Agar Tabir Tak Terkoyak

Agar Tabir Tak Terkoyak

Dalam kitab Shahih Bukhari, Imam Bukhari menyebutkan sebuah kisah menarik tentang Rasulullah n, Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Umar menemui Utsman. Beliau bermaksud menawarkan Hafsah, putrinya agar dipersunting oleh Utsman. Utsman tidak langsung mengiyakan ataupun menolak. “Saya pikir-pikir dulu.” Jawabnya.

Setelah beberapa hari, Utsman bin Affan memberi jawaban. “Untuk saat ini, saya belum ingin menikah lagi.”

Setelah urusan dengan Utsman selesai, Umar menemui Abu Bakar dengan tujuan yang sama, mencari jodoh yang shalih untuk putri tercintanya. Abu bakar hanya diam saja dan tidak memberi jawaban. Bahkan, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Abu Bakar tentang tawaran Umar tersebut. Terpaksalah, Umar melewati hari demi hari menunggu kepastian. Hingga, suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam datang untuk meminang Hafsah binti Umar bin Khattab. Umar pun dengan senang hati menerima lamaran Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.

Setelah itu, Abu Bakar menemui Umar. “Saya menangkap ada rasa tidak suka di hatimu saat engkau menawarkan Hafsah namun aku hanya diam saja.” Kata Abu Bakar. “Engkau benar,” jawab Umar bin Khattab.

“Tidak ada alasan kenapa aku tidak merespon permintaanmu melainkan aku tahu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam pernah membicarakan tentang Hafsah. Sedangkan saya tidak ingin membuka rahasia Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Seadainya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tidak jadi meminang Hafsah, permintaanmu aku terima.”

Kisah di atas secara tersirat mengajarkan kita untuk selalu mengunci rapat rahasia. Jika ada orang menitipkan rahasia kepada kita atau kita mengetahui rahasia orang lain, sesungguhnya kita sedang memikul amanat. Pastinya, setiap amanat akan diminta tanggung jawabnya. Selain itu, tiap orang memiliki cerita pribadi atau informasi yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Jadi, bukan hanya aib atau cacat saja yang tidak boleh menjadi konsumsi publik. Bahkan, ketika orang tersebut telah meninggal dunia sekalipun, rahasia tetap harus terjaga. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-: مَنْ غَسَّلَ مَيِّتاً فَأَدَّى فِيهِ الأَمَانَةَ وَلَمْ يُفْشِ عَلَيْهِ مَا يَكُونُ مِنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّه

Diriwayatkan dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Orang yang memandikan jenazah. Lalu menunaikan amanah dan tidak membuka aib jenazah. Saat itu dosa-dosanya akan mengalir keluar dari dirinya hingga ia seperti kondisi ketika dilahirkan oleh ibunya.” (Hr. Ahmad)

Menjaga mulut dari menyebarkan aib atau cela ternyata bukan hal yang mudah. Terlebih lagi jika informasi itu tak banyak yang tahu. Nafsu manusia mendorong untuk ghibah dan menumpahkan segala rahasia. Pada saat itu, pertimbangan apakah hal tersebut menyakiti dan mendzalimi orang lain tidak diperhatikan. Karena nafsu memberikan rasa puas setelah rahasia itu tersebar. Oleh sebab itu, sungguh tepat jika Allah mengganjar orang yang menjaga aib dengan pahala yang besar.

Kebalikannya, orang yang tak mampu menjaga rahasia disebut oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sebagai manusia paling buruk. Terutama lagi jika koban ghibah tersebut merupakan orang yang paling dekat dengan kita. Contohnya adalah relasi suami-istri. Pola hubungan dalam rumahtangga begitu intim dan dekat. Baik suami ataupun istri bersikap terbuka hingga masing-masing tahu kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Oleh karena itu, amanat yang harus diemban suami-istri yaitu mengubur dalam-dalam aib pasangannya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِىَّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّ أَعْظَمَ الأَمَانَةِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يُفْشِى سِرَّهَا.

Dari Abu Said Al Khudri radiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “amanat yang paling besar menurut Allah pada hari kiamat ialah, seorang suami yang bercerita sesuatu kepada istrinya atau seorang istri yg bercerita sesuatu kepada suami lalu ia membeberkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim dan Baihaqi)

Menebar aib orang lain memang bukan perkara remeh. Perbuatan ini termasuk dosa besar. Jika ingin bertaubat darinya, tidak cukup hanya memohon ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada pihak yang didzalimi. Karena itu, sebelum seseorang terjerumus kepada ghibah alangkah baiknya jika mengingat hal-hal berikut:

Pertama, Menyadari bahwa perbuatannya mengundang murka Allah. Sebab, Allah telah melarang ghibah dalam Al-Quran dan menyebutnya seperti memakan daging jenazah saudaranya. Karenanya, seharusnya ia merasa jijik dari perbuatan tersebut.

Kedua, hendaknya mengaca kepada diri sendiri. Bahwa, setiap orang memiliki kekurangan bahkan aib. Tentunya ia akan malu jika diketahui orang lain lalu dijadikan bahan olok-olok. Karena itu, jika tidak ingin aibnya terbuka hendaknya menjaga lisannya dari ghibah.

Ketiga, Memposisikan diri sebagai korban gunjingan, rasa sakit saat ghibah akan menghalangi dari perbuatan ghibah. Inilah salah satu alasan Imam Syafi’i mengatakan, “Orang yang memperingatkan saudaranya secara pribadi berarti telah memberi nasehat. Sedangkan, orang yang memperingatkan saudaranya secara terang-terangan sama dengan membuka aibnya.”

Keempat, Sadar tentang dampak ghibah terhadap pahala kebaikan. Rasa puas setelah membuka aib tidak sebanding dengan ganjaran dosa yang dibebankan kepadanya. Sedangkan pahala kebaikannya diberikan kepada orang lain. Karena itu ghibah pada hakekatnya adalah menukar pahala dengan dosa orang lain.

Kelima, menyadari bahwa tertutupnya tabir aib atau cela merupakan nikmat Allah yang tidak nampak. Sebab itu, mengumbar aib orang lain atau diri sendiri sama dengan merusak nikmat yang Allah karuniakan.

Menurut Imam Ad-Dhahhak, Allah telah menurunkan dua nikmat yang bersifat dhahir dan batin. Nikmat dhahir yaitu Islam dan Al-Quran. Sedangkan nikmat yang tersembunyi adalah aib yang tertutup.

Seorang muslim juga tidak sepatutnya bangga menceritakan aibnya sendiri. Misalnya, menceritakan perbuatannya yang tak terpuji atau dosa. Tertutupnya rahasia tersebut adalah karunia dari Allah. Dengan menyiarkannya, maka hukuman yang akan ditanggungnya menjadi lebih berat. Utsman  bin Abi  Saudah mengatakan, “Janganlah kalian merobek tirai Allah.  Bagaimana seseorang bisa merobek tirai Allah? Yaitu, seseorang yang berbuat dosa, lalu Allah membuat aib dosa tersebut tidak diketahui orang lain. Namun, jusru ia sendiri menyiarkan perbuatannya kepada orang-orang.”

Semoga kita tidak termasuk tipe tersebut. Amin Ya rabbal alamin.

%d bloggers like this: