Harta Karun Yang Hakiki Nan Abadi

Harta Karun Yang Hakiki Nan Abadi
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْس أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ

Dari Syaddad bin Aus bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam didalam shalatnya berdoa: “Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam menghadapi semua urusan, dan tekad yang kuat dalam mencari kebenaran, aku memohon kepada-Mu untuk senantiasa mensyukuri nikmatMu, aku memohon kepadaMu hati yang selamat, lisan yang senantiasa jujur, aku memohon kepadaMu dari kebaikan yang Engkau ketahui dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang Engkau ketahui, aku memohon ampunMu terhadap segala kesalahan yang Engkau ketahui.” (HR. Nasai)

Lebih Kekal Dan Lebih Baik daripada Harta Karun
Kenikmatan besar yang diberikan Allah kepada hamba adalah senantiasa ingat dan kembali kepadaNya, hal ini tercemin pada lisan seorang hamba yang bermunajat kepadaNya di setiap permasalahan yang menimpa. Baik dengan kenikmatan yang diterima ataupun musibah yang menerpa. Dua duanya (kenikmatan dan musibah) adalah ujian dan masalah bagi seorang hamba, ia perlu memohon kepada Allah untuk bisa selamat dan lolos dari ujian tersebut.

Agar teguh dalam menghadapi setiap permasalahan tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah mengajarkan doa kepada sahabat Aus bin Syadad Radhiallahu’anhu. sebelum mengajarkannya –karena kemulian dan keafdholannya-, beliau bersabda : “Jika engkau melihat manusia menyimpan dan menimbun -sebagai harta karun- emas dan perak maka simpan dan timbunlah kalimat-kalimat (doa) ini,…”(HR. Ahmad). Menunjukkan betapa lebih berharganya doa ini ketimbang emas dan perak yang dikumpulkan di dunia. Dalam riwayat Nasai disebutkan, beliau memanjatkan doa ini dalam suatu ibadah yang mulia, yaitu sholat. Yang kalau kita perhatikan gramatikalnya, “kaana yaqulu fii sholatihi”(senantiasa didokan di dalam sholatnya) menunjukkan perbuatan yang kontinyu dan terus menerus. Hal ini dilakukan karena kemanfaatannya yang abadi, tidak terputus di dunia dan di akhirat, hal ini semisal dengan firman Allah Ta’ala :

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al Kahfi: 46)
Syarah Doa

“Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam menghadapi semua urusan”
Permohonan yang umum yang meliputi segala urusan, baik perkara agama, dunia dan akhirat, mohon untuk diteguhkan pada kondisi apapun, dimanapun dan kapanpun. Keteguhan pada setiap perkara berarti, diberi ketepatan dan kebenaran dalam urusannya, kemudian bisa istiqomah diatasnya, dan yang terpenting adalah mendapatkan hidayah taufiq untuk bisa taat kepada Allah Ta’ala. Keistiqomah ini lebih dibutuhkan lagi ketika seorang hamba dalam keadaan sakaratul maut, kemudian ketika ditanya oleh dua malaikat di kubur dan ketika menyebrangi shiroth. Hal ini dikumpulkan dalam firmanNya :
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim: 27)

“Dan tekad yang kuat dalam mencari kebenaran”
Manusia terkadang sudah mengetahui kebenaran, namun bila tidak mempunyai kesungguhan hati dan kebulatan tekad untuk mengamalkan kebenaran tersebut, maka tiadalah berarti ilmu yang dimilikinya. Makanya seorang hamba butuh meminta pertolongan kepada Allah untuk bisa memiliki hati yang bertekad mengetahui kebenaran, inilah awal kebaikan. Sebagaimana orang kafir keluar dari kekafirannya menuju islam, atau keluarnya ahlu maksiat dari kemaksiatannya menuju taat kepada Allah Ta’ala.
Kemudian, tekad berikutnya adalah, memohon pertolongan kepada Allah untuk melanjutkannya dalam bentuk amal, dan terus menerus diatasnya. Berpindah dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik. Pertolongan Allah ini tergantung dari kuat dan lemahnya tekad seseorang terhadap kebaikan, bila kuat tekadnya, maka in syaallah dimudahkan dan ditolong serta diteguhkan diatasnya.

“Aku memohon kepada-Mu untuk senantiasa mensyukuri nikmat-Mu”
Memohon kepada Allah untuk diberi taufiq bisa bersyukur atas nikmatNya, yang hal ini membuahkan bertambahnya nikmat, tetapnya dan terus mendapatkannya. Kesyukuran adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. Hati dengan mengingat dan tidak melupakannya, Lisan dengan memuji dan memberitakan kenikmatan, adapun anggota badan dengan menggunakan nikmat untuk taat kepada Ar Razzaaq dan menghindari menggunakan nikmat dalam kemaksiatan kepadaNya.

“Aku memohon kepada-Mu hati yang selamat, lisan yang senantiasa jujur”
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy Syu’ara: 88-89). Hati yang selamat adalah hati yang bersih dari kesyirikan yang tampak maupun yang samar, dari dosa yang besar maupun kecil, dari riya’, ujub, curang, iri, dengki dan yang semisalnya. Jika telah selamat hatinya, maka yang tinggal di dalamnya hanyalah kecintaan kepada Rabnya.
Bila selamat hatinya maka selamat pula lisannya. Dan lisan yang senantiasa jujur adalah yang terhindar dari perkatan dusta dan ingkar janji. Inilah derajat pertama yang mengantarkan seorang hamba kepada maqam yang tinggi setelah kenabian, yaitu ash shiddiq. Rasul bersabda :

“Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)
“Aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang engkau ketahui dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang engkau ketahui”
Memohon segala kebaikan yang diketahui hamba dan yang tidak diketahuinya, oleh sebab itu disandarkan kepada Al ‘Aliim Tabaraka wata’ala, yang sangat luas ‘ilmuNya meliputi segala sesuatu. Begitu juga beristi’adzah dari keburukan yang diketahui Rabb Tabaraka wata’ala. ini adalah kesopanan dan adab hamba kepada Rabnya serta pengagungan, karena hanya Allah lah yang ‘ilmunya meliputi segala sesuatu.

“aku memohon ampun-Mu terhadap segala kesalahan yang engkau ketahui”
Inilah penutup amal shaleh, yaitu memohon ampun kepada Allah atas segala dosa, baik diwaktu lampau, sekarang maupun yang akan datang. Baik dosa yang tampak maupun yang tidak dirasakan seorang hamba sebagai dosa, atau dosa yang telah dilupakan dan tidak hadir ketika mengucapkan istighfar. Dan semua itu telah diketahui Rabb Tabaraka wata’ala dan dihitungNya.
Inilah harta karun yang seharusnya seorang muslim memperbayaknya, karena kebaikannya akan didapat didunia dan tidak akan terputus hingga akhirat. Waffaqakumullah..

%d bloggers like this: