Istiqamah, Rutin dan Terus Bertambah

Istiqamah, Rutin dan Terus Bertambah

Setidaknya tujuh belas kali dalam sehari seorang muslim memohon bimbingan kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus. Yakni dalam doa “Ihdinash shiraathal mustakim” ya Allah tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Jika jalan dianggap sebagai sebuah garis, maka yang dimaksud garis lurus adalah garis paling dekat yang menghubungkan antara dua titik. Begitulah jalan menuju Allah, tak ada yang lebih dekat lagi daripada jalan istiqamah untuk sampai kepada Allah.

Istiqamah berarti lurus, niatnya hanya tertuju kepada Allah. Lurus amalnya, sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan as-sunnah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tatkala beliau membuat suatu garis lurus dengan tangan beliau, seraya bersabda,
“Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau membuat garis-garis lain di samping kiri dan kanannya, dan bersabda, “Ini adalah jalan-jalan (yang lain), tidak ada satupun darinya melainkan padanya ada syetan yang menyeru kepadanya”. (HR. Ahmad, al-Hakim)

Istiqamah adalah Rutin dan Mudawamah

Makna kedua dari istiqamah adalah mudaawamah (kontinyu), rutin dan berkesinambungan. Layaknya orang yang menempuh perjalanan, tidak cukup baginya mengetahui arah jalan dan memahami rambu-rambu. Seseorang yang ingin sampai ke tujuan harus menempuh proses atau usaha untuk mendekati tempat tujuan. Dan tak ada cara yang lebih efektif mendekatkan seseorang ke tempat tujuan selain berjalan dengan kontinyu dan rutin. Karena jalan menuju Allah bukanlah perjalanan yang pendek, butuh nafas panjang dan stamina yang senantiasa terjaga. Apa jadinya jika pelari marathon yang harus menempuh jarak yang jauh, namun ia berlari dengan gaya sprint. Ia berlari sekencang mungkin dan langsung mencurahkan seluruh tenaganya di awal start. Tentu dia hanya akan berada di depan di waktu-waktu awal, dan selanjutnya akan berat baginya untuk bisa mencapai finish, apalagi memenangkan perlombaan. Ini sekedar perumpamaan, sedangkan jalan menuju Allah, lebih jauh lagi dari itu.
Maka Allah lebih menyukai ibadah yang dilakukan secara rutin, daripada ibadah yang dilakukan sekali tempo meskipun dengan mengerahkan segenap tenaga dan waktu. Rasulullah saw bersabda,

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit.” Al Qasim berkata; Dan Aisyah, bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia akan menekuninya.” ( HR Muslim)
Pernah suatu kali ‘Alqamah bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Wahai Ummul Mukminin, bagaimana amal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Apakah beliau memiliki hari-hari khusus (untuk memaksimalkan amal)?” Beliau menjawab, “Tidak, amal yang beliau lakukan adalah amalan yang rutin.” (HR Bukhari)
Beribadah dengan kontinyu meski dengan kadar yang relativ sedikit, lebih banyak faedah dan lebih bagus pengaruhnya dalam kebaikan, dibanding amal yang sekaligus banyak dan berat, namun tidak dilakukan secara kontinyu.
Ibnu Hajar menukil dari imam Nawawi rahimahumallah, “Dengan melakukan amal secara rutin meskipun sedikit, maka akan berkesinambunganlah ketaatan dalam bentuk dzikir, merasa diawasi oleh Allah, menjaga keikhlasan dan hati senantiasa terhubung kepada Allah. Berbeda halnya dengan amal yang sekaligus banyak dan berat. Hingga sesuatu yang sedikit namun rutin lebih cepat penambahannya daripada banyak namun terputus.”
Dengan amal rutin pula, seseorang tercatat melakukan suatu ibadah yang menjadi kebiasaannya meskipun suatu kali ia tidak melakukannya karena adanya penghalang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنَ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلَاةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلَاتِهِ، وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْه

“Tiada seorangpun yang memiliki kebiasaan shalat malam, lalu suatu kali ia tertidur (sehingga tidak mengerjakannya), melainkan Allah akan mencatat untuknya pahala shalat malam (seperti biasanya), dan tidurnya itu sebagai sedekah Allah atasnya.” (HR an-Nasa’i, al-Albani menyatakan “shahih”)
Tak hanya berlaku dalam hal shalat malam, tapi juga amal ketaatan yang lain. Sebagaimana hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam,

إِذَا مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Apabila seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka tercatat baginya pahala seperti ketika ia beramal di saat mukim dan sehat.” (HR Bukhari)
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Pahala tersebut diberikan kepada orang yang terbiasa melakukan ketaatan, lalu suatu kali terhalang melakukannya (karena sakit atau safar). Andai saja tak ada penghalang, niscaya ia akan melakukan apa yang menjadi rutinitasnya itu.” Maka bagi orang yang terbiasa shalat berjamaah di masjid, shalat sunnah rawatib, membaca al-Qur’an, shalat malam atau amal ketaatan yang lain, ia akan tetap mendapatkan pahala seperti itu ketika terhalang melakukannya karena sakit atau safar.
Dari sini, menjadi jelas pula hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam “jagalah sehatmu sebelum datang waktu sakitmu”. Bisa jadi seseorang akan jatuh sakit dalam tempo yang lama, sehingga terhalang untuk melakukan berbagai amal. Dikahwatirkan bagi yang tidak beramal di waktu sehatnya akan kembali ke akhirat tanpa bekal. Adapun bagi orang yang mengisi sehatnya dengan rutinitas kebaikan, maka ia tetap mendapatkan pahala di masa-masa sakitnya seperti ia mendapatkan pahala karena amal-amalnya di waktu sehat.

Istiqamah, Berarti Bertambah
Selain banyak pahala, amalan yang dilakukan secara dawam (rutin) adalah amal yang paling besar faedahnya. Seseorang lebih ringan menjalankan ketaatan tatkala sudah biasa. Dan dengan cara yang rutin, akan mendapatkan akumulasi pahala yang lebih banyak pula.
Dan telah menjadi sunnatullah, tatkala seseorang melakukan suatu bentuk ketaatan, maka akan dimudahkan oleh Allah untuk menjalankan ketaatan yang lain. Seperti kaedah yang masyhur di kalangan para ulama, “Inna min jazzaa’il hasanah, alhasanatu ba’daha”, balasan bagi orang yang melakukan kebaikan adalah akan dimudahkan untuk melakukan kebaikan setelahnya. Syadaad berkata, “Jika kamu melihat seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka ketahuilah bahwa padanya ada ketaatan-ketaatan yang lain.”
Maka tatkala seseorang melakukan suatu kebaikan dengan istiqamah, maka akan istiqamah pula penambahan amalnya. Karena, amal itu bisa ‘beranak pinak’; dari satu amal akan membuahkan amal yang lain, baik dengan jenis yang sama atau berbeda.
Memang ada bentuk amal shalih yang tidak boleh ditambah secara kuantitasnya, seperti lima kali shalat fardhu dalam sehari berikut jumlah rekaat yang telah ditentukan. Akan tetapi ia bisa menambah secara kualitasnya; khusyuknya, panjang bacaannya dan tumakninahnya. Ia juga bisa menambahnya dengan shalat-shalat nafilah atau sunnah.
Begitupun ketika seseorang istiqamah dalam belajar ilmu syar’i, tentu pengetahuannya akan bertambah dan berkembang. Meskipun jumlah waktu yang tersedia setiap harinya tidak bertambah. Dari sini menjadi jelas perbedaan antara monoton dengan istiqamah. Jika seseorang melakukan sesuatu sebagai rutinitas, tapi tidak ada penambahan secara kuantitas maupun kualitas, bisa jadi yang dilakukan itu adalah monoton, bukan istiqamah.

Ujian Istiqamah
Hati memiliki masa-masa rajin dan tekun (nasyath), ketika itu amal shalih secara rutin bisa dilakukan secara optimal. Akan tetapi ada kalanya hati mengalami masa lelah, jeda (fathrah) atau bahkan cenderung bosan. Pada saat itulah istiqamah seseorang diuji. Pada titik tertentu, semua itu masih bersifat manusiawi. Karena tak ada manusia yang terbebas dari kelelahan dan kebosanan. Maka ia masih dalam kondisi aman selagi di masa lelahnya itu tetap berada di dalam sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ia bisa memperlambat jalannya, atau bahkan istirahat sejenak, akan tetapi jangan sekali-kali kemudian menyeberang ke jalan yang lain. Ia boleh mengambil batas minimal amal, akan tetapi jangan sampai memilih jalan sesat yang bertentangan dengan sunnah.
Ujian lain dari jalan istiqamah adalah bergeser dari garis lurus yang ditetapkan. Seperti dijelaskan di awal, bahwa jalan istiqamah adalah jalan yang lurus, tidak berkelok ataupun berbelok, tepat di atas jalan yang Allah gariskan. Akan tetapi, setinggi apapun tingkat takwa manusia, selain Nabi tidaklah maksum. Ada kalanya ia terpeleset, atau bergeser dari jalan yang lurus. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik, “Setiap Bani Adam memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.”
Namun seorang yang konsisten di jalan istiqamah akan segera tersadar akan kesalahannya. Ia tidak akan meneruskan di jalan yang menyimpang. Ia tahu, sedikit saja penyimpangan di awal, jika diteruskan perjalanan niscaya titik akhir dari perjalanannya akan jauh dari finish jalan kebenaran. Maka begitu ia sadar akan jalannya yang menyimpang, Iapun akan segera bertaubat, berusaha mendekat dan kembali menapaki jalan yang lurus. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا

“Berbuatlah yang lurus, dan berusahalah senantias mendekat…” ( HR Bukhari)
Makna dari ‘saddiduu” yakni hendaklah kalian berusaha sebisa mungkin selalu menepati kebenaran, sedangkan makna ‘qaaribuu’ adalah mendekatlah kepada apa yang diperintahkan kepadamu. Semoga Allah memudahkan kita menapaki jalan istiqamah, aamiin. (Abu Umar Abdillah)

%d bloggers like this: