Ciri-ciri Pemilik Husnuzhan Billah

Ciri-ciri Pemilik Husnuzhan Billah

Sulit mendefinisikan husnuzhan billahsecara pasti. Beberapa ulama  hanya menyebutkan maksudnya secara parsial. Ibnul Qayim menyebutkan, “husnuzhan billahhuwa husnul ‘amal”, prasangka baik kepada Allah adalah amal yang baik.” Yang lain menyebutkan, al fa’lu atau optimisme adalah bagian dari husnuzhan billah.  Secara umum husnuzhan billahadalah berprasangka dan berharap kebaikan dari Allah berupa; pertolongan, ampunan dengan keyakinan yang utuh.

Ada kemiripan antara husnuzhan billah(berprasangka baik pada Allah)dengan tawakal(bergantung kepada Allah), ats tsiqah billah (yakin kepada Allah) dan raja’(harapan), meski pada hakikatnya berbeda.Untuk membedakannya, barangkali kita bisa menggunakan beberapa contoh.

Seseorang yang diuji dengan penyakit, dan tetap ridha serta berharap kebaikan kepada Allah, perasaan itu adalah misal darihusnuzhan billah. Adapun yang telah mengikat kendaraanya lalu berserah diri kepada Allah mengenai apa yang bakal terjadi pada kendaraannya, itulah salah satu contoh tawakal. Sedang yang berhijrah dari tempat tinggalnya yang penuh kemaksiatan meski disana hidupnya sukses,dia yakinAllah pasti akan memberi ganti yang lebih baik, itulah contohats tsiqah billah. Yang terakhir arraja’atau harapan, bukan lain adalah bersit harapan dalam hati dalam makna umum,yang jugaterdapat pada ketiga hal di atas. Wallahua’lam.

Namun begitu, ketiga hal di atasmemiliki keterkaitan satu sama lain, bahkan sangat erat. Imam Ibnul Qayim al Jauziyah menjelaskan, husnuzhan billahdan ats tsiqatu billah sebenarnya adalah unsur yang juga menyusun tawakal. Ketawakalan seseorang tidak akan sempurna jika tidak memiliki prasangka yang baik dan keyakinan hati pada Allah. Khusus untuk husnuzhan billah, beliau bahkan menyebutkan, sejauh mana rasa husnuzhanmu kepada Allah, sejauh itu pula rasa tawakalmu kepada-Nya. (Terjemah Madarijus Salikin,194).

Ciri husnudzan billah

Mengingat husnuzhan billah memiliki peran penting dalam amal dan harapan seseorang, perlu kiranya kita mengetahui apa ciri-ciri hati yang memiliki prasangka baik kepada Allah. Dzun Nuun al Mishri mengatakan, ciri husnuzhan billah itu ada tiga; quwatul qalbi, fushatur raja ‘indaz zillah dan nafyul iyas ma’a husnul inabah.(Hilyatul Auliya’;:4/216)

Pertama, quwatul qalbi, kekuatan hati berupa keteguhan dan kemantapan dalam berharap kepada Allah. Orang yang berprasangka baik kepada Allah memiliki kemantapan hati karena ia memahami, disamping dahsyatnya siksa yang dijanjikan-Nya, rahmat Allah sangatlah luas.  Dan sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Sesungguhnya kasih sayang-Ku selalu mendahului murka-ku.” (Hr. Bukhari). Dengan ini hatinya tidak akan pernah ragu dalam usaha menggapai keluasan rahmat dan karunia Allah.

Kedua, fushatur raja ‘indaz zillah atau luasnya harapan ketika yang dituju tak dapat diraih. Harapan yang dimilikinya seluas samudra. Sebersit sinar panas dari rasa kecewa akibat satu harapan yang tak tercapai, tidak akan bisa membuatnya kering. Ombak harapan pun tetap bergelombang, senantiasa hidup dan wujud dalam hatinya.

Manakala hasil akhir yang ditemui tak seperti yang diharapkan berikut usaha yang telah dikeluarkan, prasangka baik kepada Allah akan tetap membasahi hatinya dengan asa. Pasti Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha dan harapan seorang hamba. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّاللَّهَحَيِىٌّكَرِيمٌيَسْتَحِىإِذَارَفَعَالرَّجُلُإِلَيْهِيَدَيْهِأَنْيَرُدَّهُمَاصِفْرًاخَائِبَتَيْنِ

“Sesungguhnya Allah itu Mahamalu dan Mahamurah, Allah malu jika ada seorang hamba yang mengangkat tangan memohon pada-Nya, lalu tangan itu kembali tanpa membawa apa-apa.” (Hr. at Tirmidzi)

Ketiga,nafyul iyash ma’a husnil inabah. Nihilnya rasa putus asa diiringi kepasrahan dengan mengembalikan semuanya kepada Allah. Husnuzhan billahakan mengikis habis rasa kecewa dan putus asa, apalagi amarah dan buruk sangka terhadapkeputusan Allah. Tak hanya itu, ia pun menenangkan hati dengan menuntunnya menuju kepasrahan atas kehendak Yang Maha Sempurna. Lebih dari itu, sudut hatinya akan mencoba mengail pelajaran, “Lain kali,usaha harus lebih baik lagi” atau “Barangkali Allah menghendaki yang hasil lain yang lebih baik.”

Satu ciri penting yang lain

Selain tiga ciri di atas, Ibnul Qayim menambahkan satu hal yaitu husnul amal, usaha yang baik. Artinya prasangka kepada Allah juga harus diiringi dengan usaha yang baik pula. Bahkan beliau mengatakan, “husnuzhan billah huwa husnul ‘amal”, prasangka yang baik bukan lain adalah usaha yang baik itu sendiri. Manakala seseorang mengharap ampunan dan rahmat-Nya, dia juga harus berusaha melakukan berbagai hal yang balasannya adalah ampunan dan rahmat dari Allah.

Berharap ampunan dan kasih sayang Allah, tapi asyik memancing memancing murka-Nya dengan mempermainkan syariat dan bermaksiat bukanlah husnuzhan billah, tapi maghrurun birahmatillah, terpedaya pada rahmat Allah. Terpedaya dalam arti lupa bahwa disamping rahmatnya, ada juga siksa yang maha dahsyat bagi sesiapa yang menerjang larangan-Nya. Jadi, husnul amal adalah unsur yang tak boleh dilupakan dalam husnuzhan billah, karena inilah yang akan membedakannya dengan keterpedayan pada ampunan Allah.

Pada akhirnya, seseorang yang benar-benar berprasangka baik kepada Allah adalah orang yang memiliki keyakinan dalam harapan, keluasan hati atas segala keputusan, mampu menetralisir pahitnya kekecewaan dengan kepasrahan dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai harapan dengan cara yang benar.

Semoga Allah menjadikan hati kita senantiasa dapat berprasangka baik atas semua ketetapan yang allah berikan kepada kita. Amin. (Taufik A)



%d bloggers like this: