Mengumpat Setan berarti Memuji

Mengumpat Setan berarti Memuji

Mengumpat. Ekspresi dari rasa marah dan kesal dalam ungkapan verbal yang menghina. Mengumpat menjadi pelampiasan marah yang paling sering dilakukan.  Bahkan tak sedikit yang secara reflek pasti mengumpat saat amarah mencuat. Memang, tidak mudah menahan diri untuk tidak mengumpat saat marah. Baik umpatan ditunjukan langsung pada subjek pemicu marah atau hanya berupa umpatan dalam gumam. Berbeda dengan pelampiasan marah berupa tindakan memukul atau yang lebih jauh lagi. Kalau yang ini, biasanya orang masih bisa berpikir untuk tidak memperpanjang masalah dengan melakukannya.

Karena sulit, tidak sedikit yang memilih memlesetkan kata-kata kasarnya menjadi kata lain. Dia tidak ingin mengucapkan kata-kata kasar, tapi sulit untuk tidak mengumpat saat kesal.  Akhirnya, kata-kata kasar diplesetkan menjadi kata-kata yang tidak bermakna, atau ada yang mengganti dengan kata lain yang sebenarnya tidak pas untuk mengumpat. Misalnya, biasanya orang menggunakan kata anjing, tapi biar tidak kasar diganti jangkrik.

Namun begitu, umpatan tetaplah umpatan. Sisi yang hendaknya dijauhi bukan sekedar kata-kata kasarnya, tapi juga luapan amarahnya. Karenanya, jika kita ingin memiliki kemampuan mengendalikan marah dengan sempurna, kita harus belajar menahan diri agar lisan kita juga pandai menahan marah.

Apalagi jika yang kita hadapai adalah saudara muslim. Bukankah dalam hadits disebutkan bahwa “Mengumpat orang muslim itu adalah perbuatan fasik, dan membunuhnya merupakan perbuatan kufur.” (muttafaq alaih)

Jangankan orang muslim yang merupakan saudara kita, bahkan musuh kita yang paling nyata sekalipun tidak boleh diumpat. Siapa dia? Setan. Ya setan. Padahal setan adalah sumber segala keburukan hingga rasa-rasanya patut kiranya jika dilempari dengan kata-kata kasar. Tapi ternyata Rasulullah melarang hal itu. Pasalnya,mengumpat setan justru tidak akan membuatnya terhina tapi malah bangga. Umpatan buruk baginya tak ubahnya tepuk sorak yang semakin meneguhkan bahwa keburukan yang dilakukannya benar-benar buruk. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنْ أَبِى الْمَلِيحِ عَنْ رَجُلٍ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَعَثَرَتْ دَابَّتُهُ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ . فَقَالَ : لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ.

 

Diriwayatkan dari Abu Malih dari seorang laki-laki, ia berkata, “Ketika aku dibonceng Nabi shallalloohu’alaihi wa sallam tiba-tiba unta beliau tergelincir. Serta-merta aku katakan, ‘Celakalah syaitan.’ Lalu beliau bersabda, ‘Jangan kamu katakan, ‘celakalah syaitan,’ sebab jika kamu katakan seperti itu maka syaitan akan membesar sebesar rumah dan berkata, ‘Demi kekuatanku,’ Akan tetapi ucapakanlah ‘Bismillah’ sebab jika kamu ucapkan lafadz tersebut syaitan akan mengecil hingga sekecil lalat’.” (Shahih, HR Abu Dawud [4982]).

Umpatan baginya serasa pujian yang membuatnya semakin sombong. Bukankah manusia juga kadang begitu? Saat seseorang berhasil membuat sebuah karya luarbiasa dan banyak menuai pujian, dia tidak akan marah, bahkan bangga jika ada yang melihat karyanya lalu malah bilang, “Gila nih yang bikin!”. Umpatan itu justru menjadi pujian dosis tinggi yang membanggakan.

Dalam kultur kita, mungkin tidak terbiasa mengumpat setan secara langsung. Yang biasa terjadi adalah menggunakan kata “setan” atau “anak setan” atau “iblis” sebagai penisbatan untuk mengumpat perbuatan yang memicu amarah. Wallahua’lam, sepertinya kata-kata ini juga akan berdampak sama dengan mengumpat setan secara langsung.

Nah, tentunya kita tidak akan membiarkan setan berbangga diri. Syariat selalu mengajarkan kita berbagai cara agar setan terhina dan kalah. Karenanya, jangan sampai kita justru memujinya tanpa sadar dengan umpatan.

Tak jauh beda dengan setan dari golongan jin, mengumpat setan dari golongan manusia juga dilarang. Khususnya umpatan atau hinaan atas tuhan mereka. Tema “tuhan” akan menjadi isu paling sensitiv jika disinggung. Ini biasa terjadi jika kita terlibat perdebatan soal ketuhanan. Saat perdebatan memanas, adakalanya kita terpancing dan tak tahan untuk tidak mengumpat tuhan dan keyakinan mereka. Aksi hina-menghina pun tak terelakkan.

Dulu para shahabat juga sering menghina berhala.Hal itu dilakukan guna menguatkan keyakinan bahwa berhala tidak mampu mendatangkan bahaya meski dicaci maki. Namun kemudian, orang-orang musyrik tidak terima dan balas menghina Allah. Dari segi manfaat dan madharat, hinaan kepada berhala jauh lebih kecil manfaatnya dibanding madharat yang muncul karenanya berupa hinaan dan umpatan kepada Allah. Karenanya, hal ini pun dilarang. Allah berfirman;

وَلاَ تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

 

“Dan janganlah kalian mencaci orang-orang yang berdoa kepada selain Allah lalu mereka mencaci Allah dengan penuh kebencian dan tanpa ilmu.” (QS. Al An’am;108)

Di dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsier mengait0kan hal ini dengan larangan mencaci orangtua dari ksesama muslim karena hal itu berarti mencaci dan mengumpat orangtua sendiri. Karena setelah mencaci, orangtuanya juga akan dibalas dicaci maki.

Pada akhirnya, memang tak ada pilihan bagi kita selain berusaha sekuat tenaga menahan diri dari melampiaskan marah dalam umpatan. Mengingat pelampiasan sesaat ini tidak akan membawa manfaat bahkan mendatangkan keburukan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang kuat karena mampu menahan marah. Amin.

%d bloggers like this: