Mengejar Dua Gunung Besar

Mengejar Dua Gunung Besar

“Kepada hadirin yang punya kelonggaran waktu, kami mohon untuk ikut mengantarkan jenazah hingga ke pemakaman yang terletak tidak jauh dari rumah duka. Namun seandainya ada kesibukan lain yang tidak bisa ditunda maka kami ucapkan terimakasih atas kehadiran dan doanya.” Itulah sepenggal kalimat yang biasanya disampaikan wakil keluarga si mayit ketika jenazah siap diantarkan ke makam.

Respon hadirin pun beragam. Ada yang tetap duduk-duduk di rumah duka, ada pula yang ikut mengantar si mayit sampai kuburan, namun biasanya kebanyakan mereka lebih memilih untuk pulang dengan berbagai alasan. Yang tetap setia mengantarkan ke kuburan kadang hanya segelintir orang seperti sanak saudara dan tetangga-tetangga dekatnya saja.
Dinul Islam menganjurkan umatnya untuk menghadiri pemakaman, baik kerabat, tetangga, kenalan, terlebih jika yang meninggal adalah anggota keluarga. Selain mendapat pahala, mengantar mayit sampai kuburan juga bertabur hikmah bagi siapa yang mau mengambil pelajaran darinya.

Pahala menghantar sampai kuburan
Dari Al-Barra’ bin Azib ra dia berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ وَنَصْرِ الضَّعِيفِ وَعَوْنِ الْمَظْلُومِ وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ

“Rasulullah memerintahkan kami dengan tujuh perkara yaitu: Menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong yang lemah, menolong orang yang terzalimi, menebarkan salam, dan menunaikan sumpah orang yang bersumpah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sebenarnya amalan sebagaimana tersebut dalam hadits di atas amatlah mudah dan ringan kita jalankan. Selain sebagai bentuk kepedulian kita kepada sesama muslim, berbagai amal shaleh tersebut memiliki pahala yang besar. Akan tetapi kadang karena ketidaktahuan, atau sudah tahu namun kalah dengan hawa nafsu lantas kita sering mengabaikannya.
Sekedar takziyah hingga menshalatkan mayit lantas pulang memang tetap mendapatkan pahala, namun jika mau melanjutkan mengantar ke kuburan pahalanya lebih besar.

مَنْ شَهِدَ اَلْجِنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ, وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ: وَمَا اَلْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ اَلْجَبَلَيْنِ اَلْعَظِيمَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ: ( حَتَّى تُوضعَ فِي اَللَّحْدِ)

Dari Abu Hurairah ra bersabda, “Barang siapa menghadiri jenazah sampai menyalatkannya maka baginya satu qirath dan barang siapa menghadiri jenazah sampai dimakamkan maka baginya dua qirath.” Seorang bertanya, “Apa itu dua qirath?” Beliau bersabda, “Dua gunung besar.” (Muttafaq Alaihi). Dan menurut riwayat Muslim, “Sampai diletakkan dalam liang lahat.”

Penjelasan tentang qirath ini berbeda-beda di dalam berbagai riwayat, di dalam riwayat Ibnu Sirin sebagaimana hadits ini dijelaskan “semisal uhud”, demikian juga didalam riwayat Walid bin Abdurrahman. Adapun pada hadits yang diriwayatkan Imam Nasa’i dari jalur As-Sya’bi “lebih besar dari pada gunung uhud,” juga pada riwayat Abu Shalih yang diriwayatkan Imam Muslim, “yang paling kecil dari keduanya (qirath) adalah semisal uhud,” dan dari jalur Ubay bin Ka’ab yang diriwayatkan Ibnu Majah, “lebih besar dari pada uhud.” Di dalam riwayat yang lain, “Wahai Rasulullah, apa itu dua qirath? Rasulullah menjawab, “Seperti dua buah gunung yang besar.”
Jadi, saat menghantar jenazah ke kuburan sejatinya kita sedang mengejar pahala, dua gunung yang besar.

Taburan hikmah saat mengantar jenazah
Kematian adalah rahasia Allah yang tidak ditampakkan kepada seorang pun di antara makhluknya. Kadang pagi hari masih sehat wal afiat namun sore harinya ruh sudah berpisah dari tubuhnya, badannya kaku dan sudah saatnya diantarkan menuju makam untuk dimasukkan dalam liang kuburan. Hendaknya para pengantar jenazah mengambil pelajaran berharga atas pengalamannya mengusung dan mengantarkan jenazah. Yaitu sebuah penggambaran bahwa dirinya suatu ketika akan menjadi yang diantarkan.
”Jenguklah orang sakit dan ikutilah penguburan jenazah karena itu akan mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar, dan Ibnu Hibban)

Selain hikmah di atas, Dr Muhammad Ali Al Hasyimi menerangkan bahwa anjuran menghadiri pemakaman berguna untuk menguatkan ikatan persaudaraan dan memperdalam rasa kesetiaan di antara mereka. Melalui keikutsertaan ini, lanjutnya, maka keluarga yang ditinggalkan juga akan merasa nyaman, terhibur, dan terbantu dalam menghadapi kehilangan anggota keluarga mereka dengan sabar dan ikhlas.

Memperhatikan adab
Hikmah dan pahala akan kita dapatkan dengan sempurna jika mau memperhatikan beberapa adab saat menghantar jenazah atau saat di pemakaman.
Apabila mayit itu orang shalih, hendaknya mempercepat langkah ketika mengusungnya. Dari Abi Said Al Khudhri ra bahwa Rasulullah bersabda, “Bila jenazah diangkat dan orang-orang mengusungnya di atas pundak, maka bila jenazah itu baik, dia berkata, “Percepatlah perjalananku.” Sebaliknya, bila jenazah itu tidak baik, dia akan berkata,”Celaka!, mau dibawa ke mana aku?” Semua makhluk mendengar suaranya kecuali manusia. Bila manusia mendengarnya, pasti pingsan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saat dalam perjalanan mengantar atau sudah tiba di pemakaman sering kita saksikan banyak orang yang bercanda, ngobrol membicarakan masalah dunia atau berlomba mengeraskan suara. Saat itu mestinya saat yang paling tepat untuk merenung dan memikirkan bekal apa yang sudah disiapkannya untuk perjalanan ke negeri akhirat. Abu Qilabah berkata, “Kami pernah menghadiri prosesi jenazah. Tiba-tiba ada tukang cerita yang menyampaikan cerita dengan suara keras. Lantas aku mengingatkan, ‘Para sahabat memuliakan jenazah dengan tenang (menghindarkan suara keras).’ (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Abu Qilabah adalah salah seorang ulama tabi’in. Dalam kasus di atas, beliau menceritakan kebiasaan di zaman sahabat yang pernah beliau jumpai untuk mengingatkan sikap buruk yang dilakukan oleh mereka yang tidak memahami kebiasaan baik para sahabat.
Selanjutnya usai pemakaman, hendaknya kita berdoa sekaligus memohonkan ampunan atas orang yang meninggal. Inilah yang senantiasa dilaksanakan Nabi saw sekaligus yang beliau perintahkan pula kepada para sahabat.
Utsman bin Affan ra meriwayatkan, “Ketika Nabi saw menyelesaikan pemakaman seseorang yang meninggal, beliau berdiri di atasnya dan bersabda,

اسْتَغْفِرُوا لأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ

“Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mohonkan untuknya agar diberi kemampuan untuk menjawab pertanyaan dari para malaikat, karena saat ini ia ditanya.” (HR. Abu Dawud).
Semoga dengan memperhatikan adab dalam bertakziyah, kita bisa mengambil hikmah dan Allah pun akan memberikan pahala-Nya yang melimpah.

%d bloggers like this: