Kikis Prasangka, Hilangkan Praduga

Kikis Prasangka, Hilangkan Praduga

Menjaga amalan hati sama pentingnya dengan menjaga amalan fisik. Kadang kala, menundukkan gejolak hati agar tetap berada dalam ketaatan membutuhkan usaha yang berat. Bahkan lebih berat daripada amalan fisik itu sendiri. Misalnya, menjaga prasangka baik dan tetap berpikir positif  baik kepada Allah ataupun kepada sesama manusia.

Suudzan atau prasangka buruk merupakan salah satu dosa besar. Terutama jika sangkaan buruk itu ditujukan kepada Allah. Karena itu Ibnu Umar ra mengatakan, bahwa dosa besar yang paling berat adalah Suudzan kepada Allah. Sebab, pelakunya melakukan dua kesalahan pada satu waktu yaitu; menafikan sifat-sifat Allah dan menetapkan sifat buruk kepada-Nya. Naudzubillah.

Dalam al-qur’an, perbuatan buruk tersebut biasanya dilekatkan kepada orang-orang kafir atau munafik untuk membuktikan pengingkaran mereka atas ayat-ayat-Nya. Mereka tidak percaya bahwa Allah lah yang menciptakan dan mematikan. Mereka juga tidak percaya tentang pembalasan di hari akhir. Karena itu Allah berfirman:

وَيُعَذِّبَالْمُنَافِقِينَوَالْمُنَافِقَاتِوَالْمُشْرِكِينَوَالْمُشْرِكَاتِالظَّانِّينَبِاللَّهِظَنَّالسَّوْءِعَلَيْهِمْدَائِرَةُالسَّوْءِوَغَضِبَاللَّهُعَلَيْهِمْوَلَعَنَهُمْوَأَعَدَّلَهُمْجَهَنَّمَوَسَاءَتْمَصِيرًا

Supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS. Al-Fath: 6)

Suudzan kepada Allah yang muncul di hati seorang muslim pada hakekatnya menandakan bahwa kualitas iman atau kepercayaanya kepada Allah lemah. Karena ciri seorang mukmin adalah selalu husnudzan kepada-Nya. Sedangkan ahlu maksiat yang yang gemar melanggar ketentuan-Nya dan mengabaikan berbagai aturan tak mampu membentengi hatinya dari penyakit ini. Kebiasaan buruk tersebut dapat mempengaruhi persepsi dan cara pandangnya kepada takdir. Sehingga kepercayaanya kepada qadha’ dan qadar kian menipis dan suudzannya kepada Allah kian menguat.

Permisalannya seperti hubungan antara majikan dan buruh. Hubungan yang tidak harmonis akibat ulah buruk si buruh membuatnya selalu berpikir bahwa si majikan tidak adil. Segala yang dilakukan majikan dianggap buruk di mata pekerja. Terutama jika si majikan memberikan tugas berat kepada si buruh.  Oleh karena itu Hasan Al Bashri mengingatkan kita agar selalu menjaga amal shalih. Sebab,  persepsi manusia kepada Allah itu berbanding lurus dengan kelakuannya atau perbuatannya.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziah, kesalahan umumnya manusia ialah salah sangka terhadap tuhannya. Terutama dalam masalah takdir. Kala manusia disempitkan rizkinya, mereka mengeluh bahwa ‘jatah’ yang Diberikan Allah kepadanya tidak adil atau kurang. Ia merasa berhak memperoleh bagian lebih besar.Namun, saat melewati kemudahan ternyata manusia lupa bersyukur. Jadi, jika bukankarena kekuatan iman kepada Allah, setiap orang pasti mengeluh saat tertimpa masalah. Allah berfirman:

فَأَمَّاالإِنْسَانُإِذَامَاابْتَلاَهُرَبُّهُفَأَكْرَمَهُوَنَعَّمَهُفَيَقُولُرَبِّيأَكْرَمَنِ. وَأَمَّاإِذَامَاابْتَلاَهُفَقَدَرَعَلَيْهِرِزْقَهُفَيَقُولُرَبِّيأَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.” (QS. Al Fajr: 16)

Hendaknya kita selalu berhati-hati saat muncul dugaan atau sangkaan buruk kepada Allah. Misalnya, saat melihat orang shalih mendapat cobaan hidup yang berat. Semisal kemiskinan atau menderita penyakit parah. Tapi pada saat yang sama, orang jahat atau ahlu maksiat yang ingkar kepada-Nya, justru hidup makmur bergelimang kekayaan. Saat itulah setan membisikkan kalimat, “Di manakah keadilan Allah?”

Begitu pula, jika ada orang berdoa dengan penuh harapan kepada Allah atau memohon pertolongan dengan tulus. Ia jugasempurnakan permohonannya dengan ibadah dan tawakkal. Lalu, karena jawaban yang diminta tak kunjung tiba, ia mengira bahwa Allah mengabaikan doanya. Maka, itu sama dengan bersuudzan kepada Allah. Setiap kali berdoa, seorang muslim harus menanamkan keyakinan bahwa doanya terkabul. Rasulullah bersabda,

ادْعُوااللَّهَوَأَنْتُمْمُوقِنُونَبِالإِجَابَةِ

“Berdoalah kepada Allah, dan kalian yakin akan dikabulkan” (HR. Tirmidzi)

Contoh lainnya, jika ada orang yang meninggalkan sesuatu yang haram dengan niat tulus karena Allah. Tapi tidak  yakin bahwa Allah akan memberi ganti yang lebih baik, hendaknya berhati-hati. Bisa jadi itu merupakan bisikan nafsu agar suudzan kepada Allah. Begitu pula saat sudah mengerahkan usaha maksimal dalam menegakkan agama Allah. Namun, kemenangan yang didamba ternyata tak kunjung tegak. Malah, makar musuh-musuh Islam semakin merajalela.

Seorang muslim dapat mengikis bisikan keraguan tersebut di atas dengan menguatkan keimanannya kepada Allah dan ridha kepada takdir. Karena apa saja yang menimpa manusia terjadi atas kehendak-Nya. Apa yang tidak ditakdirkan Allah terjadi, tidak akan terjadi. Tapi, bila Allah sudah berkehendak, tidak ada yang dapat menolak.

Memeluk Islam bukan berarti membeli tiket yang membuat kita bebas dari segala kesulitan dunia. Banyak orang berfikir bahwa jika sudah beramal shalih maka hidupnya akan mudah tanpa ada masalah dan tak pernah kekurangan harta.Memang benar bahwa amal shalih dapat menjadi sebab turunnya rahmat dan kemudahan dari Allah. Tapi, jika Allah berkehendak menguji kita dengan kesulitan, kita tak bisa menghindar.  Ala kulli hal, saat itu terjadi jangan sampai kita seperti orang munafik yang digambarkan Allah dengan beragama Islam di tepian. Yaitu, “Jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al Haj: 11). Wallahu A’lam.

%d bloggers like this: