Manusia Melihat Jin

Manusia Melihat Jin

Antara percaya dan tidak percaya, begitulah sikap orang dalam kasus ini. Di antara kaum muslimin tak sedikit yang masih bimbang dan bingung dalam mengkompromikan antara dalil satu dengan yang lain, atau antara dalil dengan fakta dan pengakuan di lapangan.

Ada yang tidak percaya bahwa manusia bisa melihat jin, karena jin adalah makhluk gaib, tidak bisa dilihat. Juga berdasarkan firman Allah,

“Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”                                  (QS Al-A’raf 27)

Lantas, bagaimana dengan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa jin maupun setan pernah terlihat? Juga pengakuan banyak orang yang mengaku pernah melihat penampakan dan semisalnya?Seperti misalnya setan yang menampakkan diri dalam wujud Suraqah bin Malik ketika perang Badar. Juga tentang seorang sahabat Anshar yang bergulat dengan seekor ular, yang akhirnya keduanya mati, lalu Nabi katakan bahwa ular itu adalah jin. Kisah tentangnya diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri dalam Shahih Muslim.

Abu Hurairah juga meriwayatkan dalam Shahih Bukhari, bahwa beliau menangkap makhluk yang mencuri harta baitul mal yang dijaganya, lalu Nabi berkomentar tentangnya, “dzaaka syaithaan”, ia adalah setan (dari golongan jin).

Sebenarnya, dalil dan fakta yang ada tidaklah saling bertentangan. Bahwa pada dasarnya manusia memang tidak bisa melihat jin. Hanya saja, jin bisa melakukan tasyakkul (penampakan) di dunia manusia. Bukan karena kemampuan manusia yang bisa melihat, tapi kemauan jin yang melakukan tasyakkul.

Meskipun jin adalah makhluk gaib, tidak menutup kemungkinan mereka menampakkan diri dan terlihat oleh manusia, tapi bukan dalam wujud aslinya. Sebagaimana Jibril yang merupakan makhluk gaib, pernah pula menampakkan diri dalam wujud laki-laki yang amat putih bajunya, amat hitam rambutnya dan tidak ada bekas safar. Dan para sahabat menyaksikan kejadian itu. Dia bertanya kepada Nabi perihal islam, iman, ihsan dan hari Kiamat. Setelah pergi, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengungkap identitas beliau, ”haadza Jibriil ja’a liyu’alliman naas diinahum”, dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan manusia perihal agama mereka. (HR Bukhari dan Muslim).

Begitupun halnya dengan jin yang pernah terlihat di dunia nyata. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan perkataan Imam Syafi’i, “Barangsiapa mengklaim dirinya dapat melihat jin, maka kami menganggap kesaksiannya batal, kecuali jika dia seorang nabi.”

Maksudnya, “Yang beliau katakan ini adalah bagi orang yang mengklaim melihat jin dalam bentuk aslinya sebagaimana dia diciptakan. Sedangkan orang-orang yang melihat jin dalam bentuk yang telah melakukan penyerupaan dalam bentuk hewan misalnya, maka hal itu tidak mengapa, karena berbagai riwayat telah menyebutkan tentang adannya tasyakkul jin.” ((Fathul Bari VI/396))

Adapun tentang ‘taghawul’ yang oleh orang kita disebut penampakan hantu, Umar bin Khathab berpendapat, “Mereka melakukan sihir sebagaimana kalian (manusia) ada yang melakukan sihir.” Wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah)

 

<a href=”http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/melihat-jin.jpg”><img class=”alignleft size-thumbnail wp-image-1205″ title=”melihat-jin” src=”http://www.arrisalah.net/wp-content/uploads/2011/12/melihat-jin-150×150.jpg” alt=”” width=”150″ height=”150″ /></a>

%d bloggers like this: