Syukur yang Sejati bukan Sekedar Memuji

Syukur yang Sejati bukan Sekedar Memuji

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?”(QS an-Nisa’ 147)ternyata syukur nikmat menjadi salah satu kunci keselamatan seseorang di akhirat selain iman. Padahal, mensyukuri nikmat semestinya adalah reaksi wajar dan naluriyah dari orang yang diberi sesuatu yang bermanfaat dan menyenangkan. Setelah diberi pasti seseorang akan bersyukur atau dalam pengertian mudahnya, berterima kasih. Tapi, mengapa ayat-ayat al Quran senantiasa menghasung manusia untuk bersyukur dan mengatakan bahwa hanya sedikit sekali manusia yang mensyukur nikmat-Nya?

Bukan lain, pokok persoalaannya adalah kekurangpahaman manusia pada hakikat nikmat yang sesungguhnya serta cara mensyukuri nikmat yang benar dan total.

Nikmat, dari segi bahasa adalah sesuatu yang menyenangkan. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, nikmat itu ada dua; nikmat muthlaq dalam arti benar-benar merupakan nikmat, dan nikmat yang muqayad. Muqayad bisa diartikan masih relatif. Artinya hal-hal menyenangkan itu memang merupakan hal yang menyenangkan atau bisa juga hanya sebuah tipuan dari racun mematikan.

Nikmat yang mutlak adalah anugerah yang membawa manusia kepada kebahagiaan dan keselamatan abadi. Yaitu Islam dan petunjuk berupa jalan hidup yang telah dilalui Nabi SAW. Saat membaca al Fatihah kita senantiasa berdoa, “ Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-ornag yang telah engkau beri nikmat tas mereka..”. siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat, Allah menjelaskannya di dalam ayat  69 surat an nisa’ “ Barangsiapa mengikuti petunjuk Rasul maka dia akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka dari para Nabi, ash Shiddiqin dan para syuhada’ serta orang-orang shalih…”

Sedang nikmat muqayad adalah nikmat yang diberikan kepada seluruh manusia, yang beriman maupun yang kafir. Diantaranya ada nikmat pengelihatan, pendengaran, daya pikir, tenaga, kesehatan, harta dan berbagai kesenangan duniawi lainnya. Allah berfirman “masing-masing dari mereka –yang hanya mencari dunia- dan mereka –yang mencari akhirat- kami limpahkan pemberian dari Rabb-Mu.” (QS. Al Isra’; 20)

Nikmat ini secara wujud memang sama-sama sesuatu yang menyenangkan. Akan tetapi secara hakikat, semua itu hanya akan membawa manusia menuju kesengsaraan jika tak dibarengi iman dan syukur.

Dari pengertian ini, ternyata yang harus disyukuri bukan hanya rezeki nomplok yang diperoleh secara tiba-tiba. Tapi berbagai kemudahan, anugerah, lebih-lebih kebahagiaan yang dirasakan adalah pemberian Allah yang menghajatkan kesyukuran. Nah, dibandingkan nikmat yang telah diterima, berapa prosenkah yang telah disyukuri? Secara jujur kita tidak bisa menjawab kecuali dengan kalimat “masih sangat sedikit.”Barangkali syukur kita bisa dihitung dengan jemari, padahal pemberian Allah,

وَءَاتَاكُممِّنكُلِّمَاسَأَلْتُمُوهُوَإِنتَعُدُّوانِعْمَتَاللهِلاَتُحْصُوهَاإِنَّاْلأِنسَانَلَظَلُومُُكَفَّارُُ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menhinggakannya.Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”(QS. Ibrahim:34)

Lalu, dari yang “masih sangat sedikit” itu, adakah semuanya telah disyukuri dengan syukur yang benar-benar syukur?Untuk mengetahuinya, kita harus tahu dulu seperti apakah implementasi syukur yang sesungguhnya?

Imam Fairuz Abadi menjelaskan bahwasyukur itu derajat tertinggi dari para peniti jalan. Satu strip diatas derajat ridha dan ziyadah. Sedang ridhamerupakan derajat menuju syukur. Tidak mungkin syukur terwujud tanpa adanya ridha. Dan, syukur itu memiliki empat pilar; tunduknya orang yang bersyukur kepada yang disyukuri, cintanya kepada yang disyukuri, mengakui nikmat pemberiannya, memujinya atas segala pemberiannya, dan tidak menggunakan pemberiannya untuk hal-hal yang tidak disukainya. Satu saja hal ini tak terpenuhi, maka banguna syukur akan berlobang. (Bashair Dzi Tamyiz 3/433)

Inilah makna syukur yang sesungguhnya. ketundukan hati, cinta dan pengakuan adalah implementasi syukur dalam hati. Sedang memuji dan pengakuan dengan kata-kata adalah syukur secara lisan. Dan, tidak menggunakan pemberian itu untuk hal-hal yang dibenci oleh pemberi nikmat adalah bentuk syukur dengan raga.Tiga hal ini harus ada karena saling terkait.

Berapa kalipun kita ucapkan alhamdulillah, tapi jika hati kita sombong dan malah mengklaim bahwa kecerdasan dan keuletan kitalah yang paling banyak berpengaruh atas datangnya nikmat itu, tahmid itu hanyalah hiasan bibir. Atau betapapun kita mengaku nikmat Allah sembari lisan mengucap tahmid, tapi setelah itu nikmat itu kita gunakan untuk memusuhi sang Pemberi nikmat, itu juga sama sekali bukan syukur. Dan yang paling parah adalah ketika nikmat senantiasa diberikan tapi hati tak pernah mengakui, lisan tak pernah mensyukuri dan memuji, dan semua nikmat itu dijadikan sarana untuk memusuhi Allah sang pemberi, juga orang-orang yang beriman kepada-Nya. Benar-benar kedurhakaan yang tak terampuni.

Nah, sekarang kita bisa menilai sendiri kualitas syukur kita. Semakin rendah, semakin sedikit pula kemungkinan nikmat kita akan ditambah. Tapi jika semakin baik dan total, tak hanya ditambah, bahkan yang hilang pun sangat mungkin akan dikembalikan dan yang sudah didapatkan akan terjaga supaya tak hilang. Ulama mengatakan, “asy syukru qaydun ni’am al maujudah wa shaidun ni’am al mafqudah”, syukur itu pengikat nikmat yang sudah didapat dan pemburu anugerah yang hilang”.

Wallahua’lam, semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang bersyukur, meski jumlah mereka hanya sedikit. Amin. (anwar)

%d bloggers like this: