Berlindung Kepada Allah dari Segala Hal Yang Buruk

Berlindung Kepada Allah dari Segala Hal Yang Buruk
عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِك رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : (اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ ، وَالْكَسَلِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْقَسْوَةِ ، وَالْغَفْلَةِ ، وَالْعَيْلَةِ ، وَالذُّلَّةِ ، وَالمَسْكَنَةِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفُسُوْقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الصَّمَمِ ، وَالبُكمِ ، وَالجُنُوْنِ ، وَالْبَرَصِ ، وَالجُذَامِ ، وَسَيِّءِ الأسْقَامِ)

Anas bin Malik Radhiallahu’anhu menuturkan bahwa Rasulullah pernah berdoa, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, dan dari kerasnya hati, lalai, kefakiran, kehinaan, dan kemiskinan. Aku berlindung kepadamu dari kefasikan, tidak selaras dengan kebenaran, nifaq, sum’ah, dan riya’. Dan aku berlindung kepadaMu dari tuli, bisu, gila dari penyakit kusta dan lepra serta penyakit-penyakit yang buruk dan ganas.” (HR. Thabrani, Baihaqi dan Hakim, dishahihkan al-Albani).
Termasuk bagian dari keimanan setiap muslim adalah mempercayai dan meyakini bahwa Allah-lah yang maha Kuasa atas segala perkara. Dia Mahamampu untuk menjadikan sesuatu sesuai dengan kehendakNya. Dan manusia dalam kehidupan yang singkat ini, banyak sekali menghadapi situasi dan kondisi yang menyesakkan dada dan membuatnya bingung mau lari kemana.
Tapi dengan rahmat-Nya, Allah subhanahu wata’ala telah mengutus Rasul-Nya membawa Risalah yang membuat manusia bisa bernafas lega. Sebab beliau saw mengajarkan kepada kita bahwa Allah ada. Allah-lah Dzat yang mengijabahi doa. Ya, hanya Allah-lah yang mampu mengatasi semua permasalahan yang kita hadapi.
Permasalahan tak selalunya timbul dari luar, bahkan banyak masalah yang penyebabnya dari dalam, yaitu dari diri kita sendiri. Di antaranya adalah lemah dan malas. Ibnul Qoyyim Rahimahullah menyebut kedua hal ini sebagai miftahu kulli syar, kunci segala perbuatan buruk. Bila lemah maka ia tidak mampu keluar dari masalah dan bila malas maka ia tidak ingin keluar dari masalah.
Masih dari dalam, yaitu kondisi hati, dari sinilah perbuatan manusia yang lahir akan dinilai Allah Ta’ala. Bila keras hatinya, rusak niatnya atau nifaq, sum’ah, riya’ maka sia-sialah amalnya. Orang yang memiliki hati yang keras, ia tidak akan mandapat manfaat dari mauidzah yang didengarnya, bahkan ia tidak akan mengasihi orang-orang yang berhak untuk dikasihi.
Terbebas dari rusaknya niat adalah implementasi dari tauhid, sedang memperdengarkan amal atau sum’ah, ingin dilihat amalnya atau riya’, adalah menyelisihi tauhid, sebagaimana kita ketahui bahwa sum’ah dan riya’ adalah syirik asyghor yang membatalkan amal. Bila seorang muslim tidak memperhatikan tumpukan-tumpukan sum’ah dan riya’ dalam hatinya maka kebinasaan dan kehancuranlah yang akan diterima.
Masalah lain yang mengelilingi manusia seperti kondisi hidup yang fakir, miskin lagi hina, ini merupakan kenyataan yang harus dihadapi dengan bijaksana. Bukan berarti kekayaan bebas masalah, bahkan keduanya (kaya dan miskin) sama – sama membahayakan bagi manusia yang tipis imannya.
Namun dalam hadits ini, Rasulullah shallalahu’alaihi wasallam menekankan agar seseorang berlindung kepada Allah dari keadaan kurang harta lagi banyak anggota keluarga, miskin hati, dan hina. Karena fakir menyebabkan orang bingung dan bersedih, banyak hutang, sehingga hatinya sibuk terhadap dunia dan lalai akan akhirat. Kehinaan ini akan bertambah dengan penyakit badan yang diderita, sehingga Rasulullah mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari tuli, bisu, gila, penyakit kusta dan lepra, serta penyakit-penyakit yang buruk dan ganas.
Asy syiqaq adalah mukhalafatul haqqi, berseberangan dengan kebenaran, merasa keberatan terhadap kebenaran dan bahkan ada yang menentang dan senang menyelisihi kebenaran. Bila ini terjadi di antara sesama muslim, maka menjadi permasalahan yang bahaya karena akan menimbulkan perpecahan dan meniadakan persatuan.
Oleh karena itu, Rasululah shallallahu’alaih wasallam menunjukkan kepada kita untuk berdoa mengaturkan setiap permasalahan yang dihadapi dan berlindung kepada Allah dari segala keburukannya. Sebab tiada daya dan upaya kecuali dari-Nya.
Allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’uudzubika minal qoswati wal ghoflati wal ‘ailati wadz dzullati wal maskanati, wa a’uudzubika minal fusuuqi wasy syiqooqi wan nifaaqi was sum’ati war riyaai, wa a’uudzubika minash shomami wal bukmi wal junuuni wal baroshi wal judzaami wa sayyiil asqoomi. Amin

%d bloggers like this: