Simbol Keluarga Harmonis

Simbol Keluarga Harmonis

Keluarga harmonis adalah keluarga yang dibangun di atas pondasi takwa. Dalam ikatan itu, suami dan istri sama-sama menyatu demi mencapai satu tujuan, ridha Allah. Oleh karenanya, suami-istri perlu saling mendukung dan meneguhkan. Agar seiring bertambahnya umur pernikahan, semakin banyak prestasi kebaikan yang berhasil ditorehkan.

Hal itu pula yang diyakini oleh Ummu sulaim. Bahwa keluarga adalah kendaraan untuk menggapai ridha Allah dan jannah. Setelah mantap memeluk Islam, ia ajak sang suami, Malik bin Nadhar meninggalkan agama jahiliyah. Sayangnya, Malik enggan menjemput hidayah. “Apakah engkau murtad dari agama nenek moyangmu?” Tanyanya.

Ummu Sulaim menjawab, “Aku tidak murtad, tetapi aku telah beriman kepada Muhammad”.
Ummu Sulaim terus mengajak suaminya masuk Islam. Tapi Malik tetap keukeuh dalam kemusyrikan. Sebagai seorang ibu, ia ajarkan Islam kepada putranya, Anas bin Malik.
“Katakan, Laa Ilaha Illallah. Muhammad Rasulullah,” Ummu Sulaim menuntun Anas mengucap dua kalimat syahadat. Waktu itu Anas baru berusia 4 tahun.

Malik bin Nadhar tak suka jika Anas mengikuti keyakinan ibunya. Ia tegur sang istri dengan nada emosi, “Jangan Kau rusak anakku dengan perkataan seperti itu!”
“Aku tidak merusaknya,” jawab Ummu Sulaim menenangkan.
Suasana rumah membuat Malik bin Nadhar tidak nyaman. Tak ingin terus bertengkar, Malik meninggalkan rumah dan mengasingkan diri ke Syam. Keputusan berakibat fatal. Dalam perjalanan, Malik berpapasan dengan musuhnya. Keduanya terlibat duel berdarah yang berujung pada kematian.

Pasca kematian sang suami, Ummu Sulaim hanya bisa pasrah. Harapannya agar sang suami beroleh hidayah tak pernah terwujud. Harapan satu-satunya ada pada Anas bin Malik. Karena itu, ia bertekad tidak menikah dahulu dan mencurahkan semua kasih sayang serta perhatian kepada Anas.
Ummu Sulaim menginginkan putranya paham Islam. Setelah Anas yang berumur 10 tahun, Ummu Sulaim menitipkannya kepada Rasulullah. “Rasulullah, ini Anas yang siap melayanimu. Ia anak yang pandai menulis.”

Rasulullah menerima ‘titipan’ itu sambil mendoakannya agar beroleh berkah. “Ya Allah, perbanyaklah hartanya, berilah keberkahan umur kepadanya.” Kelak, Anas menjadi hartawan. Umurnya mencapai 125 tahun dan dikaruniai 125 anak.
Ketegaran ibunya membuat Anas bin Malik merasa berutang budi. Hal itu pernah ia ungkapkan dengan doa, “Semoga Allah membalas kebaikan ibuku yang telah merawatku dengan baik.”
Setelah lama hidup ‘sendiri’, seorang pria kaya Madinah bernama Zaid bin Sahl bermaksud mempersunting Ummu Sulaim. Orang-orang Madinah memanggilnya dengan Abu Thalhah. Hanya ada satu permasalahan waktu itu, Abu Thalhah masih musyrik.
“Aku datang ke sini untuk melamarmu. Kuharap engkau mau menjadi istriku, Ummu Sulaim,” kata Abu Thalhah.
“Sebenarnya aku ingin menjadi istrimu. Lamaran dari orang seperti Anda tidak bisa ditolak. Tapi Anda adalah orang musyrik. Sedangkan aku seorang muslimah,” jawab shahabiyah yang bergelar ghumaisha’ tersebut.
Ummu Sulaim melanjutkan, “Jika engkau masuk Islam, aku terima lamaranmu. Akan kujadikan keislamanmu sebagai mahar. Aku tidak minta yang lain.”

Abu Thalhah bingung dan meminta waktu berpikir. Beberapa hari kemudian, ia datang untuk mengikrarkan syahadat. Ummu Sulaim menepati janjinya menerima pinangan Abu Thalhah.
“Anas, nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah.” Anas menjadi wali bagi Ibunya.
Pasangan baru tersebut lalu berikrar tuk berlomba dalam kebaikan. Ummu sulaim yang lebih awal masuk Islam mendorong suaminya banyak belajar. Seiring berjalannya waktu, Abu Thalhah menjelma menjadi pengikut Nabi yang loyal. Ia buktikan bahwa syahadat yang diucapkannya karena meyakini kebenaran Islam. Bukan semata-mata mempertahankan rumah tangganya bersama Ummu Sulaim.
Salah satu buktinya, ketika ayat ke-92 surat Ali Imran turun, Abu Thalhah segera mengamalkan perintah Allah tersebut. Ayat itu menitahkan berinfaq harta terbaik untuk menggapai kebaikan.

Abu Thalhah menyadari bahwa dirinya termasuk orang anshar yang paling banyak memiliki kebun kurma. Dari seluruh aset tersebut, ladang yang yang paling dicintainya adalah kebun Bairaha’. Lokasinya menghadap masjid Nabawi langsung. Rasulullah SAW kerap minum air dari sumur yang ada di dalamnya.
Abu Thalhah lalu menemui Rasulullah. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menurunkan ayat-Nya:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Qs. Ali Imran: 92)

Harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Kebun itu aku sedekahkan karena Allah. Aku mengharap itu akan menjadi kebajikan dan simpanan yang baik di sisi Allah. Wahai Rasulullah, aturlah sesuai dengan petunjuk Allah yang diberikan kepadamu.”
Rasulullah bersabda, “Bagus, sedekah itu adalah investasi yang menguntungkan. Itu adalah investasi yang menguntungkan. Aku telah paham apa yang kamu katakan tadi. Aku berpendapat, hendaklah engkau membagikan kebun itu kepada sanak kerabat.”
Pada kesempatan lain. Seorang tamu yang kelaparan menemui Rasulullah. Kala itu tak ada yang bisa dihidangkan sebagai jamuan. Rasulullah SAW lalu menawarkan kepada sahabat yang hadir, “Siapakah yang akan menjamu tamu ini? Semoga Allah merahmatinya.”
Abu Thalhah langsung menjawab, “Saya, Rasulullah.”

Abu Thalhah mengajak tamunya pulang. Sudah menjadi tradisi di masyarakat Arab, seorang tamu wajib dimuliakan.
“Apakah kamu memiliki makanan?” Tanyanya kepada Ummu Sulaim.
“Hanya ada makanan untuk anak-anak kita.”
Abu Thalhah berkata, “Berikanlah minuman kepada anak-anak lalu ajak tidur. Nanti apabila tamu masuk, saya akan berpura-pura ikut makan. Setelah makanan dihidangkan, matikanlah lampu.”

Abu Thalhah pura-pura makan. Sang tamu tak tahu apa yang sedang terjadi. Malam itu, keluarga Abu Thalhah tidur sambil menahan lapar demi menjamu tamu. Sebuah sikap itsar yang terpuji.

Esok harinya, Rasulullah menghibur mereka, “Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan kepada tamu kalian.”
Tak hanya itu, Allah menurunkan ayat yang memuji keluarga harmonis tersebut.
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (QS. Al-Hasyr: 9).
Wallahu A’lam.

%d bloggers like this: