari kita bertanya kepada diri kita, berapa sering kita berdoa kepada Allah? Dan seberapa sering pula kita menyempatkan untuk mendoakan saudara-saudara kita? Mestinya tanpa diminta pun kita akan selalu mendoakan mereka, sebagai bentuk kasih sayang diantara kaum muslimin. Yahya bin Mu’adz pernah mengatakan, “Sejelek-jelek saudara adalah yang kamu sampai perlu mengatakan, “Ingatlah aku dalam doamu”.”

Semoga Allah menghilangkan dari diri kita penyakit ghil (dengki) yang bisa menghalangi timbulnya sifat cinta dan kasih sayang kepada kaum muslimin. Sehingga kita tidak perlu merasa gengsi dan berat hati jika harus melantunkan doa untuk kebaikan dan kesuksesan saudara kita sesama muslim. Karena sejatinya dengan mendoakan mereka berarti kita telah mendoakan diri kita sendiri. (abu hanan)

%d bloggers like this: