Tantangan Ramadhan

Tantangan Ramadhan

Ramadhan datang dengan membawa tantangan berat bagi ibu rumah tangga. Selain pekerjaan harian yang tidak banyak berubah alias seabrek seperti hari biasa, para umahat (ibu-ibu) juga ditantang untuk melakukan ibadah lebih banyak dari biasanya; shalat malam, menjaring ilmu di berbagai kajian yang bertebaran, dzikir, mencari lailatul qadar,  dan yang paling utama adalah membaca al Quran sampai khatam, sekali atau lebih.

Padahal semua tahu, seperti apa padatnya pekerjaan ibu rumah tangga, kecuali bagi yang diberi rezeki lebih oleh Allah bisa memiliki khadimah (pembantu), pekerjaan bisa lebih ringan. Tapi yang single fighter alias pejuang mandiri, apalagi yang punya momongan banyak, pasti mengerti betapa berat tantangan itu. Pekerjaan rumah tangga itu seperti kereta yang terus saja ada jadualnya. Satu pekerjaan selesai menjadi tanda ‘kelahiran’ pekerjaan berikutnya. Jangankan khatam al Quran, bisa melaksanakan shaum dan tarawih dengan tenang saja, sudah alhamdulillah. Nah, bisakah para ibu menaklukkan tantangan ini?

Mungkin ada yang berkomentar, bukankah melakukan semua pekerjan itu juga termasuk ibadah dan dzikir? Sama berpahalanya dengan membaca al Quran?

Benar sekali. Semua yang dilakukan seorang mukmin, asalkan berupa kebaikan dan tidak keluar dari koridor syariat dapat bernilai kebaikan, bernilai ibadah bahkan juga dzikir dalam maknanya yang luas. Hanya saja, tetap saja ada bedanya dengan ibadah-ibadah yang bersifat ritual seperti shalat, dzikir dan membaca al Quran. Ibadah-ibadah ini lebih mampu mendekatkan jiwa seseorang dengan Allah karena di dalamnya terdapat penyebutan asma Allah, pengagungan, perenungan dan peresapan terhadap kandungan lafadz-lafadz yang dibaca. Sedang kebaikan berupa melaksanakan pekerjaan rumah tangga misalnya, tidak semuanya bisa dilakukan dengan penuh penghayatan disertai hati yang khusyu’ mengingat kebesaran-Nya. Malah-malah, tak jarang pula dilakukan sembari dongkol dan marah-marah, bukan begitu ibu-ibu?

Oleh karena itu, tantangan ini tetap berlaku untuk para umahat. Berat dan bakal melelahkan memang. Ya begitulah, tantangan Ramadhan ini hanya akan diambil oleh orang yang berani capek. Tapi insyaallah, rasa capek itu akan terasa nikmat jika dilakukan dengan penghayatan diiringi keyakinan dan harapan besar kepada jaza’ atau balasan yang Allah siapkan. Ada banderol harga untuk setiap peluh dan lelah yang kita rasakan. Rasulullah bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seoang muslim tertimpa rasa lelah, sakit, duka, kesedihan, gangguan dan kekhawatiran sampai duri yang menusuk, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dengan semua hal tersebut.” (HR. Bukhari)

Lelah itu akan menjadi kafarah atau penghapus bagi semua kesalahan-kesalahan kita. Tentunya, kita tidak mungkin dengan angkuhnya menyatakan kita tak memiliki salah hingga harus berlelah-lelah mencari penghapus dosa. Ada banyak amanat yang belum kita tunaikan, ada banyak perintah yang belum kita laksanakan dan ada banyak larangan yang masih kita langgar. Karenanya, lelah itu diharapkan bisa jadi cash untuk melunasi hutang-hutang tersebut.

Nah, yang mau menerima tantangan ini, khatam 2 kali selama Ramadhan misalnya, berarti harus siap memenej waktu agar target tercapai dan pekerjaan rumah tangga juga tidak terbengkalai. Memenej waktu berarti berusaha mengisi waktu-waktu yang dirasa masih kosong dengan membaca al Quran. Waktu kosong tidak selalunya berarti waktu yang tidak terisi agenda apapun. Waktu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti nonton sinetron adalah waktu kosong. Kosong dari manfaat maksudnya.

Atau mencoba menghemat waktu dengan tidak menambah menu masakan. Biasanya, acara buka dan sahur mendorong para ibu untuk jadi chef dadakan yang harus memasak sekian menu dalam waktu bersamaan. Penyebabnya, setiap anggota keluarga merequest menu masing-masing, ayah minta sop, si sulung minta oseng kangkung, si ragil ayam semur, dan ibu sendiri pingin kolak. Demo masak ini tentunya sangat menguras tenaga dan waktu sang ibu. Akibatnya, pagi harus hunting bahan dan sejak sebelum ashar sudah harus terjun ke dapur. Banyaknya menu menyebabkan banyak alat makan kotor dan waktu cuci piring pun jadi lama. Malam harinya, karena capek kelopak mata berasa berton-ton beratnya hingga tak mampu menyelesaikan barang 2-3 lembar al Quran.

Padahal Allah berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Asy Syarh:7)

Imam Ibnu kastier menjelaskan bahwa maksud ayat itu adalah, setelah kamu usai melaksanakan segala pekerjaan yang berkaitan dengan duniamu, maka bersungguh-sungguhlah atau bercapek-capeklah di dalam ibadah shalat. Ibnu Abbas bependapat, “-Bercapek-capeklah- di dalam doa.” (Tafsir Ibnu Kastier, Tafsir surat as Syarh)

Maka ,ada baiknya keluarga dituntun untuk meresapi makna kesederhanaan dalam menjalani shaum. Karena sebenarnya, kesederhanaan, sikap qonaah dan tidak mudah menuruti keinginan itulah salah satu nilai yang seharusnya bisa diraih dengan melaksanakan shaum. Kalau waktu shaum justru menjadi ajang eksplorasi kuliner, faidah-faidah di atas tak mungkin bisa di dapat. Cukup satu-dua menu untuk sehari dan bisa diganti dengan variasi lain di hari berikutnya. Dengan begitu, ibu tak perlu pusing memasak banyak menu hingga bisa menggunakan waktu dan tenaganya untuk beribadah.

Apalagi jika kita berpikir, jangan-jangan Ramadhan ini adalah Ramadhan terkahir bagi kita. Berarti inilah kesempatan kita untuk memaksimalkan perjumpaan di bulan istimewa ini. Jadi, beranikah ibu-ibu menerima tantangan ini?

 

%d bloggers like this: