Hak Ahlulbait

Hak Ahlulbait
وَمَنْ أَحْسَنَ الْقَوْلَ فِيْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَزْوَاجِهِ الطَّاهِرَاتِ مِنْ كُلِّ دَنَسٍ وَذُرِّيَّاتِهِ الْمُقَدَّسِيْنَ مِنْ كُلِّ رِجْسٍ فَقَدْ بَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

(107) Barangsiapa yang berkata-kata dengan baik tentang para sahabat Rasulullah saw, istri-istri beliau yang suci dari perbuatan nista, dan keturunan beliau yang disucikan dari segala najis (ruhani), maka ia telah terbebas dari kemunafikan.

Setelah membahas kewajiban terhadap para sahabat Nabi secara umum dan beberapa orang sahabat secara khusus, tiba giliran pembahasan yang lebih khusus lagi, yakni tentang kewajiban terhadap Ahlulbait Nabi. Sebagai golongan yang berusaha untuk senantiasa berkomitmen tinggi kepada pesan-pesan Nabi, Ahlussunnah wal Jamaah mencintai Ahlulbait Nabi dan menghormati mereka. Cinta dan penghormatan yang proporsional. Tidak berlebih-lebihan, pun tidak asal-asalan.
Pondasi cinta dan penghormatan Ahlussunnah kepada Ahlulbait adalah hadits Zaid bin Arqam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, juga hadits-hadits lain. Zaid bin Arqam ra mengabarkan bahwa dalam perjalanan dari Mekah sepulang dari haji Wada’ menuju ke Madinah, Nabi saw singgah di suatu tempat yang bernama Khum. Di daerah itu terdapat ghadir (daerah bermata air dan banyak ditumbuhi pepohonan). Beliau dan para sahabat bermukim di situ selama sehari atau beberapa hari. Di sana Rasulullah saw berkhutbah dan berwasiat. Beliau menyebut tentang sudah dekatnya ajal beliau. Kemudian beliau berpesan agar kaum muslimin berpegang teguh kepada Kitab Allah dan menjaga hak-hak Ahlulbait, menghormati mereka, dan mengikuti nasihat-nasihat mereka.

Cinta Palsu Syi’ah
Orang-orang Syi’ah Rafidhah selalu berkata, “Kami mencintai Ahlulbait. Apakah kalian—wahai Ahlussunnah—membenci kami karena kami mencintai mereka? Kenapa mencintai dan memberikan loyalitas kepada Ahlulbait menjadi suatu dosa?”
Pernyataan dan pertanyaan Syi’ah Rafidhah di atas berselubung kedustaan dan kepalsuan. Syi’ah Rafidhah berdusta. Ahlulbait Rasulullah saw bukan hanya ‘Ali bin Abu Thalib, Fathimah az-Zahra`, Hasan, dan Husein serta keturunan Hasan dan Husein saja. Istri-istri Rasulullah saw termasuk Ahlulbait. Termasuk juga, paman beliau ‘Abbas dan anak-cucu beliau. Juga, semua kerabat Rasulullah saw yakni Bani Hasyim. Bahkan termasuk semua anak-cucu Abu Lahab dan Abu Thalib—meskipun keduanya kafir, tetapi anak-cucu mereka yang beriman adalah Ahlulbait.

Lebih dari itu, Syi’ah Rafidhah tidak mengakui putri-putri Rasulullah saw yang lain sebagai Ahlulbait. Zainab putri Nabi yang diperistri oleh Abul ‘Ash adalah Ahlulbait. Demikian pula halnya dengan Ruqayyah dan Ummu Kultsum—kedua kakak beradik putri Rasulullah saw ini dipersunting ‘Utsman bin ‘Affan setelah sang kakak menghadap ke haribaan Allah terlebih dahulu.
Bagi Ahlussunnah, hak sahabat, hak Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi), dan seluruh Ahlulbait Rasulullah saw adalah wajib diridhai, dicintai, diakui hak-hak mereka, dan diakui keutamaan mereka.

Syi’ah Rafidhah mengajarkan cinta palsu. Cinta yang tidak murni. Cinta yang bersyarat—hal mana syarat itu mereka ada-adakan. Syi’ah Rafidhah menjadikan cacian dan kebencian kepada sebagian Ahlulbait dan hampir seluruh sahabat sebagai syarat sah cinta kepada Ahlulbait versi mereka. Padahal, Nabi saw sendiri tidak pernah mensyaratkan yang seperti itu. Berbeda dengan Ahlussunnah. Mereka mencintai Rasulullah saw, mencintai Ahlulbait—seluruhnya sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah saw, serta mencintai para sahabat.

Kepada ‘Abdullah bin Hasan bin Husein—cucu Husein bin Ali—‘Umar bin ‘Abdul’aziz berkata, “Jika engkau ada kebutuhan, maka tulislah surat kepadaku. Sungguh, aku malu kepada Allah bila Dia melihatmu berdiri di depan pintu rumahku. Tidak ada di muka bumi ini keluarga yang lebih aku cintai daripada kalian. Sungguh, kalian lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri.”
Muhammad bin al-Husein bin ‘Abdullah al-Baghdadiy al-Ajurriy (419 H) berkata, “Diwajibkan atas setiap mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan mencintai Ahlulbait Rasulullah saw; yaitu Bani Hasyim, Ali bin Abu Thalib beserta anak-cucunya, Fathimah beserta anak-cucunya, Hasan dan Husein beserta anak-cucu keduanya, Ja’far ath-Thayyar beserta anak-cucunya, Hamzah beserta anak-cucunya, dan ‘Abbas beserta anak-cucunya. Diwajibkan atas orang-orang muslim mencintai dan memuliakan mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata, “Di antara pokok-pokok aqidah Ahlussunnah bahwa sesungguhnya mereka mencintai Ahlulbait Rasulullah saw dan berwala` kepada mereka serta menjaga benar wasiat Rasulullah saw ketika ia bersabda pada hari Ghadir Khum, ‘Aku ingatkan kalian pada Allah tentang hak-hak Ahlulbaitku.’.”

Ahlulbait Rasulullah
Ahlulbait Rasulullah saw adalah mereka yang diharamkan menerima sedekah/zakat. Hal ini dikabarkan sendiri oleh Rasulullah saw dalam sabda beliau, “Sesungguhnya sedekah/zakat itu adalah kotoran manusia dan sesungguhnya ia tidak halal bagi Muhammad dan tidak halal pula bagi keluarga Muhammad.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas dan dalil-dalil yang lain, para ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlulbait Rasulullah saw adalah para istri dan keturunan beliau serta siapa saja yang beriman dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muththallib. Imam Muslim, perawi hadits di atas, mencantumkan hadits tersebut pada bab: Haramnya Zakat untuk Rasulullah saw dan Keluarga Beliau yakni Bani Hasyim dan Bani Muththalib, Tidak Diharamkan kepada Selain Mereka.

Dalil masuknya istri-istri Rasulullah saw sebagai bagian dari Ahlulbait adalah firman Allah,
“Hai istri-istri Nabi! Kalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 32-33)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa konteks ayat tersebut secara tegas memasukkan istri-istri Nabi ke dalam bagian Ahlulbait. Merekalah yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut. Dan penyebab turunnya suatu ayat sudah pasti termasuk dalam kandungan ayat, menurut kesepakatan ulama. Apalagi sesudahnya Allah berfirman, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (al-Ahzab: 34)

Makna dari ayat di atas adalah, hendaklah kalian, wahai istri-istri Nabi, mengamalkan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah saw di rumah kalian yaitu ayat-ayat al-Qur`an dan Sunnah beliau. Para istri Nabi adalah penghuni rumah Nabi. Ahlulbait Nabi.

Menafsirkan firman Allah yang tertera pada surat Hud: 73, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr al-Anshari al-Qurthubiy (w. 671 H) berkata, “Ayat ini memberi penjelasan bahwa istri seseorang termasuk bagian dari Ahlulbaitnya. Hal ini menunjukkan bahwa istri para Nabi adalah bagian dari keluarganya. Maka, ‘Aisyah dan lainnya termasuk Ahlulbait Nabi, yakni termasuk mereka yang disebutkan Allah dalam firman-Nya, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.’.”

Cinta Pembebas dari Kemunafikan
Di akhir matan ini Abu Ja’far ath-Thahawiy menyatakan, “maka ia telah terbebas dari kemunafikan.”
Para pensyarah matan akidah beliau menjelaskan bahwa siapa yang di hatinya ada kecintaan kepada para sahabat, ummahatul mukminin, dan Ahlulbait, maka ia telah terbebas dari kemunafikan. Yang demikian itu dikarenakan kelompok Syi’ah Rafidhah yang membenci para sahabat, ummahatul mukminin, dan sebagian Ahlulbait diidekan oleh seorang munafik zindiq yang ingin merusak Islam. Orang itu adalah ‘Abdullah bin Saba`. Apa yang dilakukan oleh ‘Abdullah bin Saba` seperti yang dilakukan oleh Paulus terhadap agama Kristen.

‘Abdullah bin Saba` berpura-pura masuk Islam. Lalu ia menampakkan amar makruf nahyi mungkar, sampai akhirnya ia melancarkan aksinya saat ia berusaha untuk memfitnah dan membunuh ‘Utsman. Dan pada saat ‘Ali bin Abu Thalib masuk ke Kufah, Abdullah bin Saba` menampakkan sikap ghuluwnya terhadap ‘Ali.
Semoga kita dijaga oleh Allah dari fitnah ‘Abdullah bin Saba` dan orang-orang yang semacamnya.

%d bloggers like this: