Sayang pada Binatang

Sayang pada Binatang

Ketika tengah berjalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Dia turun ke suatu sumur untuk minum. Tatkala keluar, tiba-tiba ia melihat seekor anjing yang sedang kehausan sehingga menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah yang basah. Orang itu berkata: “Sungguh anjing ini dahaga sebagaimana yang aku rasakan.” Lalu ia turun lagi ke sumur. Ia penuhi sepatu kulitnya dengan air. Ia bawa sepatu itu dengan mulutnya lalu naik dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah berterima kasih terhadap perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (bila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda: “Pada setiap yang memiliki hati yang basah, ada pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim. Syaikh Al Albani menyebutkan hadits ini shahih)

Hati yang basah adalah perumpamaan bagi semua makhluk hidup termasuk binatang. Karena makhluk yang mati, hati dan badannya mengering, tidak basah. Karena itulah, Imam Nawawi menyimpulkan kisah di atas bahwa berbuat baik kepada binatang hidup -yang tidak diperintahkan untuk dibunuh-, baik dengan cara memberi minum atau lainnya akan mendapatkan pahala dari Allah.

 

Termasuk ajaran Islam

Islam mengajarkan untuk menebarkan kasih sayang kepada seluruh alam semesta. Tidak hanya kepada sesama manusia, namun makhluk lain juga harus mendapatkan pengaruh kasih sayang dari ajaran Islam ini termasuk binatang. Karena Allah telah menciptakan kehidupan binatang bersinggungan dengan kehidupan manusia, bahkan mempermudah kehidupan manusia.

Allah ta’ala telah berfirman,

Dan binatang ternak telah diciptakan-Nya untuk kalian, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, serta sebagiannya kalian makan. Dan kalian memperoleh keindahan padanya, ketika kalian membawanya kembali ke kandang dan ketika kalian melepaskannya. Dan ia mengangkut beban-beban kalian ke suatu negeri yang kalian tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Rabb kalian benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, baghal dan keledai untuk kalian tunggangi dan sebagai perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kalian ketahui.” (An Nahl: 5-8)

Dalam sejarah Islam, hubungan antara manusia dengan binatang terjalin dengan baik, contohnya adalah hubungan antara Ashabul Kahfi dengan anjing mereka. Nabi Sulaiman dengan rombongan semut yang beliau perintahkan agar masuk ke lubangnya agar tidak terinjak kaki pasukan nabi Sulaiman. Demikian pula Rasulullah, ketika hijrah ke Madinah beliau mengendarai onta beliau yang bernama Al Qashwa`. Ada pula seorang sahabat yang nama aslinya adalah Abdurrahman bin Shakhr. Ia gemar membawa kucing kecil hingga Rasulullah memberikan panggilan kesayangan untuknya dengan sebutan Abu Hurairah, yang artinya ayah kucing.

Binatang pun mengadu

Binatang juga merasakan sakit dan kelelahan sebagaimana manusia. Maka Islam melarang membebani dan mempekerjakan binatang diluar kemampuannya.

Suatu saat Rasulullah saw memasuki sebuah kebun milik sahabat Anshar. Di kebun itu terdapat seekor onta, yang tiba-tiba matanya mengeluarkan air mata ketika melihat Rasulullah. Akhirnya beliau bertanya,”Siapa pemilik onta ini?” Saat itu seorang pemuda datang dengan mengatakan,”Saya wahai Rasulullah.” Beliau pun menyampaikan,”Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini? Sesungguhnya ia mengadu kepadaku, bahwa engkau membiarkannya lapar dan terus-menerus memaksanya bekerja.” (HR. Abu Dawud)

Rasulullah saw juga bersabda:

 

مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ

 

“Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (oleh Allah).” (HR. Bukhari)

Membunuh pun dengan cara yang baik

Imam Qurthubi mengatakan bahwa janji Allah swt berupa ampunan dan pahala yang melimpah yang akan diberikan kepada orang yang berbuat baik kepada binatang bukan berarti kita tidak boleh membunuhnya. Kita boleh membunuh binatang jika dengannya akan mendatangkan mashlahah. Contohnya membunuh binatang jahat yang merusak dan banyak mengganggu manusia, merusak tanaman dan memakan ternak. Rasulullah menyebutkan macam-macam binatang tersebut:

“Lima binatang yang semuanya jahat, (boleh) dibunuh di tanah haram (suci) yaitu: burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus, dan anjing yang suka melukai.”                 (HR. Bukhari)

Namun membunuhnya harus dengan cara yang baik. Tidak boleh dicincang atau dibakar dengan api. Rasulullah saw bersabda:

“Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Rabb yang memiliki api (yaitu Allah)” (HR. Abu Dawud)

Diperbolehkan pula menyembelih binatang yang halal untuk dimakan. Namun dalam masalah menyembelih, Rasulullah memberikan tuntunan sebagai bentuk kasih sayang pada binatang diantaranya dengan menajamkan pisau. Karena pisau yang tumpul akan sulit digunakan untuk menyembelih sehingga binatang yang disembelih tersiksa karenanya. Nabi saw bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

 

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Bila kamu membunuh maka baguskanlah dalam membunuh dan bila menyembelih maka baguslah dalam cara menyembelih. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan pisaunya dan membuat nyaman binatang sembelihannya.” (HR. Muslim)

Termasuk berbuat baik kepada binatang adalah tidak mengasah pisau yang akan kita gunakan untuk menyembelih di hadapan binatang tersebut, karena akan menyakitinya. Dahulu Nabi saw pernah menegur orang yang melakukan demikian dengan sabdanya: “Mengapa kamu tidak mengasah sebelum ini? Apakah kamu ingin membunuhnya dua kali?” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

 

Masuk neraka gara-gara binatang

Bila orang yang berbuat baik kepada binatang mendapatkan ampunan dari Allah, maka sebaliknya orang yang menzhalimi binatang akan diancam dengan adzab-Nya. Nabi saw bersabda:

“Seorang wanita disiksa karena kucing yang dikurungnya sampai mati. Dengan sebab itu dia masuk neraka, (dimana) dia tidak memberinya makanan dan minuman ketika mengurungnya, dan dia tidak pula melepaskannya sehingga dia bisa memakan serangga yang ada di bumi.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah selalu menganugerahkan rasa kasih sayang kepada kita, meski pada binatang. (Abu Hanan)

%d bloggers like this: