Banyak Alasan Tanda Lemah Kemauan

Banyak Alasan Tanda Lemah Kemauan

Kisah Imam hadits Baqi bin Makhlad Al-Andalusi adalah gambaran dari kuatnya kemauan seorang penuntut ilmu. Dari Andalusia, beliau berjalan, mendaki bukit, menyusuri lembah dan menyeberangi laut menuju Baghdad untuk belajar hadits kepada Imam Ahmad. Beliau bercerita, ”Ketika aku hampir tiba di Baghdad, aku mendengar berita ujian yang menimpa Ahmad bin Hanbal. Kabarnya, beliau dilarang oleh penguasa untuk berkumpul dan menyampaikan ilmu kepada khalayak.”

 

Ada Kemauan, Ada Jalan

Berita itu tidak menyurutkan kemauan Baqi untuk tetap menimba ilmu kepada Imam Ahmad. Beliau yakin, selagi kuat kemauan, jalan akan terpampang di hadapan, seperti wejangan ahli hikmah, ”idza shadaqal ’azmu wadhahaas sabiil’. Maka diam-diam beliau mencari tempat tinggal sang Imam hingga berhasil bertemu dengannya. Tatkala mengetahui negeri asal dan kesungguhan Baqi, Imam Ahmad berkata, ”Negerimu benar-benar jauh. Tidak ada sesuatu yang lebih aku sukai daripada membantu orang sepertimu dengan baik, sehingga harapan bisa terwujud. Hanya saja,  mungkin kamu juga sudah mendengar tentang ujian yang sedang saya hadapi.”

Baqi berkata, “Benar, saya telah mendengarnya. Tapi ini adalah kedatanganku yang pertama, belum penduduk sini yang mengenaliku. Jika Anda berkenan, saya akan datang setiap hari dengan menyamar sebagai pengemis. Di depan pintu, aku akan mengucapkan apa yang biasa diucapkan para peminta-minta. Lalu, saya mohon Anda sudi keluar ke tempat ini. Seandainya Anda tidak menyampaikan setiap hari kecuali hanya satu hadits saja, maka itu sudah cukup bagiku.”

Bagitulah, pada hari berikutnya, beliau mengambil ranting pohon sebagai tongkat, dan membalut kepalanya dengan kain. Kertas dan tinta ia sembunyikan di balik lengan bajunya. Lalu, ia mendatangi pintu Imam Ahmad sambil berseru, ”Pahala, semoga Allah merahmati kalian.” Begitulah yang biasa diucapkan pengemis di sana. Maka, Imam Ahmad keluar dan menyampaikan dua, tiga hadits. Hal itu berlangsung secara rutin, hingga penguasa berganti dan Imam Ahmad kembali leluasa berdakwah. Dengan kesungguhannya ini, Imam Ahmad pernah memuji Baqi di tengah-tengah para ahli hadits, ”Orang ini berhak menyandang predikat sebagai pencari ilmu.”  Setelah itu, beliau menceritakan kisah Baqi kepada mereka.

Nah, sekarang adakah orang segigih beliau dalam mencari ilmu? Yang tidak pernah menyerah menghadapi rintangan. Seribu hambatan belum cukup alasan untuk menghentikan langkahnya di jalan ilmu. Karena selalu ada jawaban lebih untuk menampik segala alasan yang melunturkan semangat.

 

Banyak Alasan, Tanda Lemah Kemauan

Sekarang kita lihat pemandangan yang sangat kontras pada kondisi umat sekarang (semoga Allah memperbaiki keadaan kita). Betapa ilmu syar’i menjadi sesuatu yang tak lagi diminati. Gairah untuk mencari kebenaran seakan padam laksana lentera yang kehabisan minyaknya. Apapun bisa menjadi alasan untuk pasrah dalam ketidaktahuan.

Sesekali beralasan tak memiliki kendaraan untuk menuju tempat kajian. Lain waktu beralasan kurang enak badan. ’Lagi ada keperluan’, juga menjadi alasan paling populer untuk absen dari majlis ilmu. Saat semuanya tersedia dan longgar, giliran ’lupa’ menjadi alasan yang diandalkan.

Apalagi, jika ternyata majlis ilmu sulit didapatkan, atau untuk menghadirinya harus menempuh jauhnya perjalanan. Komplit sudah beban yang memasung kemauan. Sebenarnya, satu alasan sudah cukup untuk menghentikan langkah si lemah kemauan, namun semua kilah akan dia ungkapkan untuk menutupi lemahnya.

Jika lemah mental seperti ini menjadi watak yang mendarah daging, maka kemampuan menjadi tak berarti. Karena hanya kemauan yang mampu menggerakkan kemampuan, hingga tercapailah apa yang menjadi tujuan. Bakat yang hebat pun menjadi tidak manfaat lantaran kosong dari minat, layaknya mobil yang bagus dan mewah, namun tak diisi bahan bakar untuk berjalan. Begitupun dengan peluang dan kesempatan, semua menjadi sia-sia saat terbuka di depan orang yang tak memiliki kemauan.

Padahal, pada banyak nash (dalil), karakter lemah kemauan itu dekat sekali dengan ciri kemunafikan. Yang suka berpayungkan alasan supaya ditolelir dari kewajiban, Seperti firman Allah Ta’ala,

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu Amat jauh terasa oleh mereka. mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau Kami sanggup tentulah Kami berangkat bersama-samamu.” mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS at-Taubah 42)

Jikalau pun mereka berangkat dan menempuh jalan taat, keluhan akan terus mengalir dari bibir. Atmosfir kemalasan juga sangat tampak pada raut maka dan gerak-geriknya. Mereka juga terlampau bakhil untuk mencurahkan pengorbanan dalam ketaatan. Seperti yang Allah sifatkan tentang mereka,

Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS at-Taubah 54)

Berapa kali sejarah mencatat, orang-orang munafik mundur si tengah jalan, dan bahkan disertai upaya penggembosan dengan berbagai alasan, agar yang lain juga turut bergabung bersama mereka dan mundur dari perjuangan. Semoga Allah melindungi kita dari lemahnya kemauan dan watak kemunafikan. Aamiin (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: