Bait-bait Cinta untuk Ibu Mertua

Bait-bait Cinta untuk Ibu Mertua

Kisah ini mungkin tidak begitu berkesan bagi mereka yang mengharapkan dapat hidup terpisah dengan ibu mertua, dengan berbagai alasan yang menjadi hujahnya. Namun akan sangat berkesan bagi mereka yang merasakan nyamannya hidup berdampingan dengan ibu mertua, bahkan dapat merasakan kasih sayang seorang ibu setelah berpisah dengan ibu kandung. Karena memang syariah Islam memindahkan biruwalidain seorang wanita yang yang sudah bersuami kepada ibu mertuanya.

Akan terasa sekali kehilangan manakala kesempatan bersama ibu mertua atas kehendak Allah diputuskan. Benarlah ungkapan seorang teman  suami yang dulu pernah bercerita bahwa rasa penyesalan dan kehilangan akan amat terasa ketika qodarulllah itu datang.

Selasa, 23 Ramadhan 1432 H adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Saat itulah aku harus mendampingi Ibu mertuaku menjalani akhir kehidupannya. Selama ini saya tidak pernah membayangkan bahwa ini semua akan terjadi. Tiga tahun adalah waktu yang singkat kurasakan ketika setiap hari ibu hanya dapat berbaring lemah ditempat tidur karena penyakit stroke yang dideritanya. Dan disaat-saat itulah kami berusaha membantu segala keperluannya bersama mbak yu, putri ketiganya. Kebetulan suami putra ke empat dan rumah kami dekat dengan orang tua.

Masih teringat ketika hari-hari terasa lama dilalui dan nampak kebosanan dalam raut wajah ibuku menjalani hidup dengan ujian sakit yang tak kunjung sembuh. Bahkan untuk mengomunikasikan keinginannya saja, kami harus  mampu menerjemahkan  ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami.

Isakan tangis adalah nyanyian yang selalu kami dengar setiap harinya ketika rasa bosan itu semakin menghimpit dada beliau. Hanya motivasi, nasehat dan bimbingan  untuk bersabar dengan berdzikir kepada Allah yang bisa kami lakukan untuk menghiburnya. Benar-benar telah kembali seperti anak kecil. Satu hal yang selalu kami ingat dan mohonkan pada Allah agar kami tidak mengatakan “ah” atau yang sejenisnya ketika rasa capek mendera dan menguji kesabaran  kami.

Pernah suatu hari anak-anakku bertanya, “Kenapa umi, abi dan kita harus sayang sama nenek yang sakit?” Satu ungkapan seorang anak yang kadang merasa cemburu ketika kami harus lebih mengutamakan ibu dalam beberapa hal, terutama dalam waktu dan perhatian. Dengan lembut kami nasehatkan bahwa nenek adalah uminya abi. Dulu ketika abi masih kecil, nenek yang memelihara, yang menolong ketika menangis, yang menyuapi ketika lapar, yang memberi minum ketika haus, yang mengantikan popok ketika ngompol, yang mencuci baju ketika terkena ompol atau BAB , dan masih banyak lagi. Karena nenek sudah tua dan sedang sakit, maka kita harus menyayangi seperti beliau menyayangi abi sewaktu kecil. Kami berharap mereka bisa memahaminya, sekaligus upaya mendidik secara langsung tentang biruwalidain.

Satu pekan sebelum tanggal 23 Ramadhan kondisi ibu sudah mulai melemah, makan kadang mau muntah, badannya lemas dan kadang menggigil karena demam. Kami berfikir kondisi ini adalah hal biasa karena ibu memang kadang demam. Sepuluh hari terakhir kami berusaha meningkatkan ibadah seperti umat islam yang lain untuk mendapat berkah Ramadhan disela-sela tugas rutin memelihara ibu.

Dan, pagi itu bakda shubuh, kondisi ibu semakin lemah, masih terbayang kondisinya sama persis dengan waktu pertama ibu mendapat sakit stroke yang akhirnya kami bawa kerumah sakit sampai 2 pekan dan ternyata kondisinya tidak jauh berubah. Akhirnya keluarga memutuskan untuk dibawa pulang dengan segala konsekwensinya. Ternyata Allah berkehendak lain. Di rumah kondisi ibu semakin membaik dan ternyata Allah memberi kesempatan kepada kami untuk biruwalidain selama kurang lebih 3 tahun.

Semakin siang kondisi ibu semakin lemah, sedapat mungkin kami hubungi anak-anak ibu untuk dapat mendoakan dan mendampingi di saat beliau menghadapi sakaratul maut. Alhamdulillah atas qadar Allah semua anak ibu yang berjumlah 6 bersaudara bisa datang dan menyaksikan akhir kehidupan ibu dengan membimbing dan mentalqin serta membacakan surat yasin agar ibu diberi kemudahan saat ajal menjemput.

Tepat pukul 12.30, Allah berkenan memanggil ibu keharibaan-Nya dengan tenang dan dipermudah. Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Derai air mata tak terasa mengalir dengan deras, terbayangkan bahwa hari ini adalah kesempatan terakhir kami bisa merawatnya dan mendulang pahala di dalamnya. Selamat jalan ibu, doa kami menyertaimu. Semoga Allah terima segala amal shalih waktu di dunia. Amin.

Tentu tak ada gunanya kami meratapi sesuatu yang pasti akan terjadi, entah hari ini atau esok. Kami yakin masih bisa biruwalidaini dengan selalu menyertakan doa di setiap shalat kami untuknya. Karena doa anak shalih akan jadi amal jariyah bagi orangtuanya. Ibuku, seandainya bisa, beribu bait cinta akan kutuliskan untukmu. Karena kami tahu jasamu sangatlah besar bagi kami anak-anakmu. Rasanya apa yang selama ini kami lakukan belum cukup untuk membalaskan semua itu.

Bagi pembaca yang masih diamanahi orang tua yang sudah tua atau sedang sakit, berbahagialah karena sejatinya kita akan mendapat pahala yang banyak darinya. Sabarkan dan kuatkan hati untuk dapat biruwalidain kepada mereka, karena sesungguhnya saat itulah kesempatan kita untuk dapat membalas jasa-jasanya ketika kita masih dalam pengasuhannya. Kasih ibu kepada kita tak terhinnga sepanjang masa, bagai sang surya menyinari dunia.

(Fathimah ummu Halimah-Sukoharjo)

%d bloggers like this: