Fadhalah dan sentuhan tangan Rasulullah

Fadhalah dan sentuhan tangan Rasulullah

Beberapakali Rasulullah mengalami percobaan pembunuhan, akan tetapi Allah menjaga beliau. Karena Allah berfirman, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 67).

Salah satu percobaan pembunuhan yang pernah dialami Rasulullah adalah yang dilakukan oleh Fadhalah bin Umair al-Laitsi sebelum ia masuk Islam. Ia adalah orang yang membenci Islam pada mulanya, kemudian Allah menghendaki kebaikan dan memberikan hidayah kepadanya. Sebelum mendapat hidayah, ia sangat berambisi untuk membunuh Rasulullah.

Ketika melihat Rasulullah berjalan di hadapannya, ia bergumam, “Orang inilah yang telah membunuh para sesepuhku, menjelek-jelekkan para tokoh, menghina agama, dan menghancurkan patung-patung. Aku akan menuntut balasan kepadanya.”
Ia juga berkata, “Kalau aku punya kesempatan, aku akan membanting dan membunuhnya. Kalau aku melakukan itu, tentu aku berhasil mengalahkan orang-orang Islam. Sebab mereka tidak akan menang tanpanya. Mereka tidak akan berkumpul kecuali karena dia.”
Suatu hari, Fadhalah menyelipkan pedangnya di balik pakaian dan berjalan mengendap-endap hingga berhasil mendekati Rasulullah. Ketika hendak mengambil pedang yang ia sembunyikan, tiba-tiba Rasulullah berkata, “Apakah ini Fadhalah?” Dengan penuh rasa segan kepada Rasulullah, ia berkata, “Ya, saya Fadhalah, ya Rasulullah.”

“Apa yang engkau niatkan dalam dirimu?” tanya beliau.
Fadhalah bingung mendengar pertanyaan itu. Dalam hati Fadhalah berkata, “Apa yang Muhammad ketahui dari batinku? Tidak mungkin pertanyaannya ini tentang apa yang ingin aku laksanakan.”
Dengan tenang Fadhalah menjawab, “Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah. Aku sedang mengingat Allah.”
Mendengar jawaban itu Rasulullah tertawa, setelah itu bersabda, “Minta ampunlah kepada Allah.”

Ketika itu Fadhalah sadar bahwa Nabi Muhammad saw sudah mengerti rahasia yang ia sembunyikan dan mengetahui niat buruk dalam dirinya, karena Allah telah memberikan wahyu kepada beliau. Sebab urusan gaib tidak mungkin diketahui seorang makhluk pun; itu adalah kekhususan Allah saja.

Rasulullah memanggilnya dan ia pun menghadap serta berdiri di hadapannya. Rasulullah mengulurkan tangannya yang lembut ke dada Fadhalah dan meletakkannya tepat pada hatinya. Itulah tangan Rasulullah yang jika menjulur mengenai sesuatu ia menjadi suci dan baik dengan izin Allah. Allah yang menjadikan tangannya suci dan baik.
“Begitu Rasulullah meletakkan tangannya di dadaku, tiba-tiba beliau berubah menjadi orang yang paling kucintai di muka bumi ini,” kata Fadhalah.

Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, tadinya tidak ada orang di muka bumi ini yang lebih kubenci selain engkau, tapi begitu engkau meletakkan tanganmu di dadaku, engkau berubah menjadi manusia di muka bumi yang paling kucintai. Aku lebih mencintaimu daripada ayahku, anakku, hartaku, bahkan diriku sendiri.”

Sejak saat itu, keimanan bersemayam di dalam hatinya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:
“Tidak sempurna iman kalian sampai aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Muttafaqun alaih).

Fadhalah pun mohon diri dari hadapan Rasulullah dan melangkah pulang. Di tengah perjalanan ia melewati seorang wanita yang pernah ia ajak berbincang-bincang sebelum ia beriman.
“Mari berbincang-bincang lagi wahai Fadhalah,” ajak wanita tersebut.
“ Tidak,” jawab Fadhalah.
“Aneh, apa yang mengubahmu hari ini?” tanya wanita itu.
“Iman kepada Allah dan Rasul-Nya,” jawab Fadhalah.

Setelah itu ia melantunkan syair:
Ia berkata, mari berbincang maka kukatakan tidak
Allah dan Islam tidak merelakan hal itu untukmu
Kalau saja dirimu melihat Muhammad dan pasukannya
Di hari penaklukan mekah; hari patung-patung dihancurkan
Tentu engkau lihat agama Allah terlihat jelas
Sedangkan kesyirikan tertutup wajahnya dengan kegelapan.

Fadhalah kini berjalan di atas jalan Islam dan menggenggamnya dengan erat. Ia berhasil mendapatkan isinya dan merasakan kenikmatannya. Ia berubah menjadi dai yang mengajak kepada kebaikan serta mengingatkan dari kejahatan. Ia yakin bahwa jalan keselamatan hanyalah jalan para Rasul. Jalan yang harus ditiru adalah jalan orang-orang pilihan. Mengisi hidup dengan ketaatan adalah sebuah kewajiban. Karena dunia adalah negeri persinggahan.

Ia pernah berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku petunjuk dan memasukkanku ke dalam agama Islam sebelum aku meninggal dunia. Memuliakanku dengan menjadi sahabat Rasul-Nya, dan menjadikanku dikenang orang-orang di generasi mendatang.”

%d bloggers like this: