Takwa, Bekal Terbaik

Takwa, Bekal Terbaik

Dalam kitab shahih muslim terdapat sebuah kisah ajaib. Dahulu kala, ada seorang yang sedang dalam safar mendengar suara dari langit. “Siramilah kebun si fulan!” Tak lama kemudian,gelombang awan mulai menggumpal dan bergerak. Awan itu memuntahkan hujan di hamparan tanah berbatu. Karena penasaran iapun mengejar awan tersebut dan mendekati tempat dimana hujan tersebut jatuh.

Dia melihat seorang petani mencangkul tanah guna menadah air hujan agar bisa mengairi kebunnya. Lantas ia bertanya kepada petani itu, “siapa nama anda?” “Saya fulan. Kenapa anda menanyakan nama saya?” tanya petani. Ia menjawab, “Aku mendengar suara dari atas awan yang mengatakan, siramilah kebun si Fulan. Apakah yang anda lakukan?” “Karena kamu menanyakan aku akan menjawabnya. Setiap kali kebun ini panen, saya mensedekahkan sepertiganya, aku makan sepertiganya dan sepertiga sisanya aku gunakan sebagai bibit.”

Sekilas, kisah di atas ibarat dongeng yang tidak nyata. Jika bukan karena riwayat dari Rasulullah SAW, mungkin kita tidak mempercayainya. Tapi, kisah itu memang benar-benar terjadi. Ternyata, takwa yang berwujud dalamamal shalih yang biasa dikerjakan hamba dapat menjadi faktor datangnya rizki dan kemudahan.

Sebenarnya, suatu keberhasilan atau keinginan bisa terwujud karena Allah lah yang menentukan itu terjadi. Bisa jadi, karena seeorang telah menggenapi sunnah kauniyahnya ataupun karena faktor amal shalih, doa atau takwa. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. At-Thalaq: 2)

Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, seorang muslim yang bertakwa, menjaga aturan-aturan Allah SWT dan menjaga hak-hakNya seperti orang yang sedang menabung kemudahan.  Ia dapat menarik saldonya saat lapang maupun saat susah. Bahkan kemudahan-kemudahan itu akan tiba dengan cara yang tidak ia duga dan tanpa membutuhkan usaha keras.

Apa yang terjadi tersebut semata-mata pertolongan dari Allah SWT. Seperti yang tejadi pada shahabat khubaib bin adi pada waktu dipenjara di Makkah. Seorang wanita Quraisy melihatnya sedang memakan anggur, padahal saat itu bukan musim anggur. Lalu, dari manakah anggur tersebut berasal? Tentu itu adalah pertolongan Allah SWT min haitsu la yahtasib atau dengan cara yang tak terduga.

Karena itu, amal shalih ibarat investasi yang tak pernah merugi. Minimal ada dua manfaat besar yang dapat dipetik dari takwa. Pertama, taat menjalankan perintah Allah SWT menjadi faktor yang menyebabkan manusia selamat dari api neraka dan mengantarkannya menuju jannah yang penuh nikmat. Dengan kata lain, manfaat untuk kehidupan di akhirat.

Selain rahmat Allah SWT, amal shalih merupakan syarat untuk masuk jannah. Karena itu, manusia yang mengabaikan atau menyepelekan amanat tersebut pasti mendapatkan hukuman atas ketidakseriusannya. Kadang hukuman tersebut menimpanya di dunia, kadang di akhirat. Karena itu, manusia membutuhkan petunjuk atau hidayah agar tetap dapat konsisten dalam menjalankan ketentuan Allah SWT. Selain itu, manusia juga membutuhkan tawakkal dan maunah-Nya. Sebab, La haula wala quwwata illa billah, tidak ada kekuatan yang dapat merealisasikan dan menolak sesuatu tanpa bantuan-Nya. Yusuf bin Asbath mengatakan, “kerjakan amal shalih seperti orang celaka yang tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali amal shalihnya. Bertawakallah seperti orang yang yang tidak akan mengalami takdir selain yang telah ditulis akan terjadi.”

Kedua, manusia harus memenuhi asbab agar kebutuhannya terpenuhi. Seperti makan saat merasa lapar, minum kala haus, berteduh dari panas matahari dan memakai mantel saat udara dingin. Semua manusia terikat dengankebutuhan ini. Tentunya, jika ada orang yang tidak memenuhinya ia mengundang madharat bagi dirinya sendiri.

Saat lahir, manusia normal dibekali dengan badan yang memiliki masa kadaluarsa.Selama ia menjaga kesehatannya dengan baik, jasad tersebut diperkirakan bisa awet untuk beberapa puluh tahun, atas izin Allah SWT. Tapi, bila ia tidak memenuhi standar perawatan tubuh, organ-organ tersebut akan mengalami degradasi mutu dan rusak lebih cepat.

Dalam berberapa kasusAllah SWT membuat sejumlah orang dapat keluar dari sunnah tersebut di atas. Meski mereka tidak memenuhi standar kebutuhan fisik, tetap mampu beraktifitas secara normal. Bagi orang yang ‘luar biasa’ tersebut, Kekuatan fisiknya ditunjang dengan ruhiyah yang kuat. Orang lain belum tentu bisa menerapkannya. Misalnya, Abdullah bin Zubair dan Abu Jauza’ yang bisa makan sekali dalam seminggu. Ada pula cerita bahwa Ibrahim At-Taimi tidak makan dua bulan, hanya mengandalkan minuman manis. Sebagian salaf juga ada orang yang tidak terpengaruh dengan cuaca. Seperti Ali bin Abi Thalib yang memakai baju musim panas di waktu musim dingin dan sebaliknya. Hal tersebut terjadi karena Rasulullah SAW pernah berdoa agar Allah SWT membuatnya tahan menghadapi panas dan dingin. Dengan asupan makan atau minum yang hanya sedikit mereka tetap dapat memenuhi kebutuhan ibadah yang Allah SWT wajibkan kepada mereka.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Semakin orang bertakwa kepada Allah SWT, semakin ia merasa membutuhkan Allah SWT. Apa yang dikerjakannya dengan maksimal hanyalah sunnah kauniyah yang menjadi tugasnya sebagai manusia. hasil akhir, ada tangan Allah SWT. Takwa dalam kontens ini mencakup dua hal, pertama amal yang sebagai wujud taat kepada-Nya. Kedua, Tawakkal dengan hati sebagai wujud iman kepadanya. Karena itu seorang muslim yang sempurna takwanya tidak takut akan hari esok. Meskipun penuh misteri, ia yakin Allah SWT akan memudahkan takdirnya. Umar bin abdul aziz mengatakan, setiap pagi menjelang aku selalu bahagia terhadap qadha dan takdir yang akan terjadi.Wallahu A’lam.

%d bloggers like this: