Menabur Angin Terhindar Badai

Menabur Angin Terhindar Badai

Dr. Sayyid Husain Al-Afani, penulis buku Al-Jaza’ Min Jinsil Amal memaparkan sebuah cerita dari masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Banyak terjadi konflik dan huru-hara pada era pemerintahan beliau. Tidak sedikit pula kaum muslimin yang menyempal dari jamaatul muslimin. Salah seorang pembangkang berkata kepada beliau dengan maksud mengejek kredibilitasnya sebagai khalifah. “Kenapa bisa terjadi banyak konflik pada era pemerintahan anda, padahal sebelumnya belum pernah terjadi seperti pada masa Abu Bakar?”

Ali bin Abi Thalib menjawab, “Abu Bakar As-Shiddiq menjadi pemimpin dan mengatur orang-orang seperti aku. Sedangkan aku menjadi pemimpin untuk orang-orang seperti kalian.” Jawaban ini membungkam si pembangkang. Beliau mematahkan argumen yang membandingkan masa pemerintahan beliau dengan kekhilafahan sebelumnya. Abu bakar dan Umar adalah contoh pemimpin shalih yang memimpin orang-orang yang masih shalih. Sedangkan Ali bin Abi Thalib memimpin orang-orang yang tidak shalih, suka membangkang dan susah diatur.

Sikap penduduk Kufah yang membangkang dan mengkhianati Ali harus mereka tebus dengan harga mahal. Sebab, Allah swt menakdirkan pemimpin yang jahat dan buruk perangainya bagi mereka. Namanya yaitu Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.  Ibnu katsir mengatakan bahwa Hajjaj adalah hukuman untuk para pembangkang atas kesalahan mereka keluar dari permerintahan Ali bin Abi Thalib dan akibat makar mereka kepada beliau.

Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa Allah menghukum para pembangkang dan mengabulkan doa Ali bin Abi Thalib. Yaitu, “Ya Allah sebagaimana engkau mengmanatkanku atas mereka tapi mereka mengkhianatiku. Sebagaimna aku selalu menasehati mereka, sedangkan mereka menipuku. Maka jadikan pemimpin mereka seorang pemuda yang keras dari bani tsaqif yang makan dari hasil bumi mereka, memakai pakaian dari kain mereka dan memerintah secara jahiliyah.”

Setiap kali orang berlaku dzalim kepada orang lain. Pada hakekatnya sedang mengundang malapetaka untuk diri sendiri. Takdir buruk yang menimpa manusia, seperti musibah, kesulitan hidup hingga tertimpa penyakit. Itu semua bisa dipastikan adalah akibat perbuatannya sendiri. Karena itu, jangan menabur angin kedzaliman jika tak ingin diterjang badai hukuman. Allah berfirman yang artinya,

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’: 79)

Hukuman tersebut kadang merupakan pengkabulan dari doa orang yang terdzalimi. Sebab, doa korban kedzaliman termasuk doa yang dekat dengan istijabah. Meskipun, doa tersebut dilantunkan oleh orang yang tidak beriman. Rasulullah saw bersabda,

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِراً فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ

 

“Kalian harus takut terhadap doa orang terdzalimi, meskipun orang kafir. Karena doa orang terdzalimi tidak ada penghalangnya.” (HR. Ahmad, shahih)

Tiada jalan selamat dari akibat buruk kedzaliman melainkan bertaubat. Adapun untuk dosa kepada Allah, manusia cukup memohon ampun kepada-Nya sambil berupaya maksimal meninggalkan dosa dengan penyesalan yang dalam. Lalu berjanji tidak mengulangi lagi. Sedangkan, kedzaliman kepada manusia belum terangkat dosanya jika tidak meminta maaf kepada orang yang disakiti.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa jika kedzaliman tersebut terkait dengan hak atau harta manusia. Misalnya dalam kasus ghasab dan memanipulasi hukum demi merebut harta orang. Maka, untuk memutihkan kesalahan tersebut dengan cara memohon kerelaan pemilik harta. Lalu mengembalikan harta yang bukan miliknya jika masih utuh atau menggantinya jika telah digunakan. Jika ia tidak dapat memberikan kepada pemilik, boleh diganti dengan bersedekah kepada fakir miskin dengan niat membayarkan hak atas nama pemilik harta sebenarnya.

Jika seandainya belum mampu, tidak berarti kewajiban ini terlepas begitu saja. Ia tetap harus berazam untuk melunasinya nanti jika Allah melapangkan rejeki. Ditambah lagi dengan banyak beramal shalih dan memohon ampun kepada Allah. Agar jika sewaktu-waktu Allah memisahkan ruh dari raganya sebelum kewajiban tadi tertunaikan,  Allah berkenan memberi rahmat dan ampunan.

Jika kedzaliman berkaitan dengan hak manusia selain harta. Seperti kekerasan fisik, fitnah atau merusak nama baik. Maka, harus memohon maaf dan keridhaan orang tersebut. Seandainya si korban meminta qishas, ia harus menjalaninya dengan kerelaan hati.

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

 

Dari Abu Hurairah ra yang mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap saudaranya atau sesuatu apaun hendaklah meminta kehalalal (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, (pada hari kiamat nanti) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kedzalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang didzalimi itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Jadi, memutus ‘karma’ kedzaliman ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh sebab itu, Rasulullah saw berupaya maksimal agar tidak pernah menyakiti orang lain. Seperti dalam sebuah kisah tatkala beliau sedang meluruskan barisan para shahabat pada Perang Badar. Shahabat yang bernama Sawad bin Ghaziyyah bergeser dari barisannya. Beliau pun memukulnya dengan anak panah sambil bersabda, ”Luruskan barisanmu wahai sawad!”.
Sawad menjawab, ”Wahai Rasulullah, engkau telah membuatku sakit. Maka berikanlah aku kesempatan untuk membalasnya”.

Maka beliau menyingkap baju dibagian perutnya seraya bersabda, ”kalau begitu balaslah”.
Serta merta Sawad memeluk perut beliau. Beliau bertanya, ”Ada apa kamu ini wahai Sawad?”
Sawad menjawab, ”Wahai Rasulullah, telah datang apa yang engkau lihat pada saat ini. Sejak lama aku ingin agar kulitku dapat bersentuhan dengan kulit engkau pada saat-saat terakhir aku hidup bersama engkau”. Lalu beliau mendoakan kebaikan untuknya. Wallahu A’lam.


 

%d bloggers like this: