Memuji dan MengagungkanNya

Memuji dan MengagungkanNya

Mendengar kata doa maka yang terbetik di kepala adalah permintaan. Namun ternyata tidak selalunya doa itu berisi permintaan. Pujian dan pengagungan yang ditujukan kepada Allah Azza wajalla juga termasuk doa. Kita simak Sabda Rasulullah berikut ini:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَ أَفْضَلَ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Dzikir yang paling afdhal adalah ‘Laa ilaaha illallah,’ dan seutama-utamanya doa adalah ‘Alhamdulillah.” (HR. Tirmidzi).

Kalimat alhamdulillah (segala pujian dan setiap pujian adalah haknya Allah) adalah sebaik-baik doa, padahal dalam kandungan maknanya tidak ada permintaan, tapi disebut oleh Rasulullah dengan ‘doa yang paling afdhal.’
Para ulama, diantaranya imam bukhari, memahami bahwa tsana atau pujian kepada Allah juga bisa disebut doa. Hal ini terlihat jelas dalam kitabnya shohihul jaami’. Beliau memberikan judul bab: ad du’au ‘indal karb (doa ketika menghadapi situasi yang menyusahkan dan memberatkan), haditsnya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa ketika dalam kesulitan yaitu: “Laa Ilaaha Illallahul ‘Azhiimul Haliim, Laa Ilaaha Illallah Robbul’arsyil ‘Azhiim, Laa Ilaaha Illallah Robbussamaawaati Warobbul Ardhi Warabbul’arsyil Kariimi” Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Yang Mahaagung dan Maha Penyantun. Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, Rab Penguasa arsy yang agung. Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, Rabnya langit dan bumi serta Rabnya arasy yang mulia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Apabila kita cermati tiap kata dalam doa tersebut, tidak kita jumpai adanya permintaan. Bahkan semuanya adalah pujian dan pengagungan kepada Allah azza wajalla. Dan ini disebut oleh para ulama sebagai doa.
Pujian dan pengagungan kepada Allah hanya keluar dari lisannya orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala. Contohnya adalah dalam Shalat yang kita dirikan, Rasulullah mengarahkan umatnya untuk banyak mengagungkan Allah dalam rukuk. Beliau bersabda:

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan rukuk atau sujud. Adapun rukuk maka agungkanlah Rabb azza wa jalla, sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu.” (HR. Muslim).

Diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah jika rukuk membaca :

اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ ، وَبِكَ آمَنْتُ ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِى وَبَصَرِى ، وَمُخِّى وَعِظَامِى وَعَصَبِى

“Allahumma Laka Raka’tu Wabika Aamantu Walaka Aslamtu Khasya’a Laka Sam’ii Wa Basharii Wa Mukhhii Wa ‘Idzaamii Wa ‘Ashabii (Ya Allah, kepada-Mu lah aku ruku’, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku tunduk, dan kepada-Mu lah pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulang belulangku, dan urat sarafku tunduk).”

Ketika manusia sedang rukuk, maka ia sedang mengagungkan sesuatu. Pujian dan pengagungan ini tidak boleh ditujukan kepada manusia yang lain, karena ini merupakan kesyirikan. Seorang muslim ketika sedang rukuk kepada Allah Ta’ala sedang merendahkan dan menghinakan dirinya dihadapan Rabnya, dan lisannya pun menunjukkan bahwa Allah lah yang berhak untuk diagungkan dan dipuji.
Hadits yang diriwayatkan sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu menunjukkan bahwa semua kata dalam doa rukuk adalah tsana kepada Allah dan pengagungan kepada-Nya. Fi’il (kata kerja) yang diakhrikan dalam kalimmat doa; laka raka’tu, menunjukkan kekhususan, yaitu khusus hanya kepada-Mu lah aku rukuk dan aku tidak akan rukuk kepada selain-Mu. Begitu juga dengan wabika aamantu, hanya kepadamulah aku beriman dan tidak akan beriman kepada selain-Mu, dan juga walaka aslamtu, hanya kepada-Mulah aku tunduk dan sepenuhnya menyerahkan diriku dan aku tidak akan tunduk kepada selain-Mu.

Kemudian secara khusus menyebutkan beberapa organ tubuh, yaitu Khasya’a Laka Sam’i Wa Bashari Wa Mukhhii Wa ‘Idzaamii Wa ‘Ashabii. Kata khusyu’ dari beberapa organ tubuh ini dimaksudkan adalah ketundukan dan kepatuhan.
Didahulukanya penyebutan indra pendengaran dan indra penglihatan serta tidak disebutkannya indra-indra yang lain, dikarenakan kedua indra ini sangat banyak melakukan amal, bahkan karena kuduanyalah manusia banyak mengalami kerugian dan kehancuran. Maka bila dua indra ini sudah bisa tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan Allah; mendengar yang haq dan berpaling dari mendengarkan yang batil; memandang yang halal dan berpaling dari pandangan yang haram, sedikitlah was-was yang akan masuk dan bersihlah apa yang ada di dalam batin.

Adapun pengkhususan dalam penyebutan otak, tulang dan syaraf dari seluruh bagian tubuh manusia dikarenakan akar dari tubuh manusia adalah otak kemudian tulang dan kemudian syaraf. Otaklah yang memerintahkan dan memegang kendali dari tulang, dan tulang tempat menempelnya syaraf sehingga bisa berfungsi dengan benar. Dan seluruh tubuh manusia akan baik dan benar bila otak, tulang dan syarafnya tunduk dan patuh kepadaNya. Dengan ibarat yang lain, bila telah benar batinnya maka akan benar pula dzahirnya, dan batin yang sehat dan selamat adalah batin yang terbebas dari kesyirikan dan kenifakan serta tertarbiyah dengan keikhlasan, ilmu dan hikmah.

Sudah sepantasnya seorang muslim memuji dan mengagungkan Rabnya ketika rukuk dengan pujian yang banyak, yaitu dengan pujian dan pengagungan yang diajarkan Rasulullah dalam bacaan-bacaan rukuknya. Yang dalam pujian dan pengagungan ini mengandung permintaan seorang hamba dan pengharapan kepada Rabnya akan keselamatan dan keberkahan bagi dirinya. Wallahua’lam bis shawab

%d bloggers like this: