Bijaksana Begitu Mempesona

Bijaksana Begitu Mempesona

Karakter bijaksana senantiasa mencuri perhatian massa. Orang-orang yang bijaksana selalu menarik simpati siapapun yang memandangnya. Mereka diberi kemampuan menyikapi apapun dengan penuh kearifan dan perhitungan yang matang, sehingga di belakang tidak muncul penyesalan yang kadang tak bisa lekang. Mereka pun bisa menikmati kehidupan ini. Hari-harinya tidak disibukkan dengan dramatisasi beratnya terpaan cobaan. Dia sikapi masalah dengan hikmah, tenang dan proporsional.

Sebagaimana didefinisikan dalam kamus Lisan Al-‘Arab, bahwa orang yang dianugerahi hikmah sangat menguasai masalah apapun secara profesional dan luas pengalamannya. Orang yang dikaruniai hikmah akan jauh dari celaan dan kenistaan, seperti dikatakan Ibnu Hajar dalam Fat-h Al-Bari dimana beliau menafsirkan hikmah sebagai segala sesuatu yang dapat mencegah dari kebodohan dan celaan akibat perbuatan tercela.

Mereka yang disinari Allah dengan cahaya kebijaksanaan (hikmah) tidak risau bila dunia pergi darinya dan tidak terpukau bila harta datang sepenuh pulau. Hati yang dipancari sinar hikmah akan dapat melihat segala sesuatu dari perspektif Al-Qur`an dan As-Sunnah, yang sejatinya keduanya merupakan sumber hikmah, sehingga respon yang diberikannya sebisa mungkin bersih dari noda dosa yang nista. Kalaupun pernah terjatuh dalam lubang dosa, akan segera bisa bangkit bertaubat dan tidak akan lagi terjatuh padanya, sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah, “Seorang mu`min tidak akan tersandung dua kali karena satu batu.” (HR. Bukhari no. 6133)

Sebelum berbuat, apapun, pemilik karakter hikmah akan mempersiapkan diri menghadapi segala konsekuensi. Senantiasa waspada dari keterpurukan dan ketergelinciran. Nabi Muhammad menyarankan,

وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ

 

“Jangan berucap dengan suatu perkataan yang menjadikan engkau nantinya menyesal.” (HR. Ibnu Majah no. 3363)

Berkenaan dengan hadits ini, ada ucapan Al-Khaththabi yang bagus, “Hendaklah mu`min senantiasa teguh dan waspada, jangan sampai lalai dan tertipu beberapa kali, kadang dalam persoalan din (Islam), sebagaimana dalam persoalan dunia, dan persoalan din lebih utama untuk diwaspadai.” (Fat-h Al-Bari 1/530)

Karenanya pernah kita mendengar Imam Bukhari mengutarakan prinsip hidup yang simple namun penuh manfaat, “Berilmu sebelum beramal.” Sangat tepat sekali. Atau motto para pakar kesehatan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Prinsip yang sangat simbolik-holistik.

 

Pilar Kebaikan

Beruntunglah orang yang dikaruniai oleh Allah hikmah, karena hikmah adalah karunia kebaikan yang melimpah. “Barangsiapa dianugerahi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Pantaslah bila Allah tidak melarang iri kepada orang-orang yang Allah beri hikmah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menyatakan, “Tidak boleh iri kecuali kepada dua orang; orang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia mengalokasikannya dalam kebenaran; dan orang yang dianugerahi hikmah kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 7141)

Hikmah adalah pilar kebaikan, darinya lahir kemuliaan dan keagungan kepribadian muslim. Pemilik hikmah akan memiliki tiga inti akhlak mulia, sebagaimana ditulis Doktor Sa’id Al-Qahthani dalam Al-Khuluq Al-Hasan fi Dhau` Al-Kitab wa As-Sunnah, adil yang dapat mencegah si empunya dari zhalim, hilm (lemah lembut) yang bisa menghindarkan si empunya dari amarah, dan ilmu yang mampu menghalangi si empunya dari sikap bodoh.

Sementara orang yang tidak dikehendaki Allah memiliki hikmah, sehingga ia tidak memiliki tiga inti akhlak mulia itu, maka ia akan jauh dari kemuliaan akhlak. Dalam Madarij As-Salikin 2/294, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan, “Sumber munculnya semua akhlaq yang rendah dan tercela ada empat hal yang menjadi pilar dan penyangganya, (1) Al-Jahlu (kebodohan), (2) Azh-Zhulm (kezhaliman), (3) Asy-Syahwah (syahwat/nafsu yang tak terkendali), (4) Al-Ghadhab (kemarahan).”

Kita berlindung kepada Allah dari terhalang mendapatkan karakter hikmah. Pasalnya, Allah memerintahkan kita untuk menghiasi dakwah dengan hikmah agar dakwah tak berbuah sepah. “Serulah kepada jalan Rabb-mu dengan penuh hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

‘Ali bin Abi Thalib pernah memberikan masukan kepada para da’i, “Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka mengerti, atau inginkah kalian Allah di-dustakan?” Apa yang dinyatakan ‘Ali ini merupakan bagian dari dakwah yang bijak, penuh hikmah. Mendakwahkan Islam adalah kebaikan. Tapi kalau metodenya salah, bisa-bisa Islam dianggap sebuah rekayasa belaka.

Begitu urgennya hikmah bagi kejayaan Islam, sampai-sampai Allah membekali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dengan hikmah. Yaitu tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam hendak menjalani momentum isra` dan mi’raj. Ketika itu beliau masih tinggal di Makkah. Suatu malam, atap rumah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membuka, kemudian Jibril turun dan membuka dada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan membasuhnya dengan air zamzam. Jibril membawa bejana emas yang berisi hikmah dan iman kemudian menuangkannya ke dalam dada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Setelah Jibril menutup kembali dada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, Jibril memegang tangan beliau dan mengajak beliau naik ke langit. (HR. Bukhari no. 3164, HR. Muslim no. 163)

Peristiwa penuangan hikmah ke dada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam ini telah diisyaratkan oleh Allah dalam Al-Qur`an beberapa kali. “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mu`min ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)

 

Jalan Menggapai Hikmah

Hikmah itu ada dua dari segi sumbernya, pertama hikmah dari judzur fithriyyah (bawaan semenjak lahir). Orang yang dari lahir sudah ditaqdirkan Allah memiliki sifat hikmah adalah orang yang paling beruntung lagi bahagia. “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 269) Namun orang yang semenjak lahir belum memiliki sifat hikmah tidak berarti selamanya tidak mungkin memilikinya, karena hikmah bisa didapatkan dari usaha.

Diutarakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam,

لاَ حَلِيْمَ إِلاَّ ذُوْ عثرَةٍ, وَلاَ حَكِيْمَ إِلاَّ ذُوْ تَجْرِبَةٍ

 

“Tidak akan berkarakter hilm (lembut nan santun) kecuali yang pernah berbuat salah. Dan tidak akan berkarakter hikmah kecuali yang berpengalaman.” (HR. Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad)

Ini artinya, ada peluang besar untuk meraih karakter bijaksana, yaitu memperbanyak pengalaman, kemudian mengambil pelajaran darinya. Pengalaman pun tidak hanya dari diri sendiri tapi juga dari orang lain, sesama mu`min. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam telah mengisyaratkan perlunya memetik ibrah dari pengalaman hidup saudara seiman, “Mu`min itu cermin bagi mu`min yang lain. Dan mu`min itu saudara bagi mu`min yang lain.” (Hasan: Shahih Al-Jami’ no. 6656)

Selanjutnya, langkah meraih karakter hikmah adalah bergaul dengan para ulama, sebagaimana pesan Luqman Al-Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama, bersimpuhlah di hadapan mereka dengan kedua lututmu. Sesungguhnya Allah menghidupkan qalbu dengan cahaya hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang tandus dengan tetes air hujan.” (Al-Muwaththa` Malik)

 

Pesan Luqman ini sangat imperatif bagi kita. Tidak heran, Luqman telah dipuji oleh Allah, “Dan Kami telah memberi Luqman hikmah, untuk bersyukur kepada Allah, barangsiapa bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

Ada cara lain untuk memupuk karakter hikmah, yaitu membaca dan merenungi syair-syair yang bagus, yang tidak tercemari kata-kata yang merusak, kata-kata yang melenceng dari Islam apalagi yang menyelisihi Islam. Karena Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam pernah menyebutkan, “Sesungguhnya di antara syair itu ada yang mengandung hikmah.” (HR. Bukhari no. 5793)

Lihatlah! Syair yang baik saja, Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wasalam memujinya sebagai jalan mendapatkan hikmah. Sebetulnya, ini merupakan sindiran bagi sebagian orang yang meninggalkan Al-Qur`an dan As-Sunnah, lalu lebih memilih syair-syair, dalam rangka meraup hikmah. Rasulullah menggunakan kata ‘di antara’ itu menunjukkan tidak semua syair mengandung hikmah. Sementara Al-Qur`an dan As-Sunnah sudah jelas-jelas mengandung hikmah, karena Allah-lah pemilik hikmah, dan Allah-lah yang memberikan hikmah kepada manusia.

Lantas mengapa malah meninggalkan Al-Qur`an dan As-Sunnah, lantas beralih kepada syair, kalau memang menginginkan hikmah? Seharusnya, mencari hikmah itu diawali dengan mendalami Al-Qur`an dan As-Sunnah, baru kemudian ditambah dengan mengkaji syair-syair yang baik, untuk memperkuat qalbu meyakini kebenaran hikmah-hikmah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Bijaksana memang begitu mempesona. Cara meraihnya pun harus dengan tindakan yang mempesona. Adakah diri kita termasuk orang yang bijaksana?

%d bloggers like this: