Panjang Lehernya Diampuni Dosanya

Panjang Lehernya Diampuni Dosanya

 

Dr. Khalid bin Abdul Aziz Al Jubair, Sp.JP dalam buku ‘Kesaksian Seorang Dokter’ mengisahkan, “Dokter Jasim al-Haditsy, seorang penasehat jantung anak di ‘Amir Sulthan Center Untuk Penyakit Jantung’ Rumah Sakit Angkatan Bersenjata Riyadh, berkisah kepadaku, “Salah seorang rekanku yang bisa dipercaya bercerita bahwa suatu malam saat ia sedang bertugas di rumah sakit, ada seorang pasien yang meninggal dunia, maka ia segera memastikan akan kematian pasien tersebut, ia meletakkan stetoskop di atas dadanya hingga ia mendengarkan suara, ‘Allahu akbar, Allahu akbar, Asyhadu alla ilaha illallah…

Ia berkata, “Saya rasa adzan subuh”. Kemudian saya bertanya kepada perawatnya, “Jam berapa sekarang?” ia menjawab,”Jam satu malam.” Saya tahu bahwa saat ini belum tiba saatnya adzan subuh, kemudian saya kembali meletakkan stetoskop di atas dadanya dan saya kembali mendengarkan adzan tersebut selengkapnya. Saya bertanya kepada keluarga orang ini, tentang keadaanya semasa hidup, mereka menjelaskan, “Ia bekerja sebagai muadzin pada sebuah masjid, biasanya ia datang ke masjid seperempat jam sebelum tiba waktunya atau kadang lebih awal lagi, ia selalu mengkhatamkan Al Qur’an dalam tiga hari dan sangat menjaga lisannya dari kesalahan”.

Subhanallah, karena keistiqamahannya dalam menjalankan amal shaleh, Allah memberikan kemuliaan kepada sang muadzin ini saat meninggal dunia.
Jabatan Mulia
Banyak di antara kita yang masih meremehkan para muadzin. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai pekerjaan rendahan. Ketika seorang anak muadzin ditanya oleh temannya tentang kesibukan bapaknya, dengan malu-malu ia menjawab, “Cuma tukang adzan kok, sama bersih-bersih masjid.”

Sebenarnya menjadi muadzin adalah sebuah jabatan mulia dan mendulang bergunung-gunung pahala. Karena, adzan merupakan pemberitahuan kepada manusia bahwa waktu shalat telah tiba, sekaligus mengingatkan dan mengajak mereka yang tengah sibuk dengan pekerjaannya agar beristirahat sejenak memenuhi seruan Rabbnya, menunaikan shalat berjama’ah.
Wajar jika kelak para muadzin memiliki posisi terhormat karena amalan itu. Dan selayaknya manusia memandang bahwa menjadi muadzin adalah sebuah kemuliaan.

Kenapa mulia? Karena Allah swt saja kagum terhadap mereka.
“Rabb kalian kagum terhadap seorang pengembala kambing di sebuah puncak bukit yang mengumandangkan adzan. Maka Allah yang Maha perkasa lagi Maha mulia berfirman, ” Lihatlah hamba-Ku itu, dia mengumandangkan adzan dan iqamah karena merasa takut kepada-Ku. Sesungguhnya aku telah mengampuni hamba-Ku itu dan memasukannya ke surga.” (HR. Abu Daud )
Sehingga Rasul pun secara khusus mendoakan mereka.

اللهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ، وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ

“Ya Allah berikanlah bimbingan kepada para imam, dan ampunilah dosa para muadzin.” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)
Umar bin Al Khaththab ra pernah berangan bisa menjadi muadzin, “Andaikata saya mampu menjadi muadzin sekaligus memegang pemerintahan niscaya saya akan menjadi muadzin.”

Panjang lehernya
Sejatinya banyak fadhilah yang akan didapatkan oleh para muadzin, pengumandang adzan dan iqamah. Di hari kiamat nanti mereka akan dimuliakan karena lehernya yang panjang. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat nanti.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ath Thabrani)

Para ulama’ berbeda pendapat tentang makna ‘orang yang paling panjang lehernya’.
Menurut Yunus bin Ubaid, yang paling dekat dengan Allah. Ada yang berpendapat bahwa para muadzin akan menjadi para pemimpin, karena orang Arab biasa menyebut pemimpin sebagai orang yang paling panjang lehernya. Fudhail bin Iyadh menerangkan, para muadzin menjadi orang paling cepat dan dahulu memasuki surga.
Ada pula yang berpendapat bahwa leher mereka benar-benar panjang. An Nadhr bin Syamil berkata, “Pada hari kiamat manusia akan tenggelam oleh keringat mereka, sedangkan leher para muadzin menjadi panjang agar mereka terbebas dari kesusahan tersebut”
Kesaksian para pendengar

Cukuplah menjadi penyelamat dan penyejuk hati kita manakala semua orang bersaksi atas amal kebaikan kita di hadapan Allah. Kebahagiaan inilah yang akan Allah sematkan pada para muadzin. Semua makhluk yang mendengar adzan akan menjadi saksi bagi mereka pada hari kiamat.

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, dia berkata kepada seorang laki-laki:
“Aku perhatikan kamu ini orang yang suka menggembala dan berkelana, maka jika kamu sedang menggembala kambingmu atau sedang berkelana dan engkau ingin menyeru manusia agar melaksanakan shalat, keraskan suaramu ketika mengumandangkan adzan. Karena sesungguhnya semua yang mendengarkan adzan, baik dari golongan jin, manusia dan apa pun, mereka akan menjadi saksi bagi si muadzin ada hari kiamat nanti. Abu Sa’id berkata: Aku mendengar hal ini dari Rasulullah saw.” (HR. Al Bukhari)

Hapus dosa sepanjang suara
Para muadzin akan diampuni dosanya sepanjang suaranya dan semua yang mendengarkan adzan di bumi akan memintakan ampunan baginya.
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda:
“Bagi muadzin akan diampuni dosanya sejauh jangkauan suaranya, dan akan memohonkan ampun baginya semua benda yang basah dan kering. “ (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)

Maksud ‘dosanya akan diampuni sejauh jangkauan suaranya’ pada hadits di atas adalah, seandainya dari tempat ia berdiri untuk mengumandangkan adzan hingga ujung terjauh dari suaranya terdapat dosa dan kesalahan, niscaya Allah akan mengampuni semuanya.
Muaranya Surga

Kesabaran seorang muadzin untuk selalu menyeru manusia menuju Allah bukanlah hal yang ringan. Jadi pantasnyalah jika Allah mengganjar surga bagi mereka. Nabi saw bersabda:
“Barang siapa mengumandangkan adzan selama dua belas tahun maka wajib baginya mendapatkan surga, dan dengan adzannya itu dicatat baginya setiap hari enam puluh kebaikan, dan setiap iqamah yang dia lakukan dia mendapatkan tiga puluh kebaikan.” (HR. Ibnu Majah, Al Baihaqi, Ath Thabarani dan Al Baghawi. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Subhanallah, alangkah bahagianya para muadzin dengan guyuran fadhilah yang akan didapatkannya. Jika muaranya adalah surga maka tak sepantasnya lagi mereka merasa hina dengan tugas yang mulia ini. (abu hanan)

%d bloggers like this: