Umrah di Bulan Ramadhan

Umrah di Bulan Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan.. Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan maghfirah sudah berada di pelupuk mata. Mestinya kaum mukminin bergembira dan merasa senang dengan kedatangannya. Sungguh mengherankan jika ada sebagian kaum muslimin yang justru merasa berat dengan hadirnya Ramadhan, merasa bahwa Ramadhan mengekang segala kebebasannya. Kebebasan makan, minum, berhubungan badan di siang hari. Atau ada pula yang merasa biasa-biasa saja, merasa bahwa Ramadhan hanyalah rutinitas belaka, yang datang silih berganti sebagaimana bulan-bulan lainnya. Sikap seperti ini, tentu saja bukan cerminan ketakwaan yang ada dalam hati. Boleh jadi timbul dari hati yang sakit atau jiwa yang lekat dengan maksiat. Tentu saja kita berlindung dari sikap yang demikian …wal ‘iyadzu billah.
Bulan Ramadhan selayaknya kita hiasi dengan berbagai amal shalih, agar Ramadhan sebagai madrasah ketakwaan benar- benar hadir dalam hidup kita. Rasulullah saw telah memberikan contoh pada kita bagaimana beliau menghiasi bulan Ramadhan dengan banyak berdzikir dan tilawah Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, memberi hidangan berbuka, i’tikaf di masjid pada sepuluh hari yang terakhir dan juga melaksanakan umrah.
Setara pahala haji
Sedikitnya kuota haji dan semakin lamanya jadwal pemberangkatan jamaah haji menjadikan biro perjalanan haji dan umrah penuh sesak dengan antrean kaum muslimin yang hendak berangkat umrah. Pikir mereka mendingan berangkat umrah dulu daripada tidak ke tanah suci sama sekali dikarenakan usia yang tak lagi muda. Lagi pula umrah merupakan amalan istimewa yang bisa menghapus tumpukan dosa dan nista.
Nabi saw senantiasa memotifasi umatnya untuk melakukan umrah kapan saja mereka sanggup.

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya. Sementara haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ini pahalanya jika umrah dikerjakan di luar bulan Ramadhan. Maka bisa dibayangkan besarnya pahala yang akan diraih jika dikerjakan dalam bulan Ramadhan, mengingat semua pahala dilipatgandakan di bulan ini.
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw bersabda kepada seorang wanita Anshar, “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami?” Ia menjawab, “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor unta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman.” Nabi saw bersabda:

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجّ

“Maka apabila datang Ramadhan, berumrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji.” Dalam riwayat lain, “Seperti haji bersamaku.”
Maksud dari hadits adalah penyamaan pahala, bukan penyamaan dalam pelaksanaan perintah. Jadi, samanya di sini adalah kadar pahala antara umrah di Ramadhan dan pahala haji. Bukan dari jenis dan bentuknya. Karena pahala haji jelas lebih utama daripada umrah ditinjau dari jenis amal. Maka siapa yang sudah umrah di Ramadhan maka ia mendapatkan pahala sebanyak pahala haji. Hanya saja dalam pelaksanaan ibadah haji terdapat keutamaan, keistimewaan, dan kedudukan yang tidak didapatkan dalam umrah. Seperti doa di Arafah, melempar jumrah, menyembelih hewan kurban, dan selainnya. Walaupun keduanya sama dalam kadar banyaknya pahala, namun keduanya tidak sama dalam pelaksanaan dan jenis ibadah. Ini seperti keterangan Ibnu Taimiyah saat beliau menjelaskan hadits yang menyebutkan bahwa surat Al-Ikhlash menyamai sepertiga Al-Qur’an.
Umrah tanpa harta
Gundah gulana dan bercucuran air mata. Itulah yang dirasakan seorang yang papa saat melihat orang-orang pergi menuju baitullah sementara ia sendiri tidak mampu ke sana. Besarnya pahala umrah dan haji semakin membuncahkan rasa sedih dan rindu dalam relung kalbunya.
Akan tetapi Allah begitu sayang kepada hamba-Nya. Dia tidak membiarkan hamba-Nya berduka dan kecewa manakala tidak mampu melaksanakan amalan yang diwajibkan-Nya. Lewat lisan Rasul-Nya, Allah mensyariatkan amalan-amalan tertentu yang jika dilakukan dengan niat yang benar akan mendapatkan pahala yang setara dengan haji dan umrah. Di antara amalan tersebut adalah melazimi dzikir pagi sampai matahari terbit dilanjutkan dengan shalat dua rakaat.
Dari Anas bin Malik ra dia berkata, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

“Barang siapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk — dalam riwayat lain: dia menetap di masjid— untuk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.“ (HR. Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh Tirmidzi dan syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah).
Pelaksanaan amalan mulia ini pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah saw. Jabir bin Samurah pernah ditanya, “Apa kamu pernah menemani Rasulullah?” Jabir menjawab, “Ya, beliau sering tidak berdiri dari tempat shalatnya—dimana beliau melakukan shalat shubuh— hingga matahari terbit. Jika matahari telah terbit, maka beliau berdiri.” (HR. Muslim).
Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama dengan shalat isyraq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha, kira-kira 10-15 menit setelah matahari terbit. Bukan pas matahari terbit karena ada larangan melakukan shalat pada waktu tersebut.
Maksud ‘berzikir kepada Allah’ dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca dzikir di waktu pagi, maupun dzikir-dzikir lain yang disyariatkan.
Jika segenap kemampuan telah kita kerahkan, rezeki yang lebih telah ditabungkan, bahkan rela menjual sawah dan ladang, akan tetapi ternyata Allah belum mengizinkan kita untuk menziarahi rumah-Nya. Amalan yang ringan ini bisa menjadi solusi.
Meskipun kelihatannya mudah, tapi jarang orang bisa mengerjakannya, hanya yang diberikan taufik oleh Allah swt. Alasannya karena setelah shubuh biasa digunakan untuk persiapan bekerja, kesibukan dalam rumah tangga, dan seterusnya.
Kalau toh kita belum mampu mengamalkannya setiap hari, di bulan Ramadhan tahun ini mari kita mengazamkan diri untuk mengamalkan sunah mulia ini, agar meraih pahala haji meski belum bisa berangkat ke tanah suci. Wallahul Musta’an. (Abu Hanan).

%d bloggers like this: