Nasab tak Menjamin Nasib

Nasab tak Menjamin Nasib

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَيَتَسَآءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS. Al Mukminun:101)

Di hari kiamat nanti, keturunan bukan merupakan faktor yang bisa menentukan nasib seseorang. Bahwa anak dari orang shalih pasti akan selamat, dan anaknya penjahat pasti mendapat laknat. Di akhirat selamat atau tidak, yang paling berpengaruh adalah rahmat Allah, kemudian amal perbuatan manusia masing-masing. Meskipun anak dari seorang manusia yang mulia, tapi dirinya termasuk golongan yang layak mendapat siksa, status keturunan ini tidak akan berguna. Atau sebaliknya, seburuk apapun kedua orangtua, jika dirinya sendiri memang layak untuk selamat, buruknya nasab sedikitpun tidak akan membahayakannya.

Orang bilang iman itu tak dapat diwarisi, demikian pula kehormatan diri apatah lagi keselamatan di akhirat nanti. Tak hanya di hari kiamat dan di hadapan Allah, bahkan di dunia dan dimata manusiapun semua itu berlaku. Keturunan orang terhormat tapi bejat, di mata manusia tetap akan dipandang rendah sebagai manusia yang tak bermartabat. Kalaupun ada yang memaksakan diri menghormati, hal itu pasti dilakukan dengan menipu nurani. Sebaliknya, meskipun keturunan penjahat tapi dengan hidayah Allah menjadi mukmin yang shalih dan taat, orang pasti akan menaruh segala hormat.

Bahkan ini juga berlaku bagi keturunan Nabi sekalipun. Memang benar, ahlul bait memiliki keutaman. Tapi keutamaan sebagai ahlul bait didapatkan bukan karena faktor kekerabatan dan keturunan, tapi karena iman dan ketaatan. Jika dua hal itu ada, maka status sebagai ahlul bait menjadikan kemuliaan itu semakin sempurna.

Hal ini disadari betul oleh salah seorang keturunan Nabi SAW, Ali Zainal Abidin. Suatu ketika Thawus bin Kisan melihat Ali Zainal Abidin sedang meratap penuh gelisah dihadapan Ka’bah. Seakan-akan dia sedang berada di ambang kehancuran. Terdengar tangisnya yang tersedu-sedu, diiringi doa memohon perlindungan kepada Allah. Thawus berhenti. Setelah tangis mereda, Thawus mendekat dan berkata, “Wahai cucu Rasulullah, Aku melihat anda meratap sedih, padahal anda memiliki tiga keutamaan yang dapat membuat anda merasa aman.”

Ali bertanya, “ Apa tiga keutamaan itu?”

Thawus menjawab, “Pertama anda cucu Rasulullah.  Kedua, anda bisa mendapatkan syafaat dari kakek anda. Ketiga, anda akan mendapat rahmat Allah.”

Ali Zainal Abidin menjawab, “Wahai Thawus! Sekalipun aku keturunan Rasulullah, namun keturunan itu tidak menjadikan diriku aman dari rasa takut akan siksa Allah. Itu setelah aku membaca firman-Nya,

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS. Al Mukminun:101)

Adapun tentang syafaat kakekku kepadaku, sesungguhnya Allah telah menegaskan dalam firman-Nya;

وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“…dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.(QS. Al Anbiya 28)

Dan mengenai rahmat Allah itu, Allah akan memberikannya kepada orang yang selalu berbuat kebaikan sebagaimana firman-Nya;

إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“…Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al A’raf:56)

Meski sebagai keturunan Rasulullah, beliau tidak berani berangkuh diri untuk merasa aman dan pasti selamat.  Walaupun melihat keimanan dan ketakwaan yang beliau miliki, dengan ijin Allah, tiga hal itu sepertinya memang layak beliau dapatkan. Namun begitu, beliau menegaskan bahwa keturunan itu tidak akan banyak membantu jika tidak didahului dengan keimanan, lalu disertai ketakwaaan dan amal shalih.

Rasulullah sendiri pernah mewanti-wanti anaknya juga kerabatnya. Dalam Sebuah hadits disebutkan, dari Abu Hurairah beliau berkata,

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ( وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ ) قَالَ « يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ – أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا – اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ ، لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِى عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Tatkala Allah menurunkan ayat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat!”, (QS. Asy Syuara’:214), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdiri dan berseru, “Wahai kaum Quraisy – atau perkataan yang mirip ini-, selamatkanlah jiwa kalian! sesungguhnya aku tidak bisa menolong kalian dari ancaman Allah. Wahai bani Abdu Manaf, aku sama sekali tidak bisa menolong kalian dari ancaman Allah. Wahai Abbas bin Abdilmutthalib, aku tidak bisa menolongmu dari ancaman Allah. Wahai Sofiyah bibinya Rasululllah, aku sama sekali tidak bisa menolongmu dari ancaman Allah. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau kehendaki dari hartaku, aku sama sekali tidak bisa menolongmu dari ancaman Allah.” (HR. Al-Bukhari no 4771).

Ulama menjelaskan, hadits in menegaskan bahwa para kerabat dari orang-orang yang shalih jangan terlena dengan kedekatan hubungan mereka dengannya. Sebab orang shalih itu menjadi mulia karena keshalihannya sendiri, bukan karena tali kekerabatan. (Kasyful Musykil ‘an Hadits Shahihain I/897). Hadits ini juga tidak menafikan adanya syafaat dari nabi SAW. Nabi SAW akan tetap diberi wewenang memberi syafaat kepada umatnya. Namun begitu, pada hakikatnya syafaat itu juga dari Allah, orang yang berhak mendapat syafaat juga orang yang diijinkan oleh Allah untuk mendapatkannya.

Jadi sekali lagi, nasib masing-masing orang tergantung pada rahmat Allah dan kualitas diri. Jangan merasa bangga meski menjadi keturunan orang mulia, jika ternyata iman di dada belum seberapa. Tetap berusaha berlaku lurus dan memohon hidayah-Nya, niscaya keturunan itu akan membuat diri semakin mulia. Tak perlu pula merasa risau meski menjadi keturunan pendurhaka, jika iman dan takwa bisa tumbuh dan bertambah hingga menemui Yang Maha kuasa. Mengapa? karena nasab tak menjamin nasib. Wallahua’lam. (Abu Abdillah R)

 

 

<a href=”http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/nasab-nasib.jpg”><img class=”alignleft size-thumbnail wp-image-1106″ title=”nasab-nasib” src=”http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/nasab-nasib-150×150.jpg” alt=”” width=”150″ height=”150″ /></a>

%d bloggers like this: