Keshalihan Terhinakan

Keshalihan Terhinakan

 

Daya tarik dunia memang memukau. Iman yang lemah bisa berubah, dan yang kuat bisa terjerat. Setan memperdaya kita dengan angan-angan yang panjang. Dalam pengumpulannya, penimbunannya, juga kebakhilannya dari berbagi kepada sesama. Akhirnya kita menyibukkan diri dengan aneka rupa kelezatan dan lalai dari penyiapan bekal menuju kepulangan ke akhirat. Sehingga seluruh kerja kita adalah upaya menikmati dunia.

Namun ada juga tipu daya setan yang sangat lembut dan samar; mengajak kita menihilkan dunia dengan meninggalkannya sejauh mungkin. Hingga sekedar memiliki makan untuk sehari pun kita anggap berlebihan. Kita membanggakan agama dan keshalihan dalam ketidakmandirian kita mencukupi diri sendiri.

Bukan kemiskinannya yang salah, karena dalam bahasa iman, ia murni kuasa Allah. Namun keengganan kita dalam memenuhi hajat hidup, bahkan seringkali dalam hal-hal yang mubah dengan dalih akhiratlah yang menjadi sebab. Mengaku sibuk dengan ibadah, kemudian kehilangan tenaga untuk mencari maisyah. Dan ia adalah bisikan setan yang sangat berbahaya.

Sebab selain merupakan riya’ keshalihan, tidak sedikit di antara kita yang kemudian menjual kehormatan dan agamanya saat harus memenuhi kebutuhan hidup. Meluncur jatuh dan hancur lebur sebab meminta-minta kepada orang lain atas nama sikap zuhud. Menghiba-hiba dengan pameran keshalihan dan permakluman atas padatnya agenda peribadatan. Padahal, kedekatan kita dengan agama harusnya menjadikan kita hamba yang mulia, bukan sebaliknya.

Mari kita bedakan kemiskinan yang mulia dengan yang hina. Dari bagaimana ia kita peroleh; karena malas berusaha atau setelah kerja keras yang hasilnya tidak seberapa. Dari sikap yang menjaga kehormatan atau menghinakannya. Dari sikap sabar atau berkeluh kesahnya. Serta dari rela memberi meski saat susah atau malah meminta-minta meski belum sangat menderita.

Maka wajib bagi kita memenuhi kebutuhan dan bersabar saat dalam kekurangan. Agar tidak terjerumus dalam jebakan; mencari muka di hadapan penguasa, menipu diri di hadapan masyarakat ramai, atau menyibukkan diri dalam beribadah dengan dalih taqarub kepada Allah, kemudian lupa adanya tanggung jawab yang harus ditunaikan. Karena semua itu adalah kelemahan.

Kita harus bekerja sekuat tenaga mencari yang halal agar bisa memberi dan tidak diberi, mampu bersedakah dan bukan disedekahi, bagaimanapun nanti Allah menentukan hasilnya. Inilah sikap yang hebat dan kuat, mulia dan utama.
Agar kemiskinan ini tidak menghinakan.

%d bloggers like this: