Ujian Berat yang Melenakan

Ujian Berat yang Melenakan

Selain silaturahim, liburan Syawal acapkali menjadi ajang reuni. Bertemu dengan kawan-kawan lama dengan segala profesinya saat ini. Ada yang dulu hidup susah, kini telah sukses dan punya mobil mewah. Ada juga yang mungkin bernasib sebaliknya,  dulu hidupnya gemah ripah tapi kini roda nasibnya sedang berada dibawah.Semua itu hal yang lumrah. Nasib manusia memang bisa berubah sesuai kehendak Allah.
Itulah lukisan kehidupan yang penuh warna. Dan kalau kita renungi, sebenarnya yang tengah melenggang di jalur kesuksesan dan yang sedang mendaki jurang kesusahan memiliki tantangan dan resiko sama beratnya. Yang hidupnya sedang susah, sabar menjadi keharusan. Hilangnya kesabaran akan menggelincirkannya ke dalam jurang kedurhakaan. Sedang yang tengah melaju nyaman di jalur kesuksesan, syukurlah yang tengah ditantang. Hilangnya syukur akan menumbuhkan kufur.

Ujian syukur lebih berat
Pada taraf tertentu, ujian atas kesyukuran akan lebih rumit dan sulit daripada ujian kesabaran. Letak kesulitannya ada pada sifat ujian yang melalaikan. Yang diuji sering tidak merasa sedang mengerjakan lembar soal, tapi sebaliknya, sedang menikmati nilai hasil belajar. Kesuksesan dan kenyamanan hidup membuat manusia lupa bahwa sejatinya ada sesuatu dalam dirinya yang sedang diuji secara ketat yaitu rasa syukurnya.
Standar minimal kelulusannya adalah ketika seseorang mampu secara jujur untuk senantiasa mengakui bahwa kesuksesannya adalah anugerah ilahi. Selanjutnya menggunakan semua nikmat itu sebagai sarana meraih kesuksesan di kehidupan berikutnya. Tapi, bahkan untuk memenuhi standar minimal ini, banyak kontestan uji syukur yang gagal.
Secara samar atau bahkan terang-terangan orang yang setelah sukses lupa kepada Allah dan berganti mendewakan kerja kerasnya. Kerja keraslah yang menjadi aspek utama keberhasilan hingga menjadi bahan utama dalam riwayat kesuksesan. Lautan keringat telah dilalui, beribu lelah dan letih telah dirasai, dan tembok-tembok  keputusasaan telah dilampaui. Inilah kristalisasi keringat, upah segala lelah dan dermaga bagi perahu asa berlabuh.
Yang lain begitu membanggakan kecerdasan. Kecerdasan pun beruntung disemati mahkota penghormatan sekaligus lencana tanda jasa bagi keberhasilannya. Kelincahan otaknya dalam menalar dan mengurai masalah memuluskan jalannya menuju puncak. Tapi, yang memberi otak tidak pernah disebut-sebut sama sekali.
Yang lebih parah dari semua adalah yang menganggap dia sukses berkat jimat. Awalnya mungkin ragu, benarkah jimat bisa bermanfaat? Tapi keraguan ditepis, siapa tahu namanya juga usaha. Dan akhirnya ketika Allah menghendakinya meraih kesuksesan, dia tersenyum. Tersenyum kepada si jimat dan mulai menanam rasa percaya padanya, “Tak kusangka, ternyata kamu hebat juga ya”.
Mirip Qarun
Dalam kitab al Fawaid (II/206), Ibnul Qayim al Jauziyah menjelaskan bahwa memang kebanyakan manusia seperti itu. Jika mendapat kesuksesan setelah lama berjibaku dalam lumpur kesengsaraan, dia akan menisbatkan sukses itu pada dirinya sendiri. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:
وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي

“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata:”Ini adalah hakku…” (QS. 41:50)
Seseorang merasa berhak atas kesuksesan tersebut karena melihat segala usaha yang telah dilakukan, tanpa dibarengi pengakuan bahwa sejatinya semua itu adalah anugerah dari Allah. Ibnul Qayim lantas menghubungkan ayat ini dengan ucapan Qarun yang super congkak atas kesuksesannya memecahkan rekor manusia kaya yang bahkan mungkin belum tertandingi hingga kini. Bukannya bersyukur, Qarun malah menyombongkan diri dengan berkata, “Semua ini karena ilmu yang kumiliki”. Padahal semua itu adalah karunia Allah dan ujian baginya. Allah berfirman,
فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata:”Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”.Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS. 39:49)

Usaha dan pengakuan
Semua nikmat dan kesuksesan memang harus dikembalikan kepada Allah. Tanpa bimbingan dan izin dari-Nya, mustahil semua itu berada di genggaman kita. Namun begitu, bukan berarti kita lantas menafikan adanya ikhtiar atau usaha. Seperti penganut Jabariyah yang menggap bahwa manusia tak ubahnya wayang yang digerakkan oleh Tuhan. Manusia tidak punya usaha apa-apa. Dia hanya bergerak sesuai dengan gerakan yang dituntun Tuhan. Termasuk saat mendapat nikmat bahkan saat bermaksiat. Tentunya pemahaman ini jelas keliru.
Usaha manusia tetap ada andilnya sebagai sarana pemicu kesuksesan. Hanya saja di akhir segalanya, dengan segala kerendahan hati, seorang mukmin harus mengakui bahwa keberhasilan ini adalah sedekah dari ilahi. Juga menjadi ujian atas kesyukurannya kepada Allah. Karenanya, persepsi yang harus senantiasa dicamkan dan ucapan yang harus selalu disumbarkan adalah persepsi dan ucapan Nabi Sulaiman bin Daud setelah menerima kekuasaan paling adidaya. Kekuasaan yang tidak akan bisa ditandingi oleh rezim manapun setelahnya. Tepatnya ketika salah seorang anak buahnya berhasil memindahkan singgasana secepat kedipan mata. Disebutkan dalam al Quran bahwa Nabi Sulaiman mengatakan,
قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“..ia –Sulaiman- pun berkata:”Ini adalah  kurnia Rabbku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). (QS. An Naml; 40)
Pertama, mensyukuri dan  mengakui secara jujur bahwa semua ini adalah nikmat dan anugerah dari Allah. Lalu, pengakuan itu diiringi dengan kesadaran bahwa pada hakikatnya, nikmat ini juga menjadi ujian. Adakah dia bersyukur; dengan rendah hati mengakui bahwa  nikmat itu dari Allah dan menggunakannya guna meraih ridha-Nya? atau kufur; dengan angkuhnya mengklaim bahwa kehebatannyalah yang mewujudkan keberhasilan itu, lalu menggunakanya untuk segala hal yang dibenci-Nya.
Oleh karena itu, apabila saat ini kita tengah melaju di jalur kesuksesan, jangan lupa untuk senantiasa mengingat dan meresapi ucapan Nabi Sulaiman ini. Kita tanamkan ucapan itu dalam pikiran dan kita sertakan dalam setiap cerita sukses yang kita sampaikan. Agar kesombongan tidak menjamur dan kita tetap sadar bahwa semua ini adalah ujian atas rasa syukur. Wallahua’lam. (anwar)

%d bloggers like this: