Telinga Berdenging, Dipanggil Nabi Shallallahu alaihi Wasallam?

Telinga Berdenging, Dipanggil Nabi Shallallahu alaihi Wasallam?

Beberapa kali penulis mendapat kiriman ‘menarik’ di Black Berry Massanger (BBM), Whats App maupun Facebook. Begini isi kiriman tersebut,

“TELINGA BERDENGING” Adalah Panggilan Baginda Nabi MUHAMMAD Sholallohu Alaihi Wasallam
Bismillah… Banyak orang bertanya kenapa terkadang telinga bersuara “Nging” ? Apa sebab musababnya, karena musababnya ada yang mengatakan dengan tidak berpedoman, bertahayul dan sangkaan jelek terhadap hal itu?
Sesungguhnya suara “NGING” dalam telinga, itu ialah Sayyidina Rosululloh Saw sedang menyebut orang yang telinganya bersuara “NGING” dalam perkumpulan yang tertinggi (malail a’laa) dan supaya ia ingat pada sayyidina rosululloh Saw dan membaca sholawat.
Hal ini berdasarkan keterangan dari kitab ( AZIZI ‘ALA JAMI’USH SHAGHIR)

“Jika telinga salah seorang kalian berdengung(nging) maka hendaklah ia mengingat aku (Sayyidina Rosululloh Saw) dan membaca sholawat kepadaku.Serta mengucapkan “DZAKARALLOHU MAN DZAKARONII BIKHOIR”; (artinya, Alloh ta’ala akan mengingat yang mengingatku dengan kebaikan)”.

Demikian isi pesan tulisan tersebut. Pertanyaannya, bolehkah riwayat tersebut dijadikan sandaran dalam berkeyakinan dan beribadah?

Keabsahan Riwayat

Riwayat yang dimaksud adalah,

إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ ، وَلْيَقُلْ : ذَكَرَ اللَّهُ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ

”Apabila telinga kalian berdenging, hendaklah dia mengingatku, dan membaca shalawat untukku, dan hendaknya dia mengucapkan, ’Semoga Allah mengingat orang yang mengingatkan dengan mendoakan kebaikan.”

Andaikan diasumsikan bahwa riwayat tersebut shahih, sebenarnya tidak ada keterangan bahwa telinga berdenging adalah tanda panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut hanya berisi anjuran untuk membaca shalawat ketika telinga berdenging. Karena itu, tambahan kesimpulan bahwa denging telinga adalah panggilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas mengada-ada, tak ada landasan untuk meyakininya.

Riwayat tersebut mengandung konsekuensi keyakinan, sekaligus amal ibadah; keyakinan bahwa denging telinga adalah panggilan Nabi, dan amal ibadah yang berupa dzikir khusus.Sehingga keabsahannya harus dipastikan sebagai dalil yang mu’tamad (bisa dijadikan sandaran).

Seperti yang disebutkan dalam postingan di atas bahwa riwayat di atas disebutkan oleh al-Azizi dalam as-Siraj al-Munir atau yang dikenal dengan Azizi ‘Ala Jami’ush Shaghir. Yang perlu digarisbawahi adalah, tidak setiap riwayat yang terdapat dalam sebuah kitab (meskipun kitab hadits) itu otomatis dianggap shahih. Karena tidak semua ulama hadits membatasi hadits-hadist shahih saja yang dinukil di dalamnya. Termasuk riwayat ini, ternyata banyak disangkal keabsahannya oleh para ulama hadits. Memang Ibnu Khuzaimah menyebutkan juga riwayat ini dalam shahih Ibnu Huzaimah, akan tetapi tentang keshahihannya dinilai mengherankan oleh as-Sakhawi.

Ibnu ‘Alan dalam al-Futuhaat ar-Rabbaniyah menyatakan, “wa sanaduhu dha’if.” Bahkan al-Uqaily menyatakan, “la ashla lahu”, riwayat ini tidak ada asalnya. Sementara Muhammad bin Ubaidillah yang merupakan satu di antara jalur riwayat tersebut dinyatakan Imam Bukhari sebagai “munkarul hadits.” Seperti yang disebutkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ad-Dhaifah.
Al-Bukhari mengatakan, “Ma’mar wa Abuuhu kilaahuma munkarul hadits.” Ma’mar dan bapaknya, keduanya adalah munkarul hadis.” (al-Laali’ al-Mashnu’ah fi Ahaadits maudhu’ah). Sementara ad-Daruquthni menyebut Muhammad bin Ubaidillah dengan ‘Matruk’, yang ditinggalkan riwayatnya.
Intinya, riwayat ini tidak memenuhi syarat sebagai hadits yang maqbul sehingga tidak bisa dijadikan sebagai acuan.

Bertentangan dengan Kenyataan
Adapun secara matan (konten) riwayat tersebut juga terdapat kejanggalan. Faktanya, telinga berdenging tak hanya dialami oleh orang muslim saja, tapi juga orang-orang kafir. Maka mungkinkah Nabi memanggil mereka dan mengingatkan mereka untuk bershalawat?
Bahkan dunia kedokteran menyebutnya sebagai gangguan pendengaran yang disebut Tinnitus.

Mc Fadden,1962, mengungkapkan bahwa Tinnitus merupakan sebuah gejala telinga berdengung yang dialami seseorang dalam keadaan sadar. Hampir semua orang pernah mengalami masalah yang satu ini.

Penyakit ini terjadi banyak sekali di Negara bagian Amerika Serikat dan mayoritas diderita oleh 10% dari penduduk umum di wilayah tersebut.
Ringkasnya, tak ada dalil sedikitpun bahwa telinga berdenging itu adalah tanda bahwa Nabi shallallahu memanggilnya. Adapun riwayat tentang perintah bershalawat saat telinga berdenging juga tidak shahih secara sanad, dan janggal dari sisi matan. Sebagai bentuk kehati-hatian, hendaknya tidak menyebarkan riwayat tersebut kecuali disertai penjelasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَدّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يُــرَي أَنّه كَذِبٌ فَهو أَحَدُ الكَاذِبِين

“Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku, sementara terlihat kedustaan (dalam riwayat itu) maka dia termasuk salah satu pembohong.” (HR Muslim)

Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin menjelaskan hadits ini, “Setiap orang yang ragu terhadap hadits yang dia riwayatkan, apakah hadits tersebut shahih ataukah dhaif, masuk dalam ancaman hadis ini.” Wallahu a’lam bishawab.

%d bloggers like this: