Ritual Menolak Hujan

Ritual Menolak Hujan

“Kami mempunyai kemampuan dengan ijin Tuhan untuk memindahkan hujan tersebut yang sekiranya akan mengganggu jalannya acara yang akan berlangsung”, Demikian lancangnya ‘sesumbar paranormal dalam iklannya di sebuah media. Hingga ia merasa pasti nantinya Alloh akan mengijinkan keinginannya.

Memang memprihatinkan. Beberapa bulan lalu tatkala masih kemarau, sebagian masyarakat menjalani ritual syirik untuk mendatangkan hujan. Dan sekarang, tatkala hujan mulai sering turun, yang laris adalah dukun pawang hujan.

Setidaknya ada dua model cara yang dilakukan oleh pawang hujan untuk ‘menolak’ hujan. Pertama, dengan meminta bantuan kepada jin, dan yang kedua dengan meminta kepada penghuni kubur.

Cara pertama memiliki banyak varian, tergantung kreasi dari masing-masing dukun. Ada yang menggunakan media bokor berisi kemenyan, garam, cerutu, kapur, pinang, dan sirih. Pemesan diminta oleh pawang hujan untuk membuang nasi genggam ke atas genting dan membuang cerutu, kemenyan, kembang, dan kapur ke sungai, tentu setelah diberi mantera-mantera yang berisi pengagungan dan permohonan kepada jin. Jelas ini adalah kesyirikan, karena ia telah berdoa kepada selain Alloh, sedangkan Alloh berfirman, “fa laa tad’u ma’allahi ahadan”, dan janganlah kalian menyeru (berdoa) kepada satu apapun di samping berdoa kepada Alloh.” (QS. al-Jin: 18)

Cara kedua, dengan meminta tolong kepada penghuni kubur. Baik kuburan yang penghuninya dianggap sakti, hingga yang dianggap sebagai wali. Padahal, orang yang telah mati itu terputus amalnya, tidak bisa lagi beramal atau berbuat, bagaimana mungkin mereka hendak membantu kesulitan manusia yang masih hidup? Karenanya, dalam fikih Islam tidak mengenal bagaimana hukum orang mati menolong orang yang masih hidup, apakah berpahala ataukah tidak. Karena memang tidak ada fakta yang membutuhkan adanya suatu hukum.

Yang ada adalah nikmat kubur bagi yang taat, dan adzab kubur bagi pecandu maksiat. Masing-masing tengah sibuk dengan diri mereka sendiri.

Jika kemudian hujan berhenti, atau mendung kembali cerah, itu semata-mata kehendak Alloh. Bukan karena jin mampu menahannya, atau orang mati mampu mengalihkannya, meskipun akhirnya itu diklaim sebagai keberhasilan pawang hujan. Jika itu yang terjadi, tentu ada hikmah di dalamnya, apakah sebagai ujian bagi orang yang beriman ataukah sebagai ‘istidraj’ bagi orang-orang yang menyimpang.

Adapun orang yang beriman, men-cukupkan diri dengan apa yang syariat tunjukkan, baik dalam mengharap turunnya hujan atau berhenti. Nabi n mengajarkan doa,

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ.

 “Ya Alloh! Hujanilah di sekitar kami jangan kepada kami. Ya Alloh! Berilah hujan ke daratan tinggi beberapa anak bukit perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wallohu a’lam bishawab (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: