Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya

Tanya: Sebenarnya, apa hukum mengucapkan selamat hari raya baik untuk personal maupun umum. Apakah bid’ah?

Jawab:

Termasuk perkara yang baik dan dimasyru’kan adalah bergembira di hari ‘ied misalnya dengan saling memberikan hadiah dan hiburan yang tidak melanggar batas-batas syar’i. Terdapat hadits yang dikisahkan ‘Aisyah, ia berkata :

“(Suatu ketika) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk, maka kami mendengar suara hiruk pikuk dan suara anak-anak kecil, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, ternyata seorang budak wanita habasyah sedang menari dan bermain, sedangkan di sekitarnya ada beberapa anak-anak kecil. Maka beliau bersabda: “Kemarilah wahai Aisyah dan lihatlah.” Akupun datang, sambil menaruh daguku di atas pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku melihat pertunjukan itu -yaitu antara pundak sampai kepala beliau-, maka beliau bersabda kepadaku: “Apakah kamu sudah puas, apakah kamu sudah puas?” jawabku; “Belum.” karena aku masih ingin berada di dekat beliau, tiba-tiba Umar muncul, Aisyah berkata; “Maka orang-orang (yang ada di situ) sama berlarian.” Aisyah berkata; maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku telah melihat syetan dari jenis jin dan manusia telah lari dari Umar.” Aisyah berkata; “Lalu aku pun kembali.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan Al Albaniy)

Berkenaan dengan tahni`ah (ucapan selamat hari ied) di hari Ied, misalnya dengan ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum”, “iedul mubarak” atau yang sejenisnya,  tidak ada nash dari Rasulullah tentang ucapan selamat ini. Al Hafidz al Maqdisiy menilai hal itu bukanlah sunnah dan bukan pula bid’ah. (Nihayatul Muhtaj 2/391)

Imam Ahmad t di dalam al Mughni 2/399, berkata, “Saya tidak mengawali mengucapkan tahniah ini kepada seseorang pun, namun bila ada yang mengawali memberi tahniah ini, saya jawab tahniahnya.”

Imam Malik berpendapat dalam ucapan “taqabbalallahu minna wa minka, wa ghafara lana wa laka” di hari Ied, “Saya tidak mengetahuinya dan saya tidak mengingkarinya.” Ibnu Habib menjelaskan perkataan Imam Malik, maksudnya tidak diketahui ada sunnahnya, dan tidak diingkari orang yang mengatakannya, karena ini termasuk perkataan yang baik dan sekaligus doa. (al Fawakih ad Diwaniy 1/322).

Jadi  ucapan selamat hari raya baik dengan bahasa Indonesia maupun bahasa Arab seperti kullu ‘am wa antum bi khair, iedun mubarak adalah boleh. Memang tidak ada sunahnya, tapi jika diucapkan juga bukan yang dilarang. Islam memberi keleuasaan dalam banyak hal.

Masih berhubungan dengan ucapan di hari ied, adalah yang berkaitan dengan hari raya agama lain. Maka para ulama melarang dengan keras seorang muslim mengucapkan selamat kepada orang kafir sehubungan dengan hari raya mereka. Wallahua’lam bish shawab.

%d bloggers like this: