Menghilangkan Ketakutan, Mendatangkan Kemenangan

Tauhid Rububiyah
أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ كَانَ إِذَا خَافَ قَوْمًا قَالَ : اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ .

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila khawatir dari suatu kaum beliau berdoa: “ALLAHUMMA INNAA NAJ’ALUKA FII NUHUURIHIM WANA’UUDZU BIKA MIN SYURUURIHIM” (Ya Allah, sesungguhnya Kami menjadikanMu di leher-leher mereka (yaitu menghadapi mereka) dan Kami berlindung denganMu dari kejahatan dan keburukan-keburukan mereka). (HR. Abu Daud)
Aman merupakan nikmat dari berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada Hamba-hambaNya, dan keamanan ini termasuk cobaan, yang dengannya Allah hendak menguji, apakah manusia bisa bersyukur kepadaNya atau mengingkarinya?.
Sebaliknya ketakutan dan tidak merasa aman merupakan keadaan-keaadaan yang akan dijumpai manusia, dan tentunya kita semua sudah memahami bahwa ini adalah cobaan yang diberikan Allah kepada kita, apakah kita akan kembali kepadaNya atau menjauh dariNYa.

Allah berfirman dalam surat al Baqarah ayat 155 :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,..
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya bila kita menghadapi hal ini, merasa takut dari suatu kaum dan tidak aman dari gangguan dan kejahatan musuh.
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Qois, Abu Musa al Asy’ari radiallahu’anhu bahwa ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam takut atau khawatir dari suatu kaum maka beliau berdoa, “ALLAHUMMA INNAA NAJ’ALUKA FII NUHUURIHIM WANA’UUDZU BIKA MIN SYURUURIHIM” (Ya Allah, sesungguhnya Kami menjadikanMu di leher-leher mereka (yaitu menghadapi mereka) dan Kami berlindung denganMu dari kejahatan dan keburukan-keburukan mereka).

Apakah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam boleh merasa takut kepada suatu kaum yang mereka itu adalah musuh Allah?, padahal beliau dikuatkan Allah dan ditolong dengan malaikat-malaikatNya. Ulama madzhab hanafi, Badruddin al ‘Aini menjawab ketika mensyarah hadits ini (Syarh Sunan Abi Daud, 5/447), bahwa takut merupakan tabiat manusia yang ada pada diri Rasulullah yang tentunya beliau tidak lari kebelakang dalam menghadapi rintangan.

Atau bisa jadi ketakutan beliau adalah ketakutan akan keadaan sahabat-sahabatnya, atau makna yang terakhir adalah bahwa ini merupakan pengajaran Nabi kepada umatnya bila menghadapi keadaan tidak aman dari suatu kaum, maka berdoalah kepada Allah dengan doa ini.

Seorang mukmin yang kuat imannya menyakini bahwasanya tiada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan Allah, seberapa hebat dan dahsyat kekuatan manusia, meskipun semua kekuatan manusia dan jin dikumpulkan menjadi satu, maka tetap tidak bisa menyamai apalagi mengalahkan kekuatan Allah Azza wa Jalla. Lisan seorang mukmin ketika mendoakan doa ini membenarkan apa yang ada dalam qalbunya, menyelaraskan dengan dzikir yang lain yang telah dilaziminya, la haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan kecuali datangnya dari Allah saja.

Perhatikan kalimat Naj’aluka fii nuhuurihim, kami menjadikanMu wahai Allah dihadapan leher/dada mereka. Kalimat yang syarat dengan ketauhidan, yaitu Bersandar penuh kepada Allah dan tidak merasa sombong dengan kekuatan yang dimilikinya. Menjadikan Allah sebagai pemisah antara dirinya dengan musuh-musuhnya, sehingga setiap usaha musuh untuk melumpuhkan dan mematikan tidak akan sampai kepadanya.
Kami meminta kepadaMu ya Allah agar Engkau menghadapi mereka (setelah berikhtiyar dengan menghadang mereka dari depan dan tidak berlari kebelakang) dan memberikan kepada mereka apa yang pantas mereka terima dari adzab dan kekalahan. Dan Tolonglah kami wahai Allah dari keburukan-keburukan yang mereka timpakan.

Berlindung kepada Allah dari keburukan musuh juga pertanda kebenaran iman seorang mukmin, Wana’uudzu Bika Min Syuruurihim. karena hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan kita dari keburukan musuh ataupun keburukan diri kita sendiri. Dengan doa ini, seorang muslim mencukupkan bagi dirinya perlindungan dari Allah Ta’ala saja, dan tidak berharap dan meminta perlindungan selain dariNya.

Di istihbabkan pula ketika dalam situasi yang menakutkan untuk mengucap, “hasbunallah wa ni’mal wakiil,” Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Sebagaimana disebutkan oleh imam Bukhari Rahimahullah dalam shahihnya dari sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, beliau berkata :

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah ucapan Nabi Ibrahim Alaihis Salam ketika di lemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang kafir berkata; “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari)

Inilah yang wajib kita hadirkan ketika rasa takut datang, yaitu melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan berdoa kepadaNya, tidak malah lalai dan lupa kepadaNya yang berarti menjauh dariNya. Dan tidak malah bergantung kepada makhluk dan benda-benda yang diyakini bisa memberikan keselamatan yang berarti berharap kepada selaiNya.
Untuk quote :
Syaikhul islam berkata, “Takut yang terpuji adalah, apabila ia mencegah dan menjauhkanmu dari apa-apa yang diharamkan Allah.” (Madarijus Salikin, 1/514)

%d bloggers like this: