Nikmat Beribadah Bersama Keluarga

Nikmat Beribadah Bersama Keluarga

Sebagai pemimpin keluarga, kita harus tahu bahwa pondasi sakinah di dalam keluarga adalah ketaatan kepada Allah. Sebagaimana Imam Hasan al-Bashri pernah berkata, “Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menentramkan hati seorang muslim, melebihi saat dia melihat orang tua, anak, pasangan atau saudaranya, menjadi hamba-hamba yang taat kepada Allah.” Sehingga selain membawa anggota keluarga menjadi manusia-manusia yang faham tentang agama Allah, membuat mereka mengerti bahwa ialah satu-satunya kebenaran yang mutlak, kita juga harus memastikan ketaatan itu hadir dalam keluarga sebagai bentuk aplikatif atas berbagai ilmu yang kita miliki.

Bukankah kita tidak menginginkan ilmu yang mandul, yang tidak membuahkan amal? Sebagaimana Rasulullah pernah berdoa, “Allahumma, sungguh hamba berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, serta dari doa yang tidak terkabulkan.” Maka kita ingin ilmu yang melahirkan rasa takut dan ikhlas kepada Allah, menjadi pijakan amal kebaikan, dan bukan sekedar menjadi sarana mencari dunia, ajang pamer, atau bahkan alat memanupulasi orang lain. Wa iyaadzu billah!

Di sisi lain, keberadaan kita sebagai makhluk hidup berkonsekuensi memunculkan aktivitas amal sebagai sebuah keniscayaan. Persoalannya adalah, apakah kita akan memilih membaguskannya sehingga bernilai ibadah dan menaikkan derajat kita di sisi Allah, atau sekedar beraktivitas kosong tanpa tujuan, atau bahkan memburukkannya sehingga nilai kita jatuh di sisi-Nya. Ini hanya soal pilihan dan tanggung jawab.

Maka, kepedulian kita akan kualitas ibadah anggota keluarga adalah buah dari tanggung jawab kepemimpinan dan keyakinan akan kebenaran Islam. Tidak mungkin kita rajin membawa anggota keluarga mendatangi berbagai majelis ilmu, namun kita memilih yang lain untuk diamalkan. Padahal tidak ada bentuk lain aplikasi ilmu kecuali ibadah itu sendiri.
Kebaikan itu adalah kebiasaan. Untuk itu, kita harus mengontrol ibadah anggota keluarga agar menjadi kebiasaan dan menjadi jalan menuju kebaikan. Agar ibadah menjadi cerminan kejujuran akidah, memberikan santapan jiwa dengan ruhnya, hingga upaya menyambut dan menumbuhkan fithrah tauhid yang menjadi bawaan alami manusia berjalan lancar. Karena siraman air ibadah dalam berbagai bentuk dan macamnya, insyaallah akan menumbuhkan akidah dengan kokohnya, sehingga kita tegar dalam menghadapi terpaan badai dan cobaan kehidupan.

Allah berfirman, “Perintahkanlah keluargamu agar mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, namun justru Kami-lah yang memberi rezki kepadamu, dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Thaha: 132.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ

“Perhatikanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Jika mereka telah berumur 10 tahun, namun mereka enggan, pukullah mereka.” (HR. Abu Daud no. 495. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwaul Gholil 298).

Dalam hal memerhatikan shalat malam istri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan dia membangunkan istrinya lalu si istri mengerjakan shalat. Bila istrinya enggan untuk bangun,dia percikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan dia membangunkan suami lalu si suami mengerjakan shalat. Bila suaminya enggan untuk bangun, dia percikkan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Daud no. 1450, An Nasai no. 1610, dan Ahmad 2: 250. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits hasan sebagaimana dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 625).
Nah, kalau mengontrol ibadah anggota keluarga saja kita enggan, apalagi menjalani kebersamaan dalam pelaksanaan ibadah itu. Banyak di antara kita yang jarang berkumpul dengan keluarga untuk menunaikan ibadah bersama-sama. Kita berangkat kerja di pagi buta dan pulang larut malam, atau lebih banyak menghabiskan waktu untuk berolah raga atau bercengkerama dengan teman-teman di pos ronda. Padahal memerhatikan ibadah anggota keluarga adalah kewajiban kita sebagai kepala rumah tangga, sebagai keseimbangan atas ketaatan dan pelayanan yang mereka berikan.

Maka selain berusaha menjalankan kewajiban ini sebaik-baiknya, kita juga harus membangun kerjasama dengan istri agar pengkondisian keluarga sebagai keluarga ibadah bisa berjalan dengan baik. Apalagi faktanya kita sering beraktivitas di luar rumah, hal yang seringkali menyebabkan kemampuan kontrol kita akan ibadahnya anggota berkurang.
Membangun kebersamaan ibadah, mengontrol pelaksanaannya, memilihkan lingkungan dan sekolah yang kondusif untuk ibadah, hingga komunikasi yang sehat antar sesama anggota keluarga harus kita upayakan semaksimal mungkin. Agar aktivitas dakwah kita tidak menjadi bumerang sebab anggota keluarga tidak tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Agar juga lezatnya ibadah hadir dalam keluarga kita. Semoga!

%d bloggers like this: